
Diandra sungguh tak berdaya meladeni gairah suaminya yang luar biasa. Dirinya sampai geleng-geleng kepala mengingat percintaan liar mereka dan betapa gagah Raka menguasai tubuhnya.
Bayangkan saja, mereka melakukan pergulatan panas hingga tiga ronde. Awal percintaan, Raka melakukannya dengan lembut dan perlahan, tetapi di ronde berikutnya pria itu seakan membantainya habis-habisan.
Bahkan hingga jam tiga dini hari begini mereka belum juga tidur. Raka beralasan jika setelah ini mereka pasti harus kembali berpisah dan melakoni peran masing-masing. Jadi dirinya harus mendapat jatah ekstra sebagai gantinya.
Pria itu telentang sambil mengatur pernafasannya. Tubuh keduanya masih polos hingga saat ini. Diandra berinisiatif untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
" Tunggu! Kau mau kemana?" tahan Raka memegangi sebelah tangan Diandra.
" Aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu. CeCk.. Badanku lengket semua. " keluh Diandra.
Rasanya ia sungguh malu menatap tubuhnya sendiri. Hampir sekujur tubuhnya dibuat basah oleh Raka.
" Tidak sebelum kau menjelaskan satu hal padaku. " cegah Raka tak mau melepaskan sang istri.
Diandra mengalihkan pandangannya pada sang suami.
" Menjelaskan apa?"
" Kau belum menjelaskan. Bagaimana kau masih bersegel, padahal kita sudah melakukannya waktu itu bukan?" tanya Raka menelisik.
Diandra tersenyum simpul, ia teringat akan kekonyolannya waktu itu.
" Sebenarnya tidak terjadi apa-apa waktu itu. Aku sengaja menjebakmu untuk menjeratmu waktu itu. Aku berniat merebutmu dari Lilian. Aku dendam pada Livia, sebab dia merebut Papaku dari ibu kandungku. " ungkap Diandra.
Raka langsung beranjak duduk diatas ranjangnya.
" Jadi, itu artinya kau dan Lilian saudara tiri? " lelaki itu semakin penasaran.
" Heeummm..Kenapa? Apa kau menyesal? " balas Diandra sedikit kesal. Ia rasa Raka sepertinya begitu terkejut mendengar hal itu.
" Iya, aku menyesal. Aku menyesal karena tak mengingat malam yang kita lalui waktu itu. Dan ternyata memang kita tidak pernah melakukannya. Aku hanya bisa membayangkan dalam imajinasiku sendiri. Oleh sebab itu, kau harus menebusnya sekarang. " seringainya licik
__ADS_1
Raka menarik tubuh Diandra kembali hingga menempel ke tubuhnya. Ia mulai melancarkan aksi gerilyanya hingga membuat tubuh Diandra mengeliat.
" Ah bagaimana ini! Dia pasti akan melakukannya lagi. Rasanya aku ingin pingsan saja sekarang. "
Benaknya ingin menolak, tetapi bahasa tubuhnya sangat menikmati sentuhan dari pria yang telah menjadi suaminya.
" Ra-ka? Ini sudah jam tiga dini hari. Kemungkinan sebentar lagi Lilian akan terbangun. Kita bahkan belum tidur sama sekali. " ia berusaha sekuat tenaga untuk menolak, meskipun sentuhan pria itu benar-benar membuatnya melayang sampai merasa pusing sekarang.
" Kali ini tidak akan lama. " bujuk Raka sembari terus menciptakan rang**ngan di tubuh Diandra.
Akhirnya ronde berikutnya terjadi. Benarkah hanya sebentar? Tentu saja tidak. Diandra yang awalnya menolak bahkan ikut bermain liar bersama suaminya, entah berapa banyak gaya yang sudah dipraktekkan keduanya.
" Ah.. Kau benar-benar membuatku mau pingsan sekarang. " racau Diandra hampir kehilangan kesadarannya.
Dianda menoleh sekilas jam yang terpasang di dinding kamar. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi. Wanita itu sesekali menguap dan hampir tak bisa menahan kantuk saat ini.
Ia heran, Raka terlihat biasa saja bahkan wajah lelaki itu semakin berbinar saat ini. Tidak seperti dirinya, membawa tubuh sendiri saja rasanya hampir tak mampu.
