
Gedung resepsi pernikahan Raka dan Diandra kini mulai dipenuhi oleh tamu undangan. Gio, Delia dan Aora tengah sibuk menyambut para tamu mereka.
Tanpa diduga, Lilian ikut hadir dalam pesta pernikahan mantan tunangannya. Wanita itu seolah mendapatkan angin segar ketika Livia mengatakan bahwa dirinya akan memastikan pesta tersebut gagal terlaksana.
Meskipun dirinya masih belum pulih dari traumanya, tetapi dirinyapun ingin melihat keterpurukan dari pria yang pernah mencampakkannya.
Lilian menghampiri Delia dan keluarganya. Delia menyambut baik kedatangan mantan kekasih putranya tersebut.
" Lilian? Tante senang sekali kau bisa hadir disini. Maafkan atas kejadian waktu itu. Tante berharap kau bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskan Raka bersama dengan Diandra. " sesal Delia.
Lilian berusaha memaksakan senyumnya. Ditanya ikhlas? Tentu saja tidak. Dia bahkan datang kemari hanya untuk menyaksikan hancurnya acara pernikahan Raka dan Diandra.
" Tante tenang saja. Lilian akan berusaha ikhlas dan tegar. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan berjodoh. " jawabnya berbohong.
Netranya mengedar ke seluruh penjuru gedung. Akan tetapi, dirinya belum menemukan keberadaan Raka.
Sedangkan Raka, pria itu tengah berada di belakang layar saat ini. Perasaan senang, gugup dan gelisah bercampur aduk dalam dirinya.
Tak bisa terlukiskan lagi betapa bahagianya Raka. Akhirnya hari ini merupakan hari yang paling ia tunggu-tunggu, hari dimana Diandra secara resmi akan menjadi miliknya seutuhnya.
Raka sedang berusaha agar bisa mengucapkan kalimat ikrar pernikahannya secara lancar. Meskipun tak terlalu panjang, tetapi hal itu sukses membuatnya kesulitan lantaran gugup.
Raka bak seorang pangeran tampan dalam balutan tuxedo putihnya. Pria itu memperhatikan jam berwarna keemasan yang bertengger di pergelangan tangannya.
" Sudah hampir tiba waktunya. Kenapa dia belum datang? " gumam Raka seorang diri.
Tiga puluh menit sebelum acara dimulai dan calon mempelai wanita belum juga tiba sungguh membuat Raka gelisah bukan main.
Ia mencoba menghubungi Diandra, tetapi nomor Diandra justru tak dapat dihubungi.
Perasaan Raka semakin galau, hatinya merasa tak tenang. Ia berusaha untuk tetap berpikir positif, tapi tetap saja hal tersebut mengganggu pikirannya.
Dengan terpaksa, Raka meminta asisten Felix untuk menjemput Diandra barangkali Diandra masih dalam perjalanan.
TIME SKIP..
Acara hampir dimulai, tetapi Diandra masih juga belum ada kabar beritanya.
Para tamu undangan mulai berbisik sebab mempelai wanita tak kunjung tiba. Mereka mulai mempergunjingkan masalah gagalnya hubungan Lilian dan Raka padahal mereka nyaris menikah. Dan sekarang, beberapa tamu berpikir bahwa pernikahan Diandra dan Rakapun sepertinya akan mengalami kegagalan.
__ADS_1
Hal ini sukses membuat kuping keluarga Syailendra menjadi panas. Delia meminta Raka agar kembali ke belakang untuk membicarakan persoalan ini.
" Raka! Kemana calon istrimu itu? Bagaimana bisa dia terlambat di acara sepenting ini. Sungguh memalukan! " Kekesalan Delia sudah diubun-ubun rasanya.
Rakapun tak kalah galaunya saat ini. Dirinya sungguh khawatir terjadi sesuatu pada Diandra.
" Aku yakin Diandra pasti datang, Ma! Dia tidak mungkin secara sengaja meninggalkan pesta kami ini. Kita tunggu sebentar lagi, mungkin dia masih dalam perjalanan. "
Raka membuang nafas kasar, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang sambil menunggu barangkali Diandra datang bersama asisten Felix.
Deliapun mencoba untuk bersabar, ia sendiri tak tega melihat putranya yang nampak begitu gelisah.
Setengah jam berlalu, tetapi masih belum ada kabar dari pihak mempelai wanita. Lilian menemui Raka dan keluarganya untuk menyampaikan kerusuhan yang terjadi diluar.
" Tante, Om. Para tamu banyak yang menanyakan keberadaan mempelai perempuan. Mereka bertanya apakah pernikahan ini dilanjut atau tidak.."
Ucapan Lilian hampir tertahan ketika melihat Raka yang menatap tajam kearahnya. Pria itu nampaknya sangat kesal mendengar apa yang dikatakan Lilian barusan.
Hingga dering ponsel Raka berbunyi, dengan segera pria itu mengangkat panggilan dari asisten Felix.
" Tuan, maafkan saya. Tetapi, Nona Diandra tidak ada di kediamannya. Penjaga disana mengatakan jika Nona Diandra pagi tadi berangkat keluar negeri. "
Raka mematung seketika mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh sang asisten. Dirinya bahkan tak peduli dengan ponselnya yang tanpa sadar terjatuh di lantai.
Nanar mata Raka menunjukkan kepedihan yang mendalam, pria itu menjatuhkan kedua lututnya kelantai. Dirinya begitu terguncang dengan apa yang baru saja didengarnya.
" Tidak mungkin! Tidak mungkin! Dia tidak mungkin meninggalkanku! " gumamnya tak percaya.
Delia ikut terperanjat melihat perubahan sikap putranya. Ia segera mendekati Raka untuk memastikan apa yang terjadi.
" Raka? Ada apa? Apa yang terjadi dengan Diandra? " tanyanya gelisah.
" Diandra pergi ke luar negeri, Ma. Tapi, aku tidak percaya sebelum memastikannya sendiri. " ungkap Raka lemah sembari menundukkan wajahnya.
Ini benar-benar berita yang sangