Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 77


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakan Raka semalam. Pagi ini dirinya akan mengajak Diandra pergi menemui Jonathan. Mereka akan menangkap basah pria itu lantaran telah menyembunyikan Pak Burhan.


Raka melajukan mobilnya menuju mansion Jonathan. Sepanjang perjalanan sesekali ia melirik Diandra, wanita itu lebih banyak diam pagi ini.


" Kau kenapa? Dari tadi wajahmu tampak cemberut. Bukankah seharusnya kau senang akan bertemu Papamu sebentar lagi?"


Diandra mendesah perlahan, netranya menatap sepanjang jalanan yang mereka lalui. Ini memang saat yang ia nantikan, tapi ia tak bisa menutupi sesak dihatinya akibat pengkhianatan Jonathan.


" Sejujurnya aku sangat kecewa pada Jonathan. Padahal dia adalah orang yang paling banyak membantuku selama ini. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. " ungkap Diandra lemah.


Terlintas dalam pikirannya tentang masa-masa saat bersama Jonathan. Mereka bersahabat cukup lama dan pria itu sering membantunya dalam segala hal. Oleh sebab itu, papa angkatnya mempercayakan Jonathan menjadi asisten pribadi Diandra saat pria itu ingin belajar mengurus perusahaan dulu.


Ada rasa cemburu di benak Raka, ia merasa Jonathan juga memiliki arti tersendiri di hati istrinya.


" Apa kau mencintainya? Kalau begitu lupakan dia. " cetus Raka.


Diandra terkesiap dibuatnya, ia tak menyangka Raka berpikir sejauh itu.


" Kau jangan salah paham. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Jonathan. Hanya saja aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. "


" Lalu? Kenapa kau terlihat begitu kecewa? " Raka tak mempercayai ucapan Diandra begitu saja.


Diandra terdiam sejenak, ia harus bisa memberikan alasan yang tepat agar suaminya tak tersinggung.


" Aku kecewa karena aku sangat mempercayainya dan sudah lama mengenalnya. Tapi kau berbeda. "


Raka langsung memalingkan wajahnya kearah sang istri saat mendengar perkataan wanita itu barusan.


" Maksudmu? "


Diandra tiba-tiba merasakan gugup saat Raka menghunuskan tatapan penuh penekanan padanya. Ia bingung harus memberi alasan bagaimana pada pria itu.


" Aku? Eem..aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada Jonathan. Tapi? Saat bersamamu entah mengapa degub jantungku menjadi abnormal. "


BLUSH..


Wajah Diandra merona seketika setelah mengatakan hal itu. Seakan dirinya kini yang tengah menyatakan cinta pada seorang lelaki.


Apalagi Raka, hatinya begitu girang sekarang. Jika saat ini dirinya tidak sedang menyetir tentu dia akan langsung memeluk dan menghujani istrinya dengan senyuman.


" Huuuffthhh.."


Pria itu berusaha menahan tawa kebahagiaannya. Ia tahu Diandra sedang malu sekarang.


" Apa yang kau tertawakan? Apanya yang lucu? " Diandra mengerucutkan bibirnya.


" Tidak. Aku merasa sangat senang saja mendengar apa yang kau ucapkan barusan. Kau tahu? Akupun merasakan hal yang sama padamu. " ucapnya bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tersipu saat ini. Tiada hal yang lebih indah dibandingkan dengan ungkapan cinta dari orang yang kita sayangi.


***


Keduanya tiba di mansion Jonathan sekarang. Raka meminta asisten Felix dan para anggotanya untuk mengawasi mereka dari kejauhan. Ia tak mau Jonathan curiga bilamana banyak iring-iringan mobil memasuki pelatarannya.


Bel mansion berbunyi, salah seorang pelayan membukakan pintu dan melihat siapa yang datang di pagi hari begini.


Kebetulan Jonathan dan Papanya tengah bersiap menuju kantor mereka. Pelayan tadi mengetuk pintu kamar Jonathan untuk menyampaikan kedatangan tamunya.


" Tuan Muda? Dibawah ada Nona Diandra sedang menunggu anda. "


" Diandra? Apa Bibi tidak salah? " Jonathan seolah tak percaya jika tamunya di pagi begini adalah Diandra.


" Benar, Tuan. "


Wajahnya berbinar mendengar kedatangan Diandra.


" Tapi tunggu? Untuk apa dia datang kesini? Apa dia tahu aku menyembunyikan Pak Burhan. Tidak mungkin! Tidak mungkin dia tahu hal itu. "


Jonathan berusaha menepis kegelisahannya. Yang jelas mendengar Diandra datang dirinya sudah sangat bahagia. Ia memperbaiki penampilannya kemudian menambahkan parfum di tubuhnya.


