
Rencana Diandra sepertinya cukup berhasil. Dua hari setelah surat tersebut dikirim, Delia ternyata menghubunginya.
Delia akan membiarkan Diandra untuk menikah dengan Raka. Bukan berarti dirinya merestui hubungan mereka sepenuhnya, beliau mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mau menganggap Diandra sebagai menantu karena caranya yang licik untuk mendapatkan putranya.
" Tidak buruk juga. Setidaknya pernikahan itu bisa terlaksana. Akupun tidak berharap menjadi menantu anda selamanya, itu hanya sebatas hingga rencanaku berhasil. " Batin Diandra lega.
Diandra segera menutup panggilan teleponnya. Berbicara dengan Delia, membuat dirinya teringat akan Raka Syailendra.
Sudah dua hari ini mereka tidak bertemu, rencananya esok atau lusa ia akan membuat janji dengan pria tersebut. Seutas senyuman terukir di wajah cantiknya ketika mengingat beberapa perlakuan manis Raka padanya.
" Hisshhh.. Kenapa aku jadi terbayang-bayang padanya? Mungkin karena beberapa waktu lalu kami sering menghabiskan waktu bersama. " Diandra berusaha menyangkal perasaannya.
Lamunannya berakhir sudah kala terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
Jonathan memberitahukan bahwa meeting hari ini akan dimulai lima menit lagi. Pria itu sedikit heran lantaran tanpa sengaja memperhatikan Diandra tersenyum sendiri dengan rona wajah memerah.
Jo bisa memprediksi, sepertinya rencana Diandra berhasil. Seharusnya ia ikut senang, tetapi entah mengapa yang dirasakannya justru berlawanan. Dadanya terasa sesak dan nyeri membayangkan Diandra akan menikah dengan pria lain.
***
Meetingpun akhirnya berjalan dengan baik selama kurang lebih satu jam.
Diandra melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam makan siang tiba, ia berniat mengajak Jonathan makan siang diluar sambil membahas rencana selanjutnya.
Keduanya turun dari lantai atas menuju Loby dengan menggunakan lift. Saat pintu lift terbuka, netra Diandra menangkap seseorang yang sangat dikenalnya kini tengah berada di resepsionis dengan raut wajah masam.
Ia segera menghampiri lelaki tersebut.
__ADS_1
" Tuan Raka? Apa yang anda lakukan disini? "
Raka langsung berbalik ketika mendengar suara yang ia sangat ia rindukan dua hari kebelakang.
" Diandra? "
Senyum kepuasan tersirat jelas di wajah tampan lelaki itu. Tadinya ia begitu kesal sebab resepsionis menahannya di loby dengan alasan belum membuat janji temu dengan atasan mereka.
Raka tiba-tiba saja menarik tangan Diandra,
" Ayo ikut denganku, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu. " ucap Raka sembari menggenggam tangan Diandra.
Jonathan yang melihat hal tersebut, secara refleks berniat melepaskan tangan Raka dari Diandra. Namun, langkahnya tertahan saat Diandra justru melarangnya.
" Jo, tolong kau handle pertemuanku nanti siang. Aku akan pergi bersama Tuan Raka hari ini. "
Jantung Jonathan seolah tertusuk duri, kecil namun begitu menyakitkan. Ia merasakan ada yang berbeda dari Diandra ketika bersama Raka Syailendra.
Binar-binar kebahagiaan seolah terpancar dari sorot mata Diandra ketika menatap Raka. Dada Jonathan terasa terbakar karenanya. Ia hanya mampu memandang seluit kedua sejoli tersebut meninggalkan gedung perkantoran.
" Apa dia benar-benar menyukai pria itu? " batinnya bergemuruh.
...------------...
Raka membawa Diandra masuk kedalam mobilnya, kali ini dia sendiri yang akan menyetir mobil untuk Diandra.
" Kau mau membawaku kemana, Tuan? " Diandra penasaran melihat Raka yang nampak bersemangat.
__ADS_1
Namun, kini dirinya justru mendapat tatapan tajam dari pria tersebut,
" Bukankah sudah kukatakan, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Yang ada hanya aku dan kau saja." protes Raka.
Padahal sebenarnya ia ingin sekali Diandra memanggilnya dengan sebutan " sayang ". Akan tetapi, melihat gadis itu terlalu dingin dan kaku, sepertinya butuh proses. Lagi pula, merekapun belum meresmikan hubungan sampai sekarang.
Diandra terkekeh melihat wajah cemberut Raka, padahal pria ini biasanya selalu terkesan gagah dan berwibawa didepannya. Tapi, bukan berarti Raka jelek. Hal itu membuat Raka semakin terlihat imut dimata Diandra.
" Baiklah, Tuan. Eh, maksudku Raka. " Diandra membenahi kata-katanya.
Namun, tawa wanita itu meredam seketika tatkala Raka tiba-tiba memasangkan seatbelt miliknya.
Jantung Diandra berdebar-debar rasanya, wajahnya merah merona. Ia mengalihkan pandangan sebab tak sanggup melihat pria itu yang berjarak begitu dekat dengannya.
Namun, wangi parfum Raka berhasil mengulik indra penciumannya. Diandra merasa sangat nyaman mencium aroma maskulin dari pria tersebut.
" Nah, begini sudah aman. Sekarang aku akan mengajakmu pergibke suatu tempat. " pria itu mulai menjauhkan tubuhnya dan hal itu sukses membuat Diandra gelagapan karenanya.
" Kenapa kau gelisah seperti itu? Apa kau sedang sakit? " Raka mencoba memegang dahi Diandra.
" Ti, tidak. Aku baik- baik saja. " jawab Diandra gugup.
" Ya Tuhan, Di. Memalukan sekali, kau bahkan sangat menikmati aroma parfumnya. Bodoh..bodoh...bodoh.." rutuknya dalam hati.
Iapun memilih mengalihkan pandangannya dari Raka. Keduanya lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Hingga Diandra mulai menyadari bahwa ia sangat mengenal arah yang sedang dituju Raka saat ini.
" Ini kan menuju Panti Nirmala? Kenapa dia mengajakku kesana? " batinnya bertanya-tanya.
__ADS_1
Bersambung..