
" Tunggu!! "
Aora berhasil melepaskan diri dari pria yang membungkam mulutnya. Namun sial, mobil Jonathan telah berlalu dari tempat itu dan lututnya kini lecet membentur lantai basement.
Gadis itu menangis, dirinya merasa putus asa sebab tidak ada lagi yang bisa menolongnya. Ia mencoba berdiri, tetapi dirinya kesulitan.
" Ayo Girls. Cepat ikut kami! "
Salah seorang pemuda menariknya kembali. Gadis itu berusaha kabur, namun kakinya yang terluka membuatnya tak mampu berbuat banyak. Dirinya justru diseret pemuda itu menuju mobil mereka.
" Hei! Berani sekali kalian berbuat kasar pada perempuan! Dasar baj****n! "
Aora langsung menengok kesumber suara. Dirinya begitu lega melihat pria yang kini berdiri gagah dibelakangnya.
" Jonathan? "
Jonathan segera menghampiri mereka.
" Lepaskan gadis itu! "
Bukannya takut, justru kini keempat pemuda itu malah menertawakannya.
" Kau pikir kami takut padamu! " ejek salah satu diantaranya.
Tanpa basa-basi Jonathan langsung menghadiahi mereka dengan bogem mentah. Hanya dalam hitungan menit, keempatnya telah babak belur oleh Jonathan.
Aora yang saat ini masih bersimpuh dilantai memandangi lelaki itu dengan penuh kekaguman saat pria itu menghajar lawan-lawannya. Jonathan sudah seperti seorang super hero yang menolong kekasihnya seperti film-film bioskop yang ia tonton.
Pria itu kini berdiri dihadapan Aora, ia sampai geleng-geleng kepala melihat tampilan Aora yang begitu berani.
" Ayo, bangun. Apa kau mau tidur disini! " bentaknya kesal.
" Aku..aku tidak bisa berdiri. Kakiku sakit. " keluh Aora.
" Dasar manja. Pakai ini. "
Jonathan melempar jaket yang dipakainya pada Aora. Gadis itupun segera memakainya, bahkan jaket itu nampak lebih panjang dibandingkan pakaian yang dikenakan Aora saat ini.
Jonathan mencoba memapah gadis itu , tetapi karena tidak sabar jalannya seperti keong. Ia memutuskan menggendong Aora ala bridal style menuju mobilnya.
Lagi-lagi Aora dibuat kagum oleh aksi heroik lelaki itu. Menurutnya Jonathan adalah pria yang sangat keren meskipun ia nampak dingin dan kurang bersahabat.
" Sekarang aku akan mengantarmu pulang. " ucapnya saat di dalam mobil.
" Tidak! Tidak! Kumohon jangan. Keluargaku pasti marah jika sampai mereka tahu aku pergi ke club. " tolak Aora seketika.
" Aku tak peduli. " ungkap Jonathan datar.
" Ayolah, please. Aku mohon. Kalau kau membawaku pulang, aku akan mengatakan pada orang tuaku jika kau yang menyuruhku."
" Kau! "
Jonathan hampir terpancing emosi, tetapi benar juga apa yang dikatakan gadis itu. Apalagi hubungannya dengan Raka tidak begitu baik.
__ADS_1
" Kau mau aku mengantarmu kemana? "
" Ke apartemenmu. " jawab Aora santai.
Jonathan menatap tajam gadis itu, tetapi Aora justru seakan tak peduli dengannya.
Gadis itu menceritakan yang sebenarnya. Jika ia diantar ke rumah sahabatnya sekarang, pasti pengawalnya akan tahu bahwa dirinya telah kabur.
Dengan terpaksa Jonathan membawa Aora ke apartemennya. Dirinya sangat kesal, padahal tadi dimobil Aora tertawa cekikikan dengan sahabatnya. Tetapi, saat hendak turun dari mobil, gadis itu kembali merintih kesakitan. Alhasil, dirinya harus menggendong kembali Aora ke dalam apartemennya.
Lelaki itu menjatuhkan Aora dengan kasar diatas sofa.
" Aww..sakit tahu. Kau benar-benar tak berperasaan. " gerutunya sebal. Ia kembali memegangi lututnya yang terasa perih.
