
Pesta resepsi pernikahan Diandra dan Raka akhirnya digelar sebulan setelah Raka keluar dari rumah sakit. Mereka sudah tidak sabar ingin berbagi kebahagiaan kepada seluruh masyarakat publik.
Pesta megah nan meriah itu digelar di sebuah ballroom salah satu hotel milik keluarga Syailendra. Mereka turut mengundang para saudara, sahabat, rekan bisnis, anak yatim, pejabat setempat dan beberapa awak media yang siap meliput berita.
Diandra terlihat begitu memukau dengan gaun pengantin bertahtakan swarovski yang menjuntai melebihi kaki hingga perlu dibantu dua orang gadis untuk memegangi ujung gaun bagian belakangnya.
Senyum Raka mengembang sempurna menatap istrinya yang sudah seperti putri di negeri dongeng malam ini. Pria itupun sangatlah tampan dan gagah dengan tuxedo putih yang ia kenakan.
Raka langsung berlutut ketika Diandra telah tiba dihadapannya. Ia mengeluarkan sekuntum mawar merah yang terselip disaku jasnya.
" Sekuntum mawar cantik, namun tak secantik wanita yang ada dihadapanku malam ini. " ungkap Raka menatap penuh damba.
Kedua pipi Diandra merona, ia tak mampu membendung rasa bahagia yang kini memenuhi hatinya.
" Terima kasih." ia menerima bunga pemberian Raka.
Pria itu langsung berdiri dan mengecup puncak kepala istrinya hingga membuat riuh para tamu yang hadir. Mereka kagum melihat kemesraan pasangan pengantin baru ini.
Acara resepsi berlangsung begitu meriah. Beberapa penyanyi papan atas juga ikut menyumbangkan suaranya. Bahkan dua sejoli itupun ikut menyumbangkan lagu demi memeriahkan resepsi pernikahan keduanya.
Acara dilanjutkan dengan sesi pelemparan bunga oleh pengantin wanita. Diandra berdiri ditengah panggung, para gadis dibawahnya saling berteriak agar Diandra melempar bunga kearah mereka.
Wanita itupun membalikkan badan. Dalam hitungan ketiga, ia langsung melemparkan bunganya pada para gadis disana.
" Aaahhh...Aku? "
Aura tadinya hanya ingin ikut bergabung, tetapi ternyata bunga itu malah jatuh tepat ditangannya.
Semua mata tertuju pada Aora, para sahabatnya meledek gadis yang kini berkuliah semester empat jurusan psikologi itu.
Diandrapun langsung turun dan menggoda adik iparnya.
" Aora? Selamat ya sepertinya jodohmu sudah dekat. " goda Diandra sembari terkekeh melihat wajah adik iparnya yang cemberut saat ini.
" Kakak! Kakak sengaja ya? Aku kan masih 20 tahun. Masak iya udah mau nikah. Aku ingin jadi psikolog hebat dulu. " tuturnya sebal.
Diandra semakin terkekeh melihat adik iparnya yang manja.
" Sudah jangan terlalu dipikirkan. Ini semua hanyalah mitos dan sekedar bersenang-senang saja. Tapi? Jika memang jodohmu sudah dekat kaupun tidak akan bisa menolak takdirmu. " godanya kembali.
__ADS_1
Aora hendak melayangkan protes, tetapi sang kakak kini menghampiri mereka dan membawa pergi istrinya. Pria itu justru mengomelinya gara-gara Diandra terlalu lama mengobrol dengannya.
" Dasar cowok posesif, maunya nempel terus sama istrinya. Hishh.."
Aora geleng-geleng kepala melihat Raka memeluk pinggang istrinya dengan erat. Bahkan keduanya sudah seperti lem bertemu perangko menurutnya.
Ia masih terus memperhatikan kedua mempelai yang kini asyik berdansa ditengah-tengah para tamu yang hadir.
Ia melihat Raka yang sebentar-sebentar mengecup puncak kepala istrinya. Pantas saja, waktu ia sempat memergoki Diandra dan Raka berciuman di rumah sakit, pria itu terlihat begitu agresif. Ia menonyor kepalanya sendiri karena mengingat hal mesum tadi.
" Otakku sepertinya harus dicuci dan dijemur supaya bersih kembali."rutuknya dalam hati.
" Hai! Anak kecil dilarang melihat adegan dewasa. Nanti takut pengen. "
Aora terkesiap merasakan seseorang berbisik sambil menepuk bahunya. Gadis itu langsung berbalik untuk memastikan.
