Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
DIANDRA TERPURUK


__ADS_3

Raka berusaha mengejar Diandra yang pergi meninggalkan kediaman keluarganya. Ia kesal sebab kehilangan jejak Diandra sekarang.


" Tidak ada pilihan lain, lebih baik aku menyusul ke rumahnya sembari menyisir jalan. " pikirnya.


***


Diandra memang telah berada dikediamannya. Dirinya sempat menelpon supir pribadinya ketika keluar dari mansion Syailendra.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, netranya menengadah mencoba menahan bulir airmata yang hampir terjatuh. Namun apa daya, hatinya terlalu sakit mengingat kata-kata kasar yang dilontarkan Delia padanya tadi.


Seumur hidupnya, baru kali ini dirinya dihina sebegitu rendah oleh orang lain.


" Ya Tuhan.. Apa sebegitu burukkah perilakuku? " benaknya bergejolak.


Diandra tak menyangka, rasa dendam yang ia miliki bahkan bisa meruntuhkan perilaku baik dalam dirinya. Ia sendiripun tak membenarkan segala cara yang telah dilakukan demi menuntaskan dendamnya.


Tapi apa boleh buat, sekali masuk ke dalam lumpur akan sulit untuk keluar kembali. Setidaknya, tubuhnyapun pasti akan kotor oleh lumpur tersebut.


Diandra merasa begitu rapuh, naluri dan fisiknyapun saling bertentangan. Disaat-saat seperti inilah dirinya membutuhkan tempat untuk bersandar.

__ADS_1


Ia teringat kata-kata Jonathan, dan inilah pilihannya. Pilihan yang terkadang menyakiti jiwa maupun raganya.


" Ibu,, aku merindukanmu. " gumamnya disela-sela isak tangis.


Wanita itu meringkuk dan menangis di atas ranjang, merasakan kembali rasa sepi yang selama ini bergelayut dalam diri. Ingin rasanya ia berkumpul bersama keluarga tercinta yang kini telah pergi meninggalkannya.


***


" Di,, Diandra aku mohon izinkan aku masuk! Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi! " Raka berteriak-teriak di depan gerbang mansion Diandra.


Sudah lebih dari satu jam pria itu berteriak disana, tetapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Hanya beberapa kali penjaga gerbang memintanya untuk pulang sebab Nona mereka sedang tidak ingin ditemui hari ini.


" Aaarrghhh..."


Ia menendang ban mobilnya sendiri karena kesal, kemudian menjatuhkan tubuh disamping mobilnya.


" Harusnya aku segera mengejarnya tadi. Dia pasti kecewa karena aku membiarkannya pergi begitu saja. " Ia merutuki keteledorannya.


Pria itu berdiri dan kembali berteriak tanpa peduli adakah orang yang melihatnya.

__ADS_1


" Di ! Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji, apapun yang terjadi, aku akan tetap memperjuangkanmu! " teriak Raka kembali.


Diandra masih tenggelam dalam kesedihannya. Sebenarnya ia menyadari kehadiran Raka, tetapi ia masih ingin menyendiri saat ini. Hingga suara ketukan pintu membuatnya terpaksa beranjak dari ranjang.


Kepala pelayan dan salah seorang penjaga gerbang berdiri dengan gelisah. Mereka mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Hingga pintu kamar terbuka, keduanya membungkuk hormat pada Diandra.


" Nona, maafkan kami mengganggu. Ini sudah pukul satu dini hari, tapi Tuan Raka masih menunggu dan berteriak memanggil anda. Saya khawatir, tetangga akan terganggu dengan hal itu. Apa perlu kami mengusir beliau? "


Diandra tersentak, dirinya bahkan tidak menyadari jika ini telah terlalu larut.


" Astaga. Kenapa dia senekad itu? " Diandra sampai geleng-geleng kepala.


Namun, iapun tak mungkin memperlihatkan sisi lemahnya didepan Raka. Bagaimanapun, ia harus tetap menjalankan rencananya.


" Katakan pada Tuan Raka jika aku memintanya untuk pulang terlebih dahulu. Setelah keadaan membaik, aku pasti akan menemuinya. " perintah Diandra.


Penjaga itupun segera turun dan menyampaikan hal itu pada Raka. Dengan terpaksa, Rakapun beranjak dari sana. Tetapi ia bersyukur, jika Diandra mau menemuinya itu berarti wanita itu masih memberikan kesempatan baginya.


" Aku tak kan pernah menyerah, Di. " tekadnya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2