Meskipun kesal, Jonathan tetap tak tega melihat gadis itu kesakitan. Ia segera mengambil kotak P3K dan membersihkan luka di lutut Aora.
" Sial. Kenapa kakinya mulus begini? " batinnya mengumpat. Padahal semenjak menyadari perasaannya pada Diandra, ia sama sekali tak tertarik pada wanita lain. Apalagi ini hanyalah seorang gadis kecil.
Aora lagi-lagi luluh dengan perhatian Jonathan. Tidak salah lagi, pria ini sepertinya telah berhasil merebut hatinya.
" Terima kasih. Kau ternyata pria yang begitu perhatian dan bertanggung jawab. Sebagai wujud terima kasihku, aku memilihmu menjadi pacarku. Kau harus bangga, sebab diantara begitu banyak pria yang mencintaiku hanya kau satu-satunya yang aku pilih. " ungkap Aora bangga.
Namun berbeda dengan Jonathan, pria itu justru melongo. Ia tak menyangka ada gadis yang begitu percaya diri bahkan memaksa seorang pria untuk menjadi kekasihnya.
***
" Dokter? Bagaimana? Apa istriku memang hamil? "
Raka begitu antusias menunggu jawaban dari Dokter spesialis kandungan.
Sang Dokter yang sebenarnya kesal berusaha bersikap profesional.
Bagaimana tidak kesal? Raka pagi-pagi datang kesana dan memaksa masuk padahal tempat praktek belum buka. Belum lagi kecemburuan pria itu saat Dokter menyingkap sedikit atasan istrinya, Raka hampir saja menampik tangan sang Dokter ketika hendak menyetuh perut Diandra.
" Tuan? Jika saya tidak menyentuh perut istri anda? Bagaimana saya tahu Nona sedang hamil atau tidak?"
Raka terdiam menanggapi ucapan sang Dokter. Dalam hati ia merutuki kebodohannya sebab membawa Diandra ke dokter pria bukan dokter wanita hanya karena dokter ini paling terkenal di kota.
Diandra sampai heran, ia tak menyangka suaminya begitu posesif sampai-sampai lupa menggunakan logikanya.
" Baiklah. Tapi sebentar saja, jangan lama-lama. " tegas pria itu sembari mengamati tangan dokter yang bekerja, jangan sampai ia kecolongan tentunya.
Sang Dokterpun sampai geleng-geleng kepala. Untung saja ia mengenal baik keluarga Syailendra, jika tidak ia pasti memilih tidur dari pada meladeni pria didepannya.
Diandra dan Raka kini tengah harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan.
Sang Dokter secara bergantian menatap keduanya,
" Tuan, Nona. Sebelumnya saya mohon maaf.. "
Belum juga sang Dokter menyelesaikan ucapannya, raut wajah keduanya nampak lesu terutama Diandra. Ia takut mengecewakan suaminya.
" Saya mohon maaf harus menyampaikan bahwa Nona sepertinya harus banyak beristirahat sebab saat ini anda sedang hamil muda dengan usia kandungan empat minggu. " ungkap sang Dokter tersenyum pada keduanya. Iapun menunjukkan foto hasil USG milik Diandra.
__ADS_1
Keduanya menatap foto yang masih berwujud gumpalan itu dengan netra yang berbinar. Raka langsung memeluk sang istri untuk meluapkan kebahagiaannya.
" Terima kasih, Sayang. Aku berjanji akan menjadi suami sekaligus Papa terbaik untuk kalian berdua. " ungkapnya sembari mengusap perut istrinya yang masih rata.
Diandrapun membalas pelukan suaminya dengan begitu erat. Dirinya juga tak kalah bahagia sekarang, rasa khawatir bahwa ia akan sulit mengandung akhirnya lenyap dari dalam pikirannya.
Keduanyapun memutuskan untuk segera kembali ke mansion Syailendra. Mereka tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini pada orang tuanya. Diandra berencana mengundang Papa Burhan makan malam disana dan mengumumkan berita kehamilannya malam nanti.
Disepanjang perjalanan pulang, keduanya masih saling berpelukan. Raka menghujani istrinya dengan begitu banyak kecupan di wajah istrinya.
