Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 69


__ADS_3

Mobil Raka tiba di halaman mansion Adijaya. Dirinya berniat untuk mengajak Lilian makan siang bersama hari ini sambil mengorek informasi mengenai Pak Burhan.


Diandra sengaja menyiram bunga di taman ketika mendengar perihal kedatangan Raka kesana. Meski baru berpisah beberapa hari, rasanya ia sangat merindukan wajah tampan suaminya. Ingin rasanya ia memeluk Raka saat melihat pria itu turun dari mobilnya.


Tak ubahnya dengan Diandra, Rakapun merasakan hal yang sama. Mungkin begitulah bawaan pengantin baru, padahal masa-masa ini adalah masa paling hangat-hangatnya hubungan mereka.


Pandangan Raka langsung tertuju pada Asih yang tengah menyiram tanaman. Secepatnya ia berlari mendekati sang istri sebelum Lilian keluar dari dalam rumah.


Keduanya saling bertukar senyum saat kini posisi mereka saling bersebelahan meski agak berjauhan. Apalagi Diandra, wajahnya merah merona ketika ditatap oleh Raka.


Lelaki itu berdehem,


" Ehemmm...Kau menyiram bunga, tapi kenapa mereka semua layu begitu? " protes Raka melirik tanaman yang disiram Asih.


Asih memperhatikan bunga-bunga yang disiramnya.


" Menurutku biasa saja. Mungkin karena cuaca kemarin terlalu panas jadi bunga-bunga ini sedikit layu dari biasanya. " jawabnya polos.


" Bukan. "


Raka menjawab dengan wajah serius, membuat Diandra semakin penasaran.


" Karena kecantikan mereka terserap oleh wanita yang berada dihadapanku saat ini. " goda Raka sembari menahan senyum melihat reaksi wanitanya.


Wajah Diandra semakin merona, ia tak menyangka jika Raka hanya bercanda barusan.


" Astaga?! Kau pandai menggombal juga sekarang ya? " ingin rasanya ia mencubit pinggang Raka karena gemas.


" Awas saja kalau kau kegenitan pada wanita lain." ancamnya sembari mengerucutkan bibir.


Raka terkekeh melihat sikap Asih yang menurutnya sangat imut. Jika mereka sedang tak bersandiwara, pasti wanita itu sudah dipeluk dan diciumnya habis-habisan saat ini.


" Aku pandai menggombal. Tapi hanya pada istriku. " tegas Raka.

__ADS_1


" Aku pegang janjimu, Tuan Raka Syailendra. " balas Asih datar, namun hatinya sedang berbunga-bunga saat ini.


Keduanya saling berjauhan dan berpaling ketika seseorang membuka pintu mansion dari dalam.


Raka berjalan mendekat ke arah pintu, sedangkan Diandra kembali melanjutkan aktifitasnya.


Lilian keluar, ternyata benar dugaannya bahwa Raka sudah tiba dikediamannya. Wajahnya berbinar, seketika ia memeluk pria yang menjadi pujaannya sedari dulu.


Raka terperangah, ia tak menyadari serangan Lilian yang begitu tiba-tiba. Apalagi Diandra, netranya membola ketika melihat Lilian memeluk erat suaminya. Wanita itu menggenggam erat keran air ditangannya lantaran cemburu. Ingin rasanya ia menyemprotkan air ke wajah Lilian saat ini.


Lilian tentu sadar akan hal itu, dirinya memang sengaja ingin membuat Diandra terbakar cemburu.


" Raka? Apa kita jadi makan siang di cafe favorit kita? Aku sudah sangat merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu disana. " ucap Lilian manja.


Raka perlahan melonggarkan pelukan Lilian, ia tak mau membuat istrinya salah paham nantinya.


" Baiklah. Ayo kita kesana sekarang. " ajak Raka tak ingin berlama-lama.


Ia risih dengan sikap manja Lilian, jika bukan karena ada maksud tertentu pasti dirinya sudah mendorong jauh wanita itu dari sampingnya.


" Raka? Apa kita jadi makan siang di cafe favorit kita? " tirunya sembari mengerucutkan bibir.


" Hishhh... Dasar wanita menjijikkan. Awas saja akan kubuat kau jantungan saat tahu aku dan Raka sudah menikah. " gerutunya seorang diri.


****


Raka dan Lilian tiba di cafe langganan mereka. Keduanya memesan makanan yang biasa mereka pesan dulu.


Raka mengajak Lilian mengobrol sambil menunggu makanan yang mereka pesan tiba. Disela obrolan pria itu mulai memancing pembicaraan mengenai Pak Burhan.


" Oh ya? Bagaimana kondisi Papamu sekarang. Aku sudah lama tidak menengoknya. Apa beliau sudah membaik? "


Mimik wajah Lilian berubah, wanita itu nampak gugup mendengar Raka menanyakan Papanya.

__ADS_1


" Eemm, itu? Papaku masih sakit, tapi sekarang kondisinya mulai membaik." Lilian menyengir, terlihat sekali jika wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu.


" Baiklah. Kalau begitu aku ingin menengoknya setelah dari sini nanti. Aku ingin meminta izin pada beliau jika aku akan menikahimu nanti.


Lilian semakin gugup sebab Papanya sedang tidak berada di kediaman mereka saat ini.


" Oh..Jangan-jangan. Maksudku tidak perlu. Papaku sedang berobat ke luar negeri, Mama juga sedang mengusahakan pengobatan terbaik untuk Papa. " tolaknya beralasan.


" Benarkah? Memangnya Pak Burhan berobat kemana? " pancing Raka kembali.


Lilian nampak sedikit panik, dia sendiri bingung harus menjawab apa.


" Australia. Yah, Papa berobat ke Australi. Itu makanan kita sudah datang. " tunjuk Lilian mengalihkan perhatian.


Raka tahu wanita itu tengah berbohong, sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi sekarang.


Keduanya bersiap untuk menyantap makanan yang sudah tersedia di meja mereka. Namun, tiba-tiba Lilian merasa mual mencium aroma makanan yang disuguhkan disana.


" Huek...Huek..."


Lilian segera berlari ke kamar mandi. Ia kesal disaat kencannya bersama Raka, dirinya kembali dilanda mual saat mencium aroma makanan.


" Sialan. Ada saja penghalang kencanku bersama Raka. Aku heran, kenapa aku jadi sering mual begini. Hah! " umpatnya sembari menyapu mulutnya dengan tissue.


Sementara Raka, pria itu mengangkat sebuah panggilan dari detektif sewaannya.


" Tuan? Saya melihat Livia dan Dedy sedang bertemu seseorang di cafe Cemara. Dan orang yang mereka temui ternyata Jonathan."


Raka mengernyitkan kening, untuk apa Jonathan menemui Livia? Apa ada hubungannya Jonathan dengan keluarga Adijaya? Benaknya terus berpikir.


" Terus kau awasi mereka. Aku akan meminta anak buah terbaikku untuk mengawasi Jonathan. " perintahnya pada sang detektif.


Semua orang yang memiliki kemungkinan tersangkut masalah Diandra harus diawasi. Raka tidak ingin sampai kecolongan dalam hal ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2