Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
RUMAH POHON KENANGAN


__ADS_3

" Apa kita akan ke Panti Nirmala? "


Diandra memberanikan diri untuk kembali bertanya. Dirinya yakin tujuan Raka memang kesana, tetapi untuk alasan mengapa ia masih belum mengerti.


Raka hanya tersenyum menanggapi. Ia menengadah kearah langit, ada gurat kekecewaan disana karena langit senja itu mulai tertutup mendung.


Raka menepikan mobilnya sesaat, pria itu seperti tengah mengirimkan pesan pada seseorang. Setelah beres, iapun kembali melajukan mobilnya perlahan.


Malam menjelang, Diandra cukup terkejut ketika Raka mengambil jalan yang berbeda saat hampir tiba di ujung desa tempat panti Nirmala berada.


Dan yang lebih mengejutkannya kembali, mereka kini berhenti disebuah rumah pohon yang letaknya berada di atas bukit.


Dibawah rumah pohon telah terhias lampu kerlap-kerlip hingga membuat keindahan taman yang berada dibawahnya semakin mempesona. Ditambah beberapa ornamen bunga yang membuat tempat tersebut serasa begitu romantis.


Netra Diandra dibuat kagum oleh keindahan taman tersebut. Tapi dirinya penasaran, bagaimana Raka juga bisa menemukan tempat ini? Ia langsung menengok kearah Raka untuk menuntut jawaban.


" Kau juga tahu rumah pohon ini? " tanyanya penasaran.


Raka hanya tersenyum kembali tanpa memberikan jawaban pada Diandra.


" Ayo kita turun dulu. " ajaknya pada Diandra.


Wanita itu mencebik kesal lantaran tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, tetapi iapun turun dan berjalan seiring dengan Raka menuju rumah pohon itu.


Hembusan angin cukup dingin menusuk hingga ke kulit mereka. Raka menggandeng Diandra untuk naik ke atas rumah pohon.


Diandra kembali dikejutkan manakala didalam rumah pohon tersebut telah tersaji beberapa hidangan yang begitu menggugah selera. Ruangan dalam rumah pohon itupun dihiasi temaram lilin dan cahaya lampu hingga nampak begitu romantis.


Netranya langsung terkunci pada sebuah boneka teddy bear yang mengenakan syall dilehernya. Ia sangat mengenal boneka itu, dengan sigap ia menghampiri boneka tersebut untuk memastikan.


" Ini? Ini milikku, boneka kesayanganku dulu. Dan ini, ini syall yang dirajut oleh Mamaku sendiri." ungkapnya tak percaya bisa menemukannya kembali.

__ADS_1


Netranya kini tertuju pada pria yang duduk di depan pintu rumah pohon sambil menatap kearah langit. Diandrapun segera menghampiri Raka dan duduk disebelahnya.


" Bagaimana kau bisa mendapatkan boneka dan syall kesayanganku. Apa jangan-jangan kau? "


Netra keduanya saling beradu. Dari sorot mata Raka, Diandra bisa membaca bahwa semua persangkaannya itu benar.


" Kau? Anak laki-laki - yang- terluka- waktu itu? ungkapnya terbata-bata.


Raka kembali mengukirkan senyumnya ketika melihat ekspresi Diandra yang begitu terkejut.


" Ya, aku anak laki-laki yang kau tolong waktu itu. Anak laki-laki yang setiap saat menaruh harapan agar bisa bertemu denganmu kembali. Anak laki-laki yang mulai bisa merasakan benih kekaguman dalam dirinya berubah menjadi cinta meskipun tak tahu dimana sang pujaan hati berada. " ungkap Raka setulus hati.


Diandra mematung seketika, ini benar-benar diluar dugaannya.


Mungkin inilah yang dinamakan takdir saling mengikat, dimana mereka yang pernah bertemu, setelah sekian lama tak bersua akhirnya dipertemukan kembali dengan keadaan yang berbeda.


" Setiap hari aku selalu menunggu saat ini. Saat dimana aku dipertemukan kembali dengan wanita yang telah membawa hatiku sedari awal. " ungkap Raka kembali.