" Kau? Dasar pria mesum, jangan menuduh sembarangan ya! Oh ya satu lagi. Aku bukan anak kecil, aku ini gadis dewasa dan wajar saja jika aku memikirkan hal dewasa. Eh..maksudku tapi bukan hal-hal berbau mesum sepertimu. " tegas Aora sebal.
Jonathan justru terkekeh mendengar ucapan Aora. Secara tidak langsung gadis itu mengakui sendiri apa yang ada diotaknya. Entah mengapa Jonathan tertarik pada gadis ini semenjak pertama kali bertemu. Padahal dari dulu ia selalu mendambakan wanita dewasa dan mandiri.
Aora semakin kesal sekaligus malu mengingat kata-katanya barusan. Apalagi melihat Jonathan yang begitu puas menertawainya. Seringai licik tersimpul di wajah cantik Aora.
" Aaawww... Kau sengaja menginjak kakiku lagi. Dasar gadis bar-bar. " umpatnya sembari meringis kesakitan.
" Itu hukuman untuk om-om ganjen sepertimu. " ledeknya pada Jonathan.
Netra Jonathan membola seketika, apalagi saat Aora memanggilnya dengan sebutan Om. Ia rasa dirinya tidak setua itu.
Pria itu seketika terdiam sembari menatap tajam pada Aora. Nyali gadis itu menciut melihat Jonathan sudah seperti harimau yang siap menerkam.
Jonathan mengikis jarak diantara keduanya, ia kembali membisikkan sesuatu di telinga Aora.
" Aku tunggu di Austin Club. Jika kau tak datang, berarti benar kau hanya gadis ingusan yang berlindung diketiak Mamanya. " sindir Jonathan. Ia berbalik dan berniat pergi meninggalkan gadis itu.
Aora tak terima diejek seperti barusan. Ia menyesal pernah terpana oleh ketampanan pria dewasa itu, nyatanya Jonathan tak lebih dari pria menyebalkan.
" Lihat saja aku pasti akan datang kesana. " gumamnya lirih namun tetap terdengar oleh Jonathan.
Jonathan menyeringai senang, ternyata gadis itu mudah sekali terpancing olehnya.
__ADS_1
***
Pasangan pengantin baru masih menikmati dansa bersama. Sesekali keduanya melempar senyuman, nampak binar-binar kebahagiaan menghiasi wajah mereka.
" Sayang. Jika kita punya anak nanti, kira-kira kau ingin memiliki berapa anak?"
Diandra mengernyitkan keningnya,
ini kali pertama suaminya bertanya mengenai anak.
" Eumm..Lima mungkin. Kau tahu selama ini aku merasa hidupku kesepian. Aku ingin suatu saat memiliki keluarga besar agar mansion kita semakin ramai dengan tawa anak-anak. " ungkap Diandra begitu antusias.
Namun, sesaat kemudian wanita itu tiba-tiba terlihat cemas.
" Raka? Tapi bagaimana jika seandainya kita belum diberi keturunan? Apa kau akan meninggalkanku? "
Raka langsung membungkam bibir Diandra dengan telunjuknya.
" Jangan pernah berkata seperti itu. Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. " tegas Raka meyakinkan.
" Mungkin kau bisa berkata seperti itu karena kita baru menikah sebentar. Hari-hari kita masih panjang dan kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya. Pasti Mama Delia juga ingin segera menimang cucu. "
Bukan tanpa sebab Diandra berkata demikian, ia teringat bagaimana Mama Sheina dibenci oleh mertuanya lantaran belum bisa memberikan keturunan.
Raka membuang nafas kasar, ia tak ingin istrinya berpikir terlalu jauh. Tanpa diduga, pria itu langsung membopong istrinya ala bridal style ditengah pesta tamu.
Diandra langsung mengalungkan tangannya di leher Raka. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raka sebab kini semua mata tertuju pada mereka.
Raka melangkah keluar meninggalkan gedung, " Keluarlah. Tidak ada siapa-siapa disini."
Diandra menatap sekeliling, ternyata mereka telah tiba diparkiran.
" Kita mau kemana? "
" Kita akan membuat anak sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Jika perlu sepanjang waktu agar bibit unggulnya terus menerus membuahimu. Aku pastikan kita akan punya banyak anak kedepannya. " ungkap Raka penuh percaya diri.
Wajah Diandra merona seketika,
tapi dirinya senang sebab Raka sepakat dengannya.
__ADS_1
" Baiklah, Tuan. Mari kita bertempur sekarang juga. "
Gairah Raka semakin memuncak melihat Diandra semakin agresif. Ia langsung ******* bibir istrinya sembari membawanya masuk kedalam mobil. Ia berencana membuat malam panjang penuh cinta dengan istrinya. Tanpa ada beban seperti saat-saat yang lalu.