Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
KEUSILAN RAKA


__ADS_3

Sore itu, Raka dan Diandra berpamitan pada ibu panti untuk kembali ke kota.


" Jangan lupa. Ibu tunggu kabar baiknya. " goda Bu Panti pada dua sejoli itu.


Keduanya sontak tersipu karenanya, hingga membuat anak-anak di panti ikut mengejek mereka...


" Cieeee.....Cieeee..."


Semua tertawa renyah, mereka juga menyayangi pasangan tersebut. Raka segera pasang badan melihat wajah kekasihnya sudah seperti tomat matang.


" Tenang, tenang. Nanti jika Kak Raka dan Kak Diandra menikah? Kalian semua pasti akan diundang secara khusus oleh kami.


" Horeee..."


Anak-anak berteriak kegirangan sedangkan kedua sejoli itu saling menatap sekilas. Ada kebahagiaan tersendiri di hati Diandra mendengar Raka dengan penuh keyakinan berniat menikahinya.


Mereka menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai ke kota. Sepanjang perjalanan suasana dalam mobil terasa cukup hangat bagi keduanya.


Keduanya saling bertukar cerita dan saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Masa perkenalan yang terlalu singkat seolah hanya mampu menunjukkan satu sisi koin dari keduanya.


Diandra baru menyadari jika Raka juga memiliki sisi humoris, sungguh berbeda dari yang dilihat sebelumnya. Raka selalu menunjukkan sikap tegas dan berwibawa di depan orang lain. Begitupun Diandra, wanita yang terlihat sangat pandai dan sempurna itu ternyata minim sekali pengalaman memasak. Ia teringat saat di kediaman Adijaya, Bi Lastri yang selalu membantunya agar tidak terkena amukan Nyonya Livia.


Sesekali mereka bercerita tentang saat mereka bersama dulu. Meski hanya sebentar, Raka seolah merekam memori itu dengan baik di kepalanya. Detik demi detik bersama Diandra terasa begitu bernilai baginya.


" Kau tahu? Setiap aku berkunjung ke panti, aku pasti pergi ke rumah pohon. Berharap agar bisa bertemu kembali denganmu disana. Dan setiap tahun pertemuan kita, aku selalu mengukirnya disana. Tak kusangka, akhirnya tahun ini aku bisa bersama denganmu. " ungkap Raka dengan binar-binar kebahagiaan diwajahnya.


Lalu, sambil memasang wajah cemberut, ia menengok kearah Diandra.


" Aku yakin kau sama sekali tak mengingatku! " ucapnya bernada ancaman hingga membuat Diandra terkekeh geli melihatnya.


" Kau tahu kan, dulu aku masihlah gadis kecil nan polos. Mana tahu soal cinta? Setelah pertemuan kita waktu itu, aku kembali ke panti Nirmala menemui ibuku. Beliau memarahiku karena telah membuatnya khawatir dan cemas. Waktu itu, kami akan pindah ke luar negeri untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan Papa yang ada disana. Jadi aku tidak sempat menemuimu lagi, aku hanya berpesan pada ibu panti supaya menolong anak laki-laki yang ada di rumah pohon. Dia sedang terluka. " jelas Diandra.


" Tapi, aku telah memberikan boneka teddy dan syal buatan ibu padamu. Aku sangat menyukai keduanya, mereka selalu menemani tidurku. Hampir sebulan aku menangis, ibu membelikanku boneke tedy yang baru. Tapi, rasanya tidak seperti teddyku yang lama." ungkap Diandra.

__ADS_1


" Oh ya? Jadi,, boneka itu adalah boneka kesayanganmu dan selalu menemani tidurmu begitu? " tekan Raka.


" He,,emm aku sangat menyayangi boneka itu. Itu boneka yang diberikan oleh Papa di ulang tahunku yang kelima. " tegas Diandra.


Raka menyeringai sembari menggodanya,


" Baiklah. Sebagai gantinya aku akan menggantikan boneka teddy. Menemanimu dan memelukmu! " goda Raka spontan membuat netra Diandra membola karenanya.


" Tapi setelah menikah tentunya. " imbuhnya diiringi gelak tawa.


" Idih...Kau nakal ya! "


Diandra refleks mencubit pinggang Raka, hingga secara mendadak Raka mematikan laju mesinnya.


Diandra yang memang tak memasang seatbelt dengan benar hampir saja tersungkur kearah Raka.


" Sorry. "


" Cup. "


Satu kecupan singkat berhasil mendarat dibibir Diandra hingga membuat gadis itu salah tingkah karena malu.


" Maaf, tapi aku benar-benar sulit untuk mengendalikan diriku saat bersamamu. Tapi aku tidak menuntut yang lebih dari itu."


Diandra tersenyum membelakangi Raka, pipinya tengah merona saat ini.


" Kau tahu? Apa yang sangat kuingginkan saat ini? " tanya Raka.


" Apa? " balas Diandra tanpa melihat lawan bicaranya.


" Membawamu ke KUA dan menikahimu sekarang juga. " goda Raka kembali.


Diandra terkekeh dibuatnya, ia tak menyangka jika Raka seusil ini.

__ADS_1


" Dasar mesum. Ayo cepat jalan. Lama-lama aku bisa gila kerenamu. " celetuk Diandra.


" Kau memang sepertinya telah tergila-gila padaku. Buktinya kita sudah sampai dan kau belum menyadari itu. Sepertinya kau begitu menikmati kebersamaan kita. " kekeh Raka kembali.


Netra Diandra kembali membola, ia melihat ke samping, ternyata mereka telah tiba di depan pintu gerbang.


" Oh astaga...Untung saja tidak ada yang melihat kami barusan. " batinnya lega.


" Ya sudah, aku mau turun. " Diandra hendak keluar, tetapi Raka kembali menahannya.


" Berikan ciuman perpisahan sementara kita terlebih dulu, baru kau boleh pergi. " ancam Raka.


" Apa? Memang ada ciuman seperti itu? " Diandra merasa heran.


Raka menunjuk sebelah pipinya,


" Jika kau tidak mau, aku akan menciummu lebih dari ini. " ancamnya kembali.


" Dasar pemaksa."


" Cup. "


Mau tidak mau Diandra mencium sekilas pipi Raka sebelum meninggalkan mobilnya. Iapun berlari masuk ke dalam mansion karena malu.


Raka menyeringai sembari mengelus sebelah pipinya.


" Jika begini, aku jadi semakin tak sabar menikahimu. " gerutunya senang.


Namun, dibalik kebahagiaan mereka, seseorang kini tengah terbakar cemburu. Ia merutuki kebodohannya karena tak menyadari perasaannya sedari dulu.


" Sial. Dia benar-benar mendapatkan hati Diandra! " Jonathan memukul stir mobilnya karena kesal. Ia memang menunggu kedatangan Diandra sedari tadi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2