" Hei, kenap kau hanya diam dan menatapku saja? Apa kau kira aku ini aneh? Aku sedang mengungkapkan perasaanku padamu! " celetuk Raka kesal lantaran Diandra sama sekali tak menanggapinya.


Wanita itu gelagapan dan terbangun dari lamunannya saat mendengar nada protes Raka.


" Maafkan aku. Akupun tak menyangka kita bisa bertemu kembali sekarang. " Diandra hanya menyengir lantaran tak tahu harus berkata apa.


Raka mendengus halus,


" Sepertinya benar. Hanya aku yang jatuh cinta dan tertarik padamu waktu itu. Dan kau, bahkan mungkin kau sudah lupa dengan apa yang kita alami dulu. " keluhnya kembali.


" Bukan begitu! Kau sendiri tahu bukan saat itu aku masih kecil. Kau tahu? Aku sangat menyayangi boneka dan syall pemberian Mama waktu itu. Hampir setiap malam aku menangis mengingat boneka yang selalu menemani tidurku tidak ada. Tapi, aku berharap kau yang aku sendiri tidak tahu siapa namanya, mau menjaga dan merawat bonekaku itu. " jawab Diandra jujur.


" Terima kasih. Kau sudah menjaga mereka dengan baik. " ungkapnya tulus dengan sorot mata yang berbinar.

__ADS_1


Raka sangat senang mendengarnya, setidaknya Diandra masih mengingat kejadian belasan tahun silam.


Keduanya saling bertukar cerita tentang masa lalu mereka. Mengingat saat seorang gadis kecil merawat dan menalikan syal kesayangannya demi menutup luka Raka.


Tampak binar kebahagiaan diwajah keduanya, namun satu hal yang membuat Raka sedikit kecewa. Udara semakin dingin dan langit yang tertutup mendung kini mulai menurunkan rintik-rintik hujan.


Harusnya mereka bisa menikmati langit malam bertabur bintang malam ini. Akan tetapi, cuaca seperti sedang tidak bersahabat.


Mereka memutuskan masuk kedalam dan menikmati makan malam yang telah disediakan oleh Raka sebelumnya.


Karena ruangan sempit, keduanya duduk saling berdampingan sebab ukuran meja makan cukup memakan tempat.


Diandra dan Raka tetap menikmati makanannya, jujur mereka sangat lapar sekarang apalagi diluar kini telah hujan cukup lebat. Sesekali hembusan angin bercampur hujan masuk ke dalam ruangan hingga semakin menciptakan suasana dingin disekitarnya.


" Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat tersanjung diperlakukan seperti ini. " kata-kata itu tanpa sadar keluar dari mulut Diandra yang masih menyantap sedikit makanan yang tersisa dipiringnya.


Wanita itu terhenyak ketika merasakan tangan Raka yang menyentuh ujung bibirnya.


" Kau makan seperti anak kecil, belepotan dimana-mana. Jangan takut, aku tidak akan merebut makananmu. " goda Raka pada Diandra. Walaupun sebenarnya, pria itu merasakan suhu tubuhnya yang meningkat saat kulit tangannya bersentuhan dengan bibir Diandra.


Wajah Diandra memerah karena malu, bergegas wanita itu mengusap ujung bibirnya sebab khawatir masih ada makanan yang tersisa. Namun, seketika tangannya ditahan oleh Raka.


DAG..DIG...DUG..


Jantung keduanya berdetak begitu kencang dan semakin tak beraturan ketika tanpa sengaja mereka beradu mata.


Suasana begitu dingin, tapi entah mengapa terasa gerah oleh keduanya. Raka menelan kasar salivanya saat menatap dengan intens bibir ranum Diandra yang nampak begitu menggoda.


Diandra semakin gugup mendapat tatapan tak terbaca oleh lawan jenisnya. Irama jantungnya bersahut-sahutan manakala Raka mulai mendekatkan wajah kepadanya.


Hembusan nafas hangat Raka begitu terasa saat menyapu wajah Diandra yang kini berada sangat dekat dengannya. Debaran jantung Diandra hampir tak terkendali. Wanita itu memejamkan mata untuk mengendalikan gejolak yang bergemuruh di dalam dadanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2