Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 94


__ADS_3

" Aahh...sakit! Aku sudah tidak tahan. "


Diandra berteriak merasakan perutnya yang semakin mulas tak karuan. Aora yang tengah memangku kakak iparnya semakin panik, apalagi dia belum berpengalaman menangani wanita melahirkan.


" Pak cepat sedikit! Aku takut kakakku kenapa-napa! " pekik Aora tak kalah paniknya.


" Ba..baik Nona. " Pak sopir juga ikut gelisah. Niat hati ingin mengebut tapi apa daya jalanan macet sangat sulit untuk dihindari.


Lilian yang duduk dibangku depan ikut menengok ke kursi belakang. Dirinya juga khawatir sekaligus takut Diandra melahirkan didalam mobil. Apalagi Diandra kini tengah mengandung bayi kembar.


" Di, usahakan jangan panik ya. Coba kau tarik nafas dalam-dalam lalu buang perlahan. " saran Lilian cemas.


Diandra masih saja mengeluh kesakitan ditambah lagi punggungnya yang terasa begitu pegal sekarang. Disaat seperti ini ia teringat akan Raka, ia berharap bisa melahirkan dengan ditemani oleh suaminya.


***


Raka yang mendapat telepon dari Aora seketika panik mendengar istrinya kemungkinan akan melahirkan.


" Rapat hari ini dibatalkan. Kita tunda hingga waktu yang ditentukan. "


Seluruh anggota rapat kaget mendengar rapat yang dihentikan secara tiba-tiba. Mereka saling bertanya-tanya ada hal apa hingga rapat sepenting ini harus ditunda.


" Paman, aku harus segera pergi. Istriku sepertinya akan melahirkan." jelasnya pada Paman Felix.


" Baik, Tuan. "


Dengan terburu-buru Raka meninggalkan ruang rapat diikuti oleh Felix. Mereka berlari keluar gedung dan segera menuju bandara untuk menaiki pesawat pribadinya.


Hatinya benar-benar gelisah sekaligus takut. Ia tak menyangka Diandra akan melahirkan sebelum hari perkiraan lahir. Dia sangat ingin menemani istrinya saat sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka.


***


Mobil Diandra akhirnya tiba di rumah sakit. Para petugas kesehatan langsung sigap menolong wanita tersebut dan membawanya ke ruang bersalin.


Aora dan Lilian mengikuti para petugas yang membawa Diandra. Namun, bayi Lilian terus saja menangis. Aora merasa kasihan mungkin bayi itu lapar atau tidak nyaman akibat terjebak macet barusan.

__ADS_1


" Kak? Sebaiknya Kak Lilian pulang saja ke mansionku. Kasihan, sepertinya dia tidak nyaman dirumah sakit apalagi tempat ini memang kurang baik untuk bayi. " saran Lilian.


" Tapi? Bagaimana denganmu? Apa kau tidak masalah dirumah sakit sendiri? " Lilian sebenarnya tak enak hati namun dirinya juga serba salah takut mengganggu para keluarga pasien yang lain.


" Kak Lilian tenang saja. Nanti aku akan meminta kak Jo menemaniku."


Entah kenapa yang ada dipikiran Lilian hanyalah pria itu. Bukan tanpa alasan, tetapi kedua orang tuanya juga sekarang sedang ada diluar negeri.


" Baiklah. Maaf tidak bisa membantumu. Aku takut tangisan bayiku mengganggu yang lainnya. "


Lilianpun akhirnya pulang dengan ditemani sopir pribadi keluarganya. Aora segera mengirim pesan untuk Jonathan agar datang ke rumah sakit menemaninya.


" Kak Jo sayang. Tolong cepat datang ke rumah sakit Permata Bunda. Kak Diandra mau melahirkan, aku takut disini sendiri. Kak Raka masih diluar kota.😗 "


Tak lupa ia menyematkan emot sebuah ciuman dibelakang pesannya. Gadis itu cengar-cengir sendiri, wajahnya merona membayangkan jika dirinya mencium pria idolanya itu. Namun, ia kembali tersadar setelah salah satu perawat memanggilnya sebagai keluarga pasien.


