
Raka berusaha untuk menahan diri, jangan sampai rasa cemburu merusak sandiwaranya. Entah mengapa nasibnya sungguh sial hari ini. Padahal dirinya masih kesal sebab Lilian baru saja muntah di jas yang ia kenakan. Dan sekarang, ia harus melihat seorang pria menyentuh bibir istrinya.
" Maaf, Tuan, Nona. Pamanku baru saja datang dari kampung. " Asih memilih untuk segera berdiri. Ia tak ingin Raka menjadi salah paham.
Raka menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan, lelaki itu memaksakan senyumnya.
" Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan. Silahkan lanjutkan urusan kalian. " sindir Raka pada Asih.
" Tidak-tidak! Kami sudah tidak ada urusan lagi. Paman hanya mampir dan memastikan keadaanku. Dia akan segera pulang sekarang. Iya kan Paman?" Asih menarik Pak Parno berdiri. Dengan terpaksa lelaki itu menuruti keinginan Asih.
Mood Jonathanpun seketika memburuk. Padahal, baru saja ia tadi hampir menyatakan perasaanya. Akan tetapi, semuanya gagal karena kedatangan Raka dan juga Lilian. Ia memutuskan untuk pergi darisana karena Asih sendiri sepertinya tidak nyaman dengan kehadirannya.
Asih masih berdiri mematung didepan keduanya. Dirinya merasa tak enak hati dengan suaminya. Ingin sekali ia menjelaskan semua pada Raka, tetapi keadaan tidak memungkinkan.
Lilian membuang nafas kasar, ia sungguh tak peduli dengan semua itu. Ia hanya memikirkan apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya sekarang. Belakangan ini dirinya sering mual, muntah dan merasakan pusing di kepalanya. Dan itu membuatnya sungguh tidak nyaman.
" Raka? Bisakah kau mengantarkan aku ke kamar. Tubuhku rasanya begitu lemas. " keluhnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak Raka.
" Baiklah. Aku akan mengantarmu. Sepertinya kau butuh istirahat yang cukup. Aku tidak ingin kau kenapa-napa."
Keduanya berlalu begitu saja meninggalkan Asih dan menaiki tangga menuju ke lantai atas.
Ini kali pertama Lilian membawa Raka ke dalam kamarnya. Raka membantu wanita itu berbaring di atas ranjangnya. Saat hendak pergi, tiba-tiba saja Lilian menarik lengan pakaiannya.
" Raka? Tak bisakah kau disini sebentar saja. Aku masih ingin bersama denganmu. " ungkapnya memelas.
Raka perlahan melepaskan tangan Lilian dari lengannya. Dalam pikirannya saat ini, ia ingin menemui istrinya mumpung keadaan di mansion sedang sepi.
" Maaf. Tapi aku harus segera kembali ke kantor. Apalagi kondisimu sekarang sedang tidak sehat. Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa keadaanmu. " tolak Raka halus.
Lagi-lagi Lilian harus menelan kekecewaan, ia tahu Raka masih menjaga jarak darinya. Tetapi, dirinya tak akan menyerah begitu saja. Suatu saat dia pasti berhasil merebut hati Raka.
" Tidak perlu. Nanti aku akan menghubungi dokter pribadiku saja. Kau kembalilah, pekerjaanmu menunggu. "
Raka langsung keluar dari kamar Lilian. Ia segera mencari keberadaan Diandra saat ini.
***
Diandra mengurung diri di kamarnya, tak dapat dipungkiri dirinya merasa cemburu saat Lilian bermanja-manja dan menyentuh tubuh suaminya.
__ADS_1
Ia melempar tubuhnya ke ranjang lalu memukul-mukul guling untuk melampiaskan kekesalan.
" Apa-apaan dia! Menyentuh suami orang sembarangan. Dasar penggoda." gerutunya seorang diri.
Dan saat mengingat Raka, dirinyapun merasa sebal dengan pria itu.
" Dan dia? Bisa-bisanya malah diam saja saat Lilian menyentuhnya. Apa dia juga suka Lilian bermanja-manja dengannya? Dasar buaya! " umpatnya kesal.
Tanpa Diandra sadari, Raka telah berada di kamarnya dan mendengar semua ucapannya barusan. Entah kenapa ia ingin tertawa sendiri melihat tingkah konyol Diandra saat sedang cemburu.
Diandra mendengar seperti ada seseorang tertawa dibelakangnya. Wanita itu langsung menengok, netranya membola saat mengetahui Raka berada di kamarnya. Iapun langsung bangkit duduk ditepi ranjangnya.
