Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 88


__ADS_3

" Huh! Akhirnya sampai juga. "


Raka melepas jas kemudian melonggarkan dasi yang seolah mengikat lehernya. Dirinya begitu penat hari ini. Bayangkan saja, urusan bisnisnya baru beres jam sembilan malam, tetapi dirinya nekad menuju panti Nirmala demi memenuhi keinginan istrinya.


Pria itu melirik jam mewah dipergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Iapun berjalan gontai keluar dari mobil, tetapi dirinya segera berbalik saat mengingat apa yang tertinggal disana.


Rasa lelahnya seolah lenyap berganti senyuman nan rupawan ketika mengambil buah mangga yang tertinggal di dalam mobil.


" Semoga yang dikatakan ibu panti itu benar. " batinnya bersemangat. Ia segera memasuki mansion agar bisa cepat berjumpa dengan Diandra.


Saat hendak menuju lift, tanpa sengaja ia melihat TV yang masih menyala diruang keluarga. Raka menghentikan langkahnya untuk memastikan siapa yang ada disana. Dirinya terkejut ketika melihat istrinya tertidur dengan TV yang masih menyala.


Raka menatap wajah cantik istrinya yang begitu damai saat tidur. Pria itu tak tahan ingin mengecup bibir ranum yang selalu menjadi candu baginya.


CUP..


Diandra terbangun saat merasakan kecupan hangat dari sang suami.


" Kau baru pulang? Astaga, ini hampir pagi. Aku menunggumu sedari tadi. " gerutunya sembari duduk untuk meraih kesadaran.


" Taram.."


" Aku membawa ini untukmu. Bukankah kau tadi ingin buah mangga dari panti nirmala? Aku sudah mengambilnya jauh-jauh untukmu. " Raka memberi kejutan.


Netra Diandra berbinar seketika, ia sangat terharu sebab Raka rela bersusah payah memetik buah tersebut ditengah kesibukannya hari ini.


" Terima kasih, sayang. " wanita itu langsung memeluk sang suaminya dengan manja.


" Apa kau ingin aku mengupasnya untukmu?" Raka menawarkan diri, ia yakin istrinya sangat ingin memakannya.


Benar saja, Diandra langsung mengangguk mendengar tawaran Raka.


Raka langsung mengambil pisau dan mengupas buah itu untuk Diandra yang tengah menatapnya dengan antusias.


" Ini. "


" Hap. "


Diandra begitu bersemangat mengunyahnya. Benar saja, buah mangga setengah matang itu terasa begitu nikmat menurutnya.


" Ini benar-benar enak. " ungkapnya senang.

__ADS_1


Akan tetapi, baru setengah buah mangga masuk kedalam perutnya, wanita itu langsung menolak saat Raka ingin menyuapinya kembali.


" Sudah, sudah. Itu sudah cukup. Aku sudah tidak ingin lagi." ia menampik buah mangga yang hendak disuapkan Raka.


" Kenapa? Katanya enak? " Raka mengernyitkan keningnya.


" Iya enak. Tapi aku hanya ingin makan segitu saja. " tolak Diandra.


Raka mendengus kesal.


" Jauh-jauh aku mengambilkan buah mangga dari panti nirmala dan kau hanya memakan setengahnya saja? Sayang, kau benar-benar menjengkelkan! Kau harus membayar mahal untuk itu! " gerutunya kesal.


" Membayar? Kau itu perhitungan sekali dengan istri. Cepat katakan berapa yang harus ku bayar! " ketus istrinya sebal.


Raka menyeringai senang, istrinya ini pintar tapi polos untuk memahami bahasa menggoda suami istri.


" Baiklah. Sekarang aku akan meminta bayaranku. "


Pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Tanpa menunggu lama, ia langsung memagut bibir istrinya dan membawanya menuju lift.


Keduanya saling berpagut, menikmati sentuhan bibir satu sama lain bahkan hingga lift berhenti di depan kamar mereka.


Raka melepaskan pagutannya sesaat,


Dengan wajah merona Diandra menganggukkan wajahnya.


Raka menurunkan tubuh Diandra diatas ranjang king size miliknya. Keduanya kembali berpagut menikmati sensasi bibir pasangannya yang begitu hangat namun menggairahkan.


Kali ini Raka tak ingin bermain kasar, ia teringat ucapan Ibu Panti yang mengatakan jika istrinya kemungkinan sedang mengidam.