" Aku harus terlihat sempurna dihadapannya. " ucapnya bersemangat.


Pria itu berlari kecil menuruni tangga sembari tersenyum sumringah. Ia tak sabar ingin bertemu Diandra.


Namun, alangkah terkejut pria itu melihat Diandra datang bersama Raka. Sesaat tubuhnya membeku ditempat.


" Sepertinya kau sangat terkejut melihat kedatanganku? Oh tidak..lebih tepatnya kedatanganku bersama Diandra. " Raka menghunuskan tatapan tajam pada Jonathan.


" Ka-lian? Bagaimana kalian bisa bersama? Untuk apa kalian pagi-pagi datang kemari? " Jonathan masih belum menyangka. Ia berusaha menutupi keterkejutannya.


Raka langsung berdiri dan menghampiri Jonathan.


" Dasar pria brengsek! Tidak perlu berbasa-basi. Cepat katakan dimana kau menyembunyikan Pak Burhan! "


Satu bogem mentah langsung mendarat di wajah Jonathan. Raka memang sangat menunggu saat seperti ini. Sudut bibir Jonathan bahkan sampai mengeluarkan darah akibat pukulan keras darinya.


" Bedebah! Apa maksudmu menuduhku seperti itu? "


Jonathan tak terima dengan tuduhan Raka. Iapun mendorong tubuh Raka menjauh darinya.


Keduanya saling menghunuskan tatapan mematikan. Hampir saja mereka berkelahi jika saja Diandra tidak mencegahnya.


" Sudah! Sudah hentikan. Aku tidak mau ada keributan disini! " Perintah Diandra.


" Jo? Aku benar-benar kecewa padamu. Cepat katakan dimana kau sembunyikan Papaku! " sarkas Diandra. Gurat-gurat kekecewaan tersirat di wajah cantiknya.

__ADS_1


Jonathan mencoba memelas dan menyangkal semua itu.


" Di? Aku mohon jangan percaya dengan hasutannya. Aku benar-benar tidak menyembunyikan Pak Burhan. Bukankah selama ini aku tak pernah berbohong padamu! "


Diandra dilema saat ini, ia memang belum memiliki bukti, tapi Raka tidak mungkin menipunya.


Raka sedari tadi mengetik pesan pada asisten Felix. Tak berselang lama, pria itu datang bersama Dokter pribadi keluarga Jonathan. Para anak buah Raka sengaja menangkap sementara dokter itu sampai tiba saatnya diperlukan. Kini Jonathan semakin terpojok karenanya.


" Tuan? Maaf saya harus mengatakan yang sejujurnya. " Dokter itu nampak gugup sekaligus takut.


Jonathan tak mampu berkutik lagi, ia melihat Diandra menatapnya dengan penuh kekeceewaan. Wanita itu berdiri dihadapannya.


" PLAAKKK. "


" Aku benar-benar kecewa padamu. Tega-teganya kau mengkhianatiku, Jo. " ungkapnya berlinang airmata.


Rasa sesal mulai menjalar di tubuh Jonathan melihat air mata yang mengalir di wajah Diandra. Dirinya tak bermaksud menyakiti wanita itu.


" Maafkan aku, Di. Tapi aku melakukan semua itu karena aku? Aku sangat mencintaimu. "


Ucapan Jonathan bukannya menarik simpati Diandra, tapi justru membakar amarahnya.


" Cinta? Cinta bagaimana yang kau maksudkan? Cinta yang diraih dengan cara yang licik? Itu bukanlah cinta tapi keegoisan! "


Netra Jonathan berkaca-kaca, ia menyesal atas apa yang ia perbuat. Lelaki itu mencoba meraih lengan Diandra,


" Di? Kumohon tolong maafkan aku."


Raka langsung mendorong Jonathan menjauhi Diandra.


" Jangan kau sentuh istriku! Aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain! " geram Raka dengan tatapan membunuhnya.


" Istri? Apa maksudmu?! "


Jonathan benar-benar terkejut mendengarnya.


" Diandra dan aku telah menikah secara diam-diam. Dan aku tak perlu menjelaskannya lagi padamu. Sekarang cepat bawa kami ke tempat Pak Burhan berada! " gertak Raka.


Hati Jonathan benar-benar terpukul. Ia menengadahkan wajah dan mengusap rambutnya kasar, mencoba menahan ngilu di dadanya.


" Ikut aku. "


Ketiganya berjalan menuju lantai atas. Jonathan membuka salah satu kamar diujung lorong.


Ceklek


Netranya membola ketika mendapati kamar yang telah kosong.

__ADS_1


" Kemana Pak Burhan? Kenapa ruangan ini kosong! "


Bersambung...


__ADS_2