Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 79


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, Diandra menunggu kedatangan seseorang di Cafe Born. Wanita itu menunggu dengan harap-harap cemas, ia tidak tahu siapa yang akan datang menemuinya saat ini.


Tiba-tiba saja dua orang pria berbadan tinggi besar datang menghampirinya.


" Ayo ikut kami! "


Diandra yakin mereka merupakan anak buah Dedy. Tanpa banyak bertanya, iapun mengikuti kedua pria tersebut.


Mereka berjalan menuju sebuah mobil Jeep hitam yang berada di parkiran. Satu orang pria telah berada disana. Ia membawa ketiganya keluar dari cafe menuju jalan besar.


***


" Mereka telah membawa Diandra keluar dari cafe. Sejauh ini tidak ada tindak kekerasan."


Jonathan memang sedari siang telah berada dicafe dengan menyamar sebagai salah satu waiter disana. Ia segera melapor pada Raka saat Diandra telah dibawa oleh anak buah Dedy.


Raka memang memintanya mengawasi Diandra. Ia takut terjadi tindak kekerasan pada istrinya.


" Baiklah. Aku akan memonitor dari sini. Saat waktunya tepat aku akan memintamu dan yang lain ketempat dimana Diandra dan Pak Burhan disekap. "


Raka memantau keberadaan Diandra melalui chip yang ia sematkan pada liontin istrinya. Benar dugaannya, mereka membawa Diandra menuju luar kota.


***


Setelah menempuh sekitar dua jam perjalanan, Diandra tiba di sebuah bangunan tua yang berada di tengah hutan.


" Ayo! Cepat turun! " perintah salah satu pria yang bersamanya.


Diandra dipaksa turun oleh ketiga pria tersebut dan dibawa masuk kedalam rumah tua itu. Ia dibawa menuju ke salah satu ruangan yang berada disana.


Ceklek...


Tanpa ia sadari satu diantara mereka mendorongnya hingga jatuh terjengkang.


"Aahh. "


Diandra mencoba bangkit, namun tepat dihadapannya nampak seseorang yang duduk di kursi roda.


Ia langsung menengadahkan wajah untuk memastikan. Netranya berbinar saat menyadari siapa yang ada dihadapannya saat ini.


" Papa? Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu."

__ADS_1


Diandra merengkuh sang Papa, ia lega bisa melihat Papanya dalam kondisi yang baik.


" Aku sangat merindukanmu. " ucapnya bercampur tangis haru.


Meskipun Pak Burhan tak mampu bergerak. Tetapi, hati dan pikirannya ikut merasakan kebahagiaan bisa melihat putrinya kembali.


Namun, disatu sisi dirinya takut sebab ia tahu rencana licik apa yang telah disiapkan oleh Livia dan Dedy saat ini.


Plok...Plok..Plok..


Terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Diandra langsung menoleh, netranya menajam melihat siapa yang datang.


" Waw...mengharukan sekali. Akhirnya ayah dan anak bisa bertemu lagi. Selamat ya anak manis, akhirnya kau bisa bertemu Papamu lagi. " sindir Livia menertawai.


" Dasar wanita iblis! Apa maumu sebenarnya! " geram Diandra.


Livia mendekati keduanya dan menatap seolah merendahkan Burhan yang tak mampu berbuat apa-apa.


" Mauku? Tidak sulit. Aku hanya ingin harta keluargamu jatuh ditanganku. Jika kau setuju? Aku akan melepaskan kalian berdua setelahnya. "


Benak Diandra mengumpati wanita itu. Ia yakin Livia tak mungkin membebaskannya begitu saja setelah apa yang ia lakukan pada wanita tersebut.


" Jaminannya? Aku butuh jaminan keselamatan nyawaku dan Papaku setelah harta Adijaya kuberikan. Bisa saja bukan? Kau membunuh kami setelah mendapatkan semua yang kau mau?" cetus Diandra.


" Kau pintar juga ternyata. Tapi kau tidak punya pilihan lain. Menandatangani surat kuasa secepatnya dan mati dengan cepat. Atau menolaknya sampai kau mati karena tersiksa. " tawa kemenangan Livia menggema ke seluruh ruangan.


Dedy dan anak buahnyapun akhirnya masuk ke ruangan itu dengan membawa map yang berisi surat kuasa. Anak buah Dedy dengan sigap merebut Burhan dari Diandra.