Pria itu mencumbu dengan tangannya yang mulai satu persatu melucuti pakaian istrinya.


Diandrapun tak mau kalah, salah satu tangannya membuka kancing kemeja pria yang kini tengah mengungkungnya. Ia meraba dada bidang dan perut datar suaminya, mengusap sela-sela antara perut dan dibawah sana agar pria itu semakin terangsang.


Menyadari istrinya yang semakin agresif, pria itupun segera melepaskan pakaian yang melekat ditubuhnya hingga keduanya kini telah polos benangpun.


Raka tak menyangka istrinya begitu pandai memainkan miliknya, pria itupun tak mau kalah dirinya terus mencumbu bagian-bagian sensitif istrinya. Menyesap dua buah semangka kesukaannya dan tangannya keluar masuk didalam benda keramat yang ada di bawah sana.


" Ahhh.. Ra..ka. "


Tubuh Diandra bergetar hebat saat merasakan sesuatu membucah dari bawah sana.

__ADS_1


Pria itu tersenyum puas melihat istrinya telah mendapatkan pelepasannya. Kini ia bersiap menenggelamkan miliknya ke dalam lembah kenikmatan surga dunia. Lelaki itu bermain pelan didalam sana dengan tangannya terus memainkan titik sensitif istrinya agar tak mengurangi gairah yang Diandra rasakan.


Wanita itu kembali mendesah dan mendorong suaminya agar cepat melakukan penyatuan.


Aaahhh...


Keduanya mengerang bersama-sama diatas puncak kenikmatan yang mereka rasakan. Pria itu berbisik di telinga istrinya,


" Besok kita pergi ke dokter. Aku ingin memastikan sesuatu. "


Namun, ternyata Diandra telah terlelap. Dirinya memang mudah lelah akhir-akhir ini. Raka segera menyelimuti tubuh mereka dan mendekap istrinya erat-erat. Dirinyapun sangat lelah, mungkin saja setelah bangun nanti ia bisa mendapat bayaran kembali.


***


Aora mondar-mandir di dalam kamarnya. Gadis itu memikirkan cara agar bisa keluar dari mansion tanpa dikawal dan datang ke club Austin.


Ia ingin membuktikan pada Jonathan bahwa dirinya bukanlah gadis ingusan yang harus dikawal kemana saja. Dia sekarang sudah dewasa dan mampu menjaga dirinya sendiri.


Sebuah ide tercetus di kepalanya. Ia menelpon sahabatnya Sherly yang kebetulan orang tuanya sedang berada diluar negeri.


Berdalih ingin menemani Sherly, akhirnya Aora mendapatkan izin dari Delia untuk menginap di rumah sahabatnya. Tentu saja dengan ditemani sopir pribadi sekaligus pengawalnya.


Aora dan Sherly mengamati pengawal Aora yang tengah bersantai bersama security lewat kaca jendela kamarnya.


" Kau yakin akan pergi sendiri. Aku takut kau kenapa-napa, Ra. " ungkap Sherly cemas dengan ide gila sahabatnya.


" Kau tenang saja. Setelah pengawalku pergi sebentar, kau minta sopirmu mengantar dan menurunkanku di club Austin. Tapi ingat, jangan sampai dia bilang pada pengawalku. " Aora mengingatkan.


Sherly mendengus pasrah, " Ya sudah aku setuju. Tapi ingat, jaga dirimu baik-baik. " pesan Sherly.


Aora mengacungkan jempolnya. Merekapun mulai menjalankan rencananya.


Aora meminta pengawalnya untuk membelikan pembalut wanita. Alasannya punya Sherly habis dan dirinya kini sedang dilanda sakit perut akibat datang bulan. Dengan terpaksa pengawal itu menjalankan tugas yang menurutnya teramat berat.


" Rencana kita berhasil. " keduanya beradu tos ria setelah berhasil menipu pengawal itu.


Aorapun akhirnya pergi ke club Austin dengan diantar sopir pribadi Sherly.


" Nona? Apa perlu nanti pulangnya saya jemput? " tanya sopir itu ketika melihat sahabat majikannya turun dari mobil.


" Tidak perlu, Pak. Nanti ada yang akan mengantarku sendiri. " ungkapnya penuh percaya diri.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2