***


Hampir satu jam Aora menemani Diandra di ruangannya. Kepalanya terasa pusing bercampur iba melihat kakak iparnya merintih merasakan mulas diperutnya.


" Sepertinya aku harus berpikir dua kali jika ingin memiliki anak. Tak kusangka melahirkan benar-benar menyakitkan. Mama, maafkan aku yang selalu saja membuatmu kesal. " batin Aora cemas.


" Ra? Apa kakakmu masih lama? " tanya Diandra menahan nyeri diperutnya.


Dokter menyatakan Diandra telah memasuki pembukaan ke tujuh. Jika dirinya masih kuat maka Dokter menyarankan untuk melahirkan secara normal. Akan tetapi, jika kondisi Diandra tidak memungkinkan, wanita itu akan menjalani operasi caesar setelah mendapat persetujuan keluarga.


" Apa kucoba hubungi kak Raka lagi? " sahut Aora panik. Sejujurnya diapun bingung harus berbuat apa, tetapi diam sajapun rasanya ia tak tega.


Diandra menganggukkan kepalanya pelan, perasaannya mengatakan jika twins dalam perutnya ingin lahir ditemani sang Papa.


Aora bergegas keluar dan mencoba menghubungi Raka kembali. Gadis itu mondar mandir tak jelas lantaran panggilannya sama sekali tak diangkat oleh kakaknya.


" Haduh.. Bagaimana ini? " gumamnya sembari mencoba tetap menghubungi Raka.


BRUUK...

__ADS_1


Tanpa ia sadari tubuhnya menabrak seseorang. Gadis itu hampir terjatuh bila saja Jonathan tak menangkapnya. Kini posisi wajahnya tepat berada didepan dada bidang Jonathan.


Netranya berbinar menyadari pria yang menangkap tubuhnya ternyata Jonathan. Tubuh pria itu nampak kekar dan kuat, perlahan jemari Aora meraba dada itu. Jantungnya berdegub tak karuan, ia begitu mengagumi ciptaan Tuhan yang mendekati sempurna dimatanya.


" Hei! Apa yang kalian lakukan?! "


" BUGH "


Netra Aora membulat sempurna melihat Jonathan jatuh tersungkur akibat bogem yang dilayangkan Raka.


" Kak Jo? "


Lilian ingin menolong, tetapi tubuhnya langsung ditarik oleh kakaknya.


" Sudah. Jangan dekat-dekat dengan pria brengsek sepertinya! " ketus Raka kesal. Kedua pria itu saling menghunuskan tatapan tajam.


Jonathan langsung berdiri, kini keduanya hampir terlibat perkelahian. Aora segera menengahi keduanya agar tidak terjadi baku hantam.


" Sudah hentikan! Kak Raka apa kau tidak ingat kakak ipar mau melahirkan! " pekik Aora berusaha mengingatkan.


" Astaga..Aku hampir lupa! "


Raka langsung masuk ke dalam ruang persalinan. Padahal, dirinya tadi begitu mencemaskan keadaan istrinya bahkan ia memilih berlari menuju rumah sakit dibandingkan harus menunggu mobilnya yang terjebak macet. Namun, semua menguar saat ia disajikan pemandangan adiknya dipeluk oleh Jonathan.


Aora membuang nafas lega, rasanya ia hampir mati berdiri menyaksikan ketegangan antara kakaknya dan Jonathan.


Sedangkan Jonathan masih menatap sinis pada Raka yang masuk ke ruang persalinan. Rasanya ia masih ingin membalas perbuatan rivalnya itu.


" Dasar gila! Adik dan Kakak sama gilanya! " umpatnya kesal.


" Kak Jo? "


" Apa! Jangan dekat-dekat padaku!" sentaknya pada Aora hingga membuat nyali gadis itu menciut.


Kini keduanya duduk di depan ruang persalinan secara berjauhan dan saling memunggungi. Sesekali Aora berusaha mencuri pandang, tapi langsung menunduk saat melihat pria itu memelototinya.

__ADS_1


" Ish..galak banget. Untung aku cinta. "


__ADS_2