
" Ya Ampun.. Apa yang mereka lakukan ?"
Bu Delia langsung menutup mata putri bungsunya, ia sendiri begitu terkejut melihat gaya berpacaran putra sulungnya yang cukup bebas menurutnya. Ia takut putrinya yang masih berkuliah mencontoh apa yang tadi tanpa sengaja ia lihat.
" Aora.. Kau keluarlah terlebih dahulu. Mama akan berbicara secara pribadi dengan kakakmu. "
" I..iya Ma. " jawab putrinya gugup.
Dada Aura berdebar rasanya melihat adegan dewasa yang hanya pernah ia lihat di film korea atau di novel- novel yang pernah ia baca. Orang tuanya sendiri memang sangat protektif mengenai pergaulan putrinya.
Aura mundur beberapa langkah tanpa membalik badan. Pintu ruangan kakaknyapun ditutup rapat oleh Delia, menandakan belum ada yang boleh masuk kesana.
Gadis itu menggoyangkan kepala saat ingatan adegan panas sang kakak meracuni otaknya.
" Ishhh.. kenapa otakku jadi terkontaminasi seperti ini? " batinnya bergidik ngeri.
Iapun kembali berjalan mundur, hingga tanpa sadar menabrak seseorang dibelakangnya.
" Aww...Apa yang kau lakukan? Kalau jalan pakai mata! "
Netra Aura membulat sempurna lantaran kaget mendengar seseorang berteriak dan marah-marah padanya. Ia langsung berbalik dan meminta maaf.
" Eh...Maaf..maaf. Aku benar- benar tak sengaja."
Aora sampai tak berkedip saat melihat pria tampan mirip oppa korea meringis menahan nyeri di kakinya.
Jonathan menatap tajam pada gadis itu. Dirinya yang baru saja kembali dari toilet sungguh apes harus berurusan dengan gadis ingusan yang entah darimana asalnya.
" Kenapa melihatku seperti itu? Apa kau belum puas membuat kakiku nyeri seperti ini. Dasar bocah bau kencur."
Pria itu mengomel dan memandang remeh pada Aora. Ia tak menyangka gadis semuda itu memakai heels yang begitu tinggi dengan ujung yang runcing ditempat seperti ini.
Aora tak terima, netranya yang berbinar kini berubah menjadi tatapan kesal pada pria didepannya.
" Apa kau bilang? Bocah bau kencur? Enak saja. Aku ini sudah dewasa, umurku sudah dua puluh tahun sekarang. " ucapnya polos.
Jonathan menyeringai, jiwa playboynya muncul kembali melihat gadis yang menurutnya terlalu lugu itu. Ia mendekatkan wajah lalu berbisik di telinga Aora.
__ADS_1
" Benarkah kau sudah dewasa? Kalau benar? Bagaimana seandainya kita buktikan diatas ranjang. " bisiknya menggoda.
Tubuh Aora meremang saat merasakan nafas Jonathan yang menyapu kulit lehernya yang putih.
" Dasar pria mesum! Beraninya mengatakan hal itu padaku."
Aora menimpuki Jonathan dengan tasnya. Lelaki itu sungguh tidak memiliki sopan santun menurutnya.
" Hei..Hentikan..Hentikan! Aku cuma bercanda. "
Namun, Aora yang masih kesal tetap menimpuki Jonathan hingga jera. Untung saja ada asisten Felix yang datang dan melerai keduanya.
" Nona. Ada apa ini? Sudah, saya mohon hentikan. " pinta asisten Felix melerai keduanya.
" Paman pria ini sungguh tidak sopan! Apa Paman mengenalnya? Paman harus memberinya pelajaran. " tunjuk Aora ke Jonathan.
Paman Felix mengerutkan keningnya.
" Memangnya apa yang sudah Jonathan lakukan pada anda, Nona? "
Aora menelan kasar salivanya, manamungkin ia mengatakan jika pria itu mengajaknya berhubungan suami istri. Wajahnya memerah mengingat hal itu belum lagi dengan kelakuan kakaknya barusan.
Aora menerobos dua pria didepannya dengan cukup keras.
Paman Felix semakin bingung melihat Aora kesal tak beralasan. Sedangkan Jonathan, pria itu menyeringai senang.
" Dia menarik juga. Sayangnya masih terlalu kecil untukku. "
***
Suasana ruang VVIP tempat Raka dirawat menjadi tegang saat ini. Diandra sama sekali tak berani mengangkat wajahnya karena malu.
Delia berjalan mendekat sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia menatap tajam dua sejoli itu secara bergantian.
Baru saja ia hendak melayangkan teguran, Raka sudah memotong ucapannya.
" Ckck.. Mama mengganggu kesenangan orang saja. " protesnya pada sang Mama.
__ADS_1
Delia mendelik seketika, bisax-bisanya Raka menyebutnya penggangu diantara mereka.
" Apa katamu? Mama mengganggu? Astaga Raka, apa otakmu sudah terbalik? Mama benar- benar tak habis pikir. Bisa-bisanya kalian berbuat tak senonoh ditempat seperti ini. " wanita itu mengomeli putranya. Kini ia beralih menatap Diandra.
" Nona? Aku sungguh tidak menyangka jika kalian bisa berbuat sejauh itu. Aku tahu kalian saling mencintai, tapi sebagai seorang wanita harusnya kau menjunjung tinggi kehormatanmu. "
Raka mencebik kesal, tiba-tiba ia menarik Diandra lalu mengecup bibir wanita itu didepan Mamanya.
Delia terperangah seketika, apalagi Diandra sama sekali tak menduga Raka akan menciumnya.
" Ka-u? " Delia sampai kesulitan untuk berkata-kata.
" Memangnya kenapa kalau Raka mencium istri Raka sendiri? Bukankah, dia sepenuhnya sudah menjadi milik Raka? "
" Apa? kalian sudah menikah? Tapi kapan? Kenapa tidak memberitahu Mama dan Papa? " Delia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Kedua sejoli itu saling melempar senyuman. Rakapun mulai menceritakan apa yang dialaminya bersama Diandra hingga mereka terpaksa menikah siri.
Meskipun awalnya sedikit kecewa,
tetapi Delia bisa memaklumi setelah mendengar penjelasan Raka.
Ia mendekati Diandra lalu memeluk wanita yang berstatus menantunya sekarang.
" Maafkan sikap Mama selama ini padamu. Mama selama ini telah terhasut oleh Livia dan Lilian. Mama sungguh bahagia, akhirnya cinta kalian bisa bersatu." tanpa terasa airmata Delia ikut bergulir mengingat sikap buruknya pada Diandra dahulu.
Diandra membalas pelukan itu. Hatinya menghangat, ia seolah menemukan sosok ibu yang selama ini dirindukannya.
" Tentu saja, Ma. Aku pasti memaafkan Mama. Semoga kedepannya kita bisa menjadi keluarga yang utuh dan saling menyayangi. "
Seulas senyum tersimpul di wajah cantik Diandra. Perlahan kebahagiaan mulai menghampiri kehidupannya.
" Eherm...Eherm...sudah selesai berpelukannya? Apa kalian melupakan kehadiranku. " sindir Raka yang merasa terabaikan sekarang.
Kedua wanita beda masa itu saling melempar tawa dan menghampiri Raka.
" Cepatlah kau sembuh. Setelah kau sembuh nanti, kita akan mengadakan resepsi pernikahan kalian. Kita harus membagikan kabar bahagia ini kepada semua orang. "
__ADS_1
Bersambung...