" Oh ya? Biasanya wanita hamil suka mengidam sesuatu. Eum ..apa saat ini kau tidak menginginkan sesuatu? " tanya Raka penuh percaya diri. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi suami siaga bagi istrinya.
Diandra menggelengkan kepala dengan malas. Memang dirinya sedang tidak menginginkan apa-apa saat ini. Ia justru merasa nyaman dalam pelukan Raka seperti sekarang.
" Oh ayolah, Sayang! Anak kita harus tahu jika Papanya ini sangatlah hebat dan bisa diandalkan. " paksa Raka kembali, tetapi Diandra nampak tak bersemangat menjawabnya.
Hingga mobil hampir berhenti dilampu merah, Diandra melihat seorang pengamen tengah bernyanyi sambil memainkan gitar ditangannya.
" Raka? Apa kau mau menyanyi? "
Pertanyaan Diandra sukses membuat kening Raka berkerut karena heran. Tetapi, jika hanya menyanyi itu bukanlah hal yang sulit bagi Raka. Dirinya bahkan pernah berduet dengan Diandra saat resepsi pernikahan mereka.
" Baiklah. Sekarang katakan, kau mau aku menyanyi lagu apa? " tanyanya bersemangat.
" Aku ingin kau menyanyikan lagu cinta, tapi bukan disini melainkan disana. " Diandra menunjuk kearah pengamen yang dilihatnya.
Netra Raka terbelalak seketika. Menyanyi? Dipinggir jalan dekat lampu merah? Itu sungguh tidak pernah terbayangkan olehnya. Pasti orang-orang akan menertawainya, belum lagi mau ditaruh mana mukanya jika sampai ada rekan bisnisnya yang tahu.
" Sayang? Yang benar saja? Manamungkin aku bernyanyi disana? Tidak! Tidak. Aku tidak bisa. " tolaknya seketika.
Raut wajah Diandra berubah sendu, padahal tadi suaminya yang bersikukuh ingin menuruti keinginannya.
" Ya sudah kalau kau tidak mau. Kau sendiri yang menawariku barusan, tapi ternyata kau tidak benar-benar sayang padaku dan baby kita. " ia mendorong tubuh Raka dan memalingkan wajahnya.
Raka membuang nafas kasar, jika tahu begini tentu ia akan menarik semua kata-katanya barusan.
" Maaf. Bukan begitu maksudku. Hanya saja kau tahu bukan? Di jalan ini banyak sekali kendaraan. Aku takut jika sampai rekan kerjaku melihat. Mereka pasti meremehkanku. Bagaimana jika kau meminta yang lain saja? " bujuknya pada sang istri.
" Tidak. Jika kau tak mau ya sudah. Aku tak menyangka ternyata kau hanya membual saja! " sindir Diandra kesal.
" Kau tahu? Dari dulu aku melihat pengamen dengan pakaian dekil dan seadanya. Aku ingin sekali melihat seorang pengamen yang tampan dan kaya. Kau harus merasakan bagaimana sulitnya menjadi mereka yang harus bersusah payah hanya demi mencari uang recehan. " ungkap Diandra panjang lebar.
Raka membuang nafas kasar, sebagai pria sejati pantang baginya menelan ucapannya sendiri. Pria itu berjalan keluar dan meminta pengamen barusan untuk meminjamkan gitarnya.
Diandra yang masih memalingkan wajah, langsung berbalik kala mendengar suara yang begitu akrab di telinganya. Senyumnya mengembang sempurna melihat Raka bermain gitar sambil bernyanyi dipinggir lampu merah seperti keinginannya.
Wanita itupun berhambur keluar dan ikut bernyanyi disisi Raka.
Banyak kendaraan berhenti yang mengabadikan moment ini lewat kamera maupun video. Bahkan sebagian mengunggahnya di youtube agar bisa menjadi trending topik minggu ini " Suami idaman rela mengamen demi menuruti istrinya yang mengidam. "
Sang pengamen memanfaatkan hal ini untuk meminta sumbangan dari para pengendara. Senyumnya mengembang sempurna saat melihat uang yang masuk kedalam topinya. Ada hijau, biru, merah tidak seperti biasanya yang hanya berupa koin atau abu-abu saja.
Mungkin calon baby Diandra akan menuruni sifat neneknya yang memiliki kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi di masyarakat.
__ADS_1
Bersambung...