" Papa! "


Diandra memekik cemas. Kini sebuah senjata api ditodongkan dekat kepala Pak Burhan. Bahkan mereka mencengkeram wajah Papanya dengan tekanan begitu keras.


" Tandatangani dengan segera atau peluru itu akan menembus kepala Papamu! " ancam Livia kembali.


Dedy menyodorkan map kepada Diandra. Tanpa pikir panjang, Diandra merampas map itu dari tangan Dedy. Ia terpaksa membubuhkan tanda tangannya disana.


" Ini. Sekarang cepat lepaskan Papaku. " Pintanya sambil menyerahkan map itu pada Livia.


Livia tentu saja sangat senang menerimanya. Ia melihat map itu lekat-lekat, matanya berbinar melihat tanda tangan Diandra sudah dibubuhkan disana.


" Akhirnya apa yang aku inginkan dari dulu tercapai juga. Terimakasih anak manis. Sekarang kau akan mendapatkan hadiah dariku. "

__ADS_1


Diandra tersentak, ia yakin hadiah yang dimaksud Livia bukanlah hadiah yang sebenarnya.


Tiba-tiba, ketiga lelaki bertubuh tinggi besar tadi masuk ke ruangan itu. Mereka menatap Diandra dengan tatapan bernafsu.


Perasaan Diandra benar-benar tak enak sekarang, ia sedikit mundur saat ketiga pria itu mendekatinya.


" Mau apa kalian! " gertaknya geram.


Livia semakin tertawa puas melihat kecemasan diwajah Diandra.


" Kau ingat kan? Gara-gara dirimu putriku jadi dilecehkan oleh para bajingan. Dan gara-gara dirimu juga aku harus menanggung aib. Sekarang kaupun harus merasakan hal yang sama. Aku akan membuatmu hancur dan bahkan lebih memilih kematian. Bersiaplah melayani tiga lelaki ini. CCTV disini akan merekam aksi panas kalian. " Livia menyeringai senang.


Ia menatap Burhan,


" Nah Burhan? Bukankah kau biasa melihat permainanku di ranjang bersama Dedy? Sekarang aku akan melihat bagaimana permainan panas putrimu bersama tiga pria ini. Miris sekali, ibunya aku tuduh berselingkuh dan kubunuh. Sekarang, putrinya akan dilecehkan bahkan mungkin akan lebih memilih kematiannya. "


" Livia Adijaya! Kau benar-benar iblis! " teriak Diandra berkabut amarah. Ia begitu terguncang saat wanita itu dengan mudahnya mengatakan kejahatan yang ia lakukan.


" Sudahlah. Jangan berlama-lama. Tunggu apalagi! Lakukan tugas kalian. "


Livia dan Dedy saling melempar tawa, mereka sangat puas rasanya berhasil membalas Diandra.


Ketiga pria itu semakin mendekat. Diandra mengambil ancang-ancang. Saat hampir mendekati tembok, salah satu kakinya bertumpu, ia memutar badan dan melayangkan beberapa pukulan dengan kakinya.


Bugh...Bugh...Bugh..


Ketiga pria itu hampir terjengkang karenanya. Mereka memegangi pipinya yang nyeri akibat pukulan Diandra.


Livia dan Dedypun tak menyangka, ternyata Diandra cukup pandai beladiri. Ini semakin seru bagi mereka, untung saja ketiga pria itu juga mahir dalam beladiri.


Aksi perkelahianpun tak terhindarkan, ketiga pria itu cukup kewalahan menghadapi Diandra. Namun, tanpa Diandra sadari satu diantara mereka berhasil mengunci tangannya.


Diandra mencoba melepaskan, tetapi tenaganya telah terkuras banyak.


" Gadis manis, sudah jangan melawan lagi. Lebih baik kita berdamai, kami berjanji akan memuaskanmu saat ini. " ejek salah satu lelaki diiringi tawa kedua lainnya.


Livia dan Dedy semakin bersemangat melihatnya. Mereka belum ingin melewatkan moment ini.


" Hentikan! Jangan sakiti putriku!"


Teriakan Pak Burhan membahana memenuhi ruangan. Pria itu berdiri tegak dengan tatapan berkabut amarah. Semua yang disana tercengang melihatnya. Pria yang puluhan tahun mengalami stroke akhirnya bisa normal seperti sedia kala.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2