" Ra.." hampir saja dirinya berteriak jika saja Raka tidak membungkam mulutnya.
" Pelankan suaramu. Jangan sampai ada yang mendengarnya. "
Raka mulai melepaskan tangannya dari mulut Diandra. Tak tergambarkan betapa bahagia lelaki itu bisa berada di dekat istrinya kembali. Ia langsung memeluk Diandra setelahnya.
" Aku sangat merindukanmu. "
Tentu saja hati Diandra meleleh mendengarnya. Iapun membalas pelukan lelaki itu dengan begitu erat.
Raka menunjuk Liontin yang ada di dada istrinya.
" Bukankah dari dulu sudah aku katakan. Jangan pernah kau melepas Liontin ini. Aku hanya bisa menjagamu dari sini. "
" Oh ya, satu lagi. Aku tidak suka melihat siapapun menyentuhmu. Terutama, lawan jenis. " tegas Raka.
Tanpa basa-basi Raka langsung ******* bibir Diandra dengan liar bahkan hingga bagian luarnya. Ia tak mau ada bekas siapapun yang menyentuh istrinya.
" Hah! "
Diandra mendorong pelan tubuh Raka, ia sampai kehabisan nafas akibat ciuman Raka yang begitu menekan.
" Maaf. Aku selalu saja tak mampu menahan diriku jika bersamamu. " sesal Raka.
Bahkan juniornya ikut menegang akibat ciumannya yang begitu menuntut.
" Aku harus segera pergi sebelum ada yang melihatku. " cetus Raka. Jika diteruskan, tentu semua akan jadi panjang ceritanya.
__ADS_1
" Baiklah. Tapi kau harus berhati-hati, disini banyak sekali CCTV. " Diandra memperingatkan.
" Kau tenanglah. Aku akan baik-baik saja. Tapi satu hal, tolong jangan terlalu percaya dengan asistenmu itu. Aku tahu dia juga suka padamu." pinta Raka dengan serius.
Diandra justru terkekeh mendengarnya,
" Kau masih cemburu gara-gara tadi? Aku dan Jonathan sudah berteman sejak dulu. Aku tahu bagaimana dia yang sebenarnya. Dia itu suka bermain dengan wanita . " jelas Diandra.
Namun, seketika dirinya teringat akan perbincangannya dengan Jonathan tadi.
" Apa benar Jonathan menyukaiku? Ah.. rasanya tidak mungkin." benaknya mengelak.
Raka melihat perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba saja diam. Ia rasa Diandra sedang memikirkan sesuatu tentang pria itu dan hal itu membuatnya kesal.
" Salah satu detektif sewaanku melihat Jonathan bertemu dengan Livia dan Dedy. Tapi, dia masih belum tahu seberapa dekat mereka. Aku hanya ingin kau tetap waspada dan jaga selalu hatimu untukku."
Ucapan Raka berhasil mengembalikan kesadarannya. Diandra mengangguk dengan bersungguh-sungguh.
" Kaupun harus percaya padaku. Di hatiku hanya ada satu nama yakni Raka Syailendra. "
DEG..DEG..DEG..
Hati Raka berdegub kencang mendengar ucapan dari istrinya.
Kata-kata itu berhasil membangkitkan gairah yang sedang ia tahan sedari tadi. Raka langsung merengkuh tubuh Diandra dan berniat mencium wanitanya kembali. Untung saja Diandra segera menahannya.
" Ka-u harus segera pergi sebelum ada yang melihat! " ucapnya gugup. Tubuhnya sedikit tertekan akibat pelukan Raka yang begitu kuat.
" Shittt!! Padahal aku ingin sekali
melakukannya denganmu. " dengan terpaksa ia melepaskan tubuh istrinya dan bangkit dari ranjang.
Dengan langkah berat pria itu hendak berjalan keluar dari kamar tersebut. Namun, ketika akan memutar gagang pintu, pria itu lagi-lagi berhenti dan sekali lagi menatap istrinya.
" Aku berjanji akan segera menyelesaikan semuanya. Setelah itu, hal yang sangat ingin aku lakukan adalah mengurungmu di kamar dan menghabiskan sepanjang waktu denganmu. " ucapnya sebelum pergi.
Wajah Diandra merona, ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu jika mereka bisa bersatu. Mengingat selama ini keduanya baru merasakannya sekali dan itupun dalam keadaan yang mendesak.
Bersambung...
__ADS_1
Tetep aku usahakan up meskipun sekarang lagi dikejar pesanan. Dukung terus novel ini ya...Makasih