Raka langsung menggendong tubuh Diandra setelah percintaan panas mereka usai. Ia lalu membawa tubuh istrinya menuju bathroom untuk membersihkan diri.
Dirinya sungguh tak tega melihat Diandra nampak lemas tak berdaya akibat ulahnya. Tetapi, mau bagaimana lagi? Ia sendiri bahkan tak menyangka bisa berbuat seliar itu.
Sesal itupun tak berlangsung lama, Raka kini justru tersenyum bangga melihat begitu banyaknya stempel kepemilikan yang ia buat ditubuh Diandra.
" Tenanglah. Aku akan membantumu membersihkan diri. "
Raka mulai duduk di tepi bathup. Ia menyapu lembut tubuh istrinya dengan sabun. Sesekali ia memejamkan mata untuk menahan gairahnya kembali.
Sebenarnya Diandra sangat malu diperlakukan seperti itu oleh sang suami. Ini pertama kali tubuh polosnya dilihat oleh seorang pria. Namun, apa boleh buat? Rasa lelah, lemas sekaligus ngantuk meliputinya. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Raka.
Jika tak mengingat Lilian, tentu Raka masih betah berlama-lama disana. Ia sendiri heran kenapa gairahnya selalu meningkat jika bersama dengan istrinya.
Raka membantu mengeringkan tubuh Diandra setelahnya. Lalu, mamakaikan baju lamanya dan sebuah jas terusan besar miliknya yang sukses membuat wanita itu nampak tenggelam didalamnya.
__ADS_1
" Pefttt..Maaf jika kau tidak nyaman. Tapi sepertinya tanda yang kubuat akan terlihat jika kau tak memakai pakaian seperti ini. Dan satu lagi.."
Raka mengambil sebuah chip kecil yang sudah ia siapkan sebelumnya. Lelaki itu menyimpannya dalam liontin Diandra.
" Jangan pernah kau lepaskan liontin ini. Aku akan selalu memantaumu dari situ. " perintah Raka.
Diandra hanya mengangguk tanpa menjawab. Wanita itu langsung tertidur dengan pulas akibat rasa kantuk yang menderanya sedari tadi.
***
Lilian akhirnya terbangun. Netranya berbinar saat menyadari seorang pria tampan tengah duduk ditepi ranjangnya.
Pria itu sudah terlihat rapi dengan rambut yang masih sedikit basah. Bagi Lilian ini sungguh luar biasa, aura ketampanan Raka meningkat beberapa level dari biasanya.
" Kau sudah bangun? Sepertinya kau sangat lelah, tidurmu begitu pulas dari semalam. "
Ucapan Raka sukses membuat Lilian gelagapan. Raka sudah rapi, tetapi dirinya malah baru bangun tidur bahkan belum membersihkan bekas liurnya.
" Ma-maafkan aku. I-iya, belakangan ini aku cepat sekali merasa lelah. Padahal biasanya aku selalu bangun pagi. " ungkapnya gugup sekaligus malu.
Lilian bergegas bangun dan turun dari ranjang. Ia merutuki kebodohannya. Padahal semalam dirinya berniat menggoda Raka, tapi malah tertidur bahkan sampai kesiangan.
" Tidak apa-apa. Aku mengerti. Hanya maaf, pagi ini aku harus berangkat ke kantor. Tapi, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu.
Keduanyapun keluar dari kamar.
Lilian begitu terkejut melihat penampilan Asih yang sudah seperti manusia kutub.
" Hei, ada apa denganmu. Kenapa kau berpenampilan aneh seperti itu! " Lilian nampak tidak senang, apalagi jaket besar yang digunakan Asih adalah milik Raka.
" Maaf, Nona. Aku..badanku panas dingin sekarang. " Asih beralasan. Ia sendiri juga terkaget, saat bangun dirinya mendapati tubuhnya
" Sudahlah. Jangan dipermasalahkan. Dia sakit semalam karena kelelahan membersihkan kamarku. Aku yang memberinya kompres tempel dan memberikan jaket lamaku yang sudah jarang sekali ku pakai. Bagaimanapun dia sakit ditempatku." terang Raka.
__ADS_1
Lilianpun terpaksa membiarkannya, untung saja wanita itu tak curiga dan memeriksa tubuh Diandra.
Bersambung