Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 86


__ADS_3

Raka telah rapi pagi ini, wajahnya begitu cerah dan sesekali lelaki itu bersenandung bahagia. Bagaimana tidak senang? Semalaman bahkan berlanjut subuh tadi ia berhasil menggempur istrinya habis-habisan hingga membuat Diandra terkulai lemas sampai sekarang.


Lelaki itu melirik sang istri yang masih berselimut dan tentu saja belum memakai pakaiannya. Senyumnya mengembang saat mengingat kelakuan imut istrinya subuh tadi.


Sebenarnya Diandra telah membersihkan diri subuh tadi. Meskipun badannya seakan remuk akibat pergulatan semalam, tetapi rasa lengket ditubuhnya memaksa wanita itu untuk segera mandi.


Sehabis mandi, ia membujuk Raka agar mandi setelahnya. Namun, bukannya menurut lelaki itu malah menggerayangi dan menarik paksa dirinya agar melayaninya kembali.


Awalnya wajah Diandra nampak cemberut, tetapi dengan sedikit rangsangan wanita itu akhirnya mulai ikut terbakar gairah. Raka akhirnya berhasil menyelesaikan dua ronde lagi pagi tadi.


Raka mendekati ranjang dan duduk disebelah sang istri. Ia mengamati wajah Diandra yang nampak begitu cantik ketika sedang tidur begini.


Tangannya mulai terpancing untuk menyentuh sesuatu yang masih polos dibalik selimut. Namun, saat hendak menjamahnya, tiba-tiba tangan Diandra mencegahnya.


" Rupanya kau sudah bangun. " lelaki itu terkekeh geli melihat sang istri nampak kesal kepadanya.


" Jangan memulai atau besok-besok aku akan membuatmu berpuasa. " ancam Diandra yang bahkan sekarang untuk bangun saja tubuhnya seakan belum sanggup menopang.


" Baiklah. Kau beristirahatlah saja hari ini. Jika kau malas keluar aku akan meminta pelayan mengantarkan sarapan pagi kesini. Aku harus segera ke kantor sebab ada meeting penting pagi ini.


Diandra memang kesal karena sang suami terus menghajarnya semalam, tetapi wajahnya semakin lesu saat mendengar Raka akan berangkat kerja.


" Aku masih ingin bersamamu. " rajuknya menarik pria itu hingga hampir terbaring disebelahnya.


Raka semakin gemas pada Diandra, jika bukanlah sebuah meeting yang penting dirinya pasti memilih memeluk seharian istrinya di kamar.


" Jangan begini. Aku takut tak bisa menahan diri lagi jika kau menggodaku seperti ini."

__ADS_1


Netranya menatap sesuatu yang menyembul akibat Diandra menarik lengannya barusan.


Ditatap seperti itu membuat Diandra segera melepas lengan sang suami dan menarik selimutnya kembali.


" Cepat berangkatlah. " ia jamin dirinya akan pingsan jika pria itu mengungkungnya lagi.


Raka tertawa kecil, pria itu langsung mengecup puncak kepala dan bibir istrinya sekilas karena gemas. Ia memaksa dirinya untuk lekas berdiri dan berangkat kerja sebelum gairahnya terpancing karena tingkah istrinya.


" Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik dirumah. " pamitnya pada Diandra.


Saat hendak membuka pintu, wanita itu kembali memanggilnya.


" Raka, semalam Ibu panti telpon. Beliau bercerita jika mangga didepan panti berbuah lebat dan besar-besar. Bisakah kau mengambilnya untukku? " pintanya malu-malu.


Raka mengernyitkan keningnya,


Bukannya setuju, Diandra kini malah menekuk wajahnya.


" Kau ini sebenarnya cinta padaku atau tidak? Bukankah aku ingin mangga dipanti bukan mangga dari toko buah! " selorohnya kesal.


Raka semakin bingung melihatnya. Bukankah buah mangga sama saja? Paling itu-itu saja rasanya. Namun, karena Diandra begitu menginginkan mangga di panti, tentu dengan senang hati dia menyetujuinya.


" Baiklah. Nanti Paman Felix akan mengambilnya untukmu. Aku benar-benar sibuk hari ini. "


Diandra semakin kesal mendengarnya, ia bahkan sampai duduk dan bersandar di headboard saking semangatnya.


" Aku maunya kamu yang ambil. Pokoknya pastikan kau sendiri yang mengambilnya dari panti jika tidak tentu aku tidak akan mau memakannya." gertak Diandra.

__ADS_1


Raka semakin heran dengan sikap istrinya.


" Aneh sekali. Bahkan jika paman Felix mengambil dan aku tidak memberitahunya. Pasti dia tidak akan tahu. " benaknya bergumam.


Tetapi Raka memanglah suami yang begitu sayang pada istrinya. Iapun menyanggupi keinginan sang istri yang menurutnya aneh itu.


" Baiklah. Aku sendiri yang akan datang kesana dan memetiknya untukmu. Sekarang tutuplah itumu. Jangan sampai aku kehilangan tender besar karena ingin bergemul lagi denganmu." Raka hampir merasakan pusing dikepalanya melihat sebagian tubuh Diandra yang terekspos.


Wajah Diandra merona seketika, sekilas ia melirik ke bawah. Betapa malu dirinya yang bertelanjang dihadapan sang suami yang telah rapi pagi ini.


Dengan gerakan cepat ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


" Cepat pergilah. Jangan berlama-lama disini. Aku bisa bosan melihatmu. " pekiknya dari balik selimut.


Raka terkekeh sampai geleng-geleng kepala merasakan perubahan mood istrinya. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk wanita itu. Namun,waktunya sudah terlalu mepet. Buru-buru pria itu pergi setelah berpamitan kembali pada istrinya.


Diandra kembali membuka selimutnya saat sang suami telah keluar dari kamar.


" Huh.. Kau benar-benar memalukan, Di. Ya Tuhan, buah mangga. Kenapa rasanya aku tak sabar ingin memakan buah mangga dari panti. Pasti rasanya sangat manis dan segar. "


Diandra membayangkan buah mangga dikepalanya.


" Eeumm.."


Air liurnya hampir menetes jika tadi tidak ditarik lagi oleh bibirnya.


Bersambung...

__ADS_1


Maafkan othor akhir-akhir ini bolong up kerena lagi nggak enak badan. Tetap dukung othor ya boar tambah semangat nulisnya. Makasih😍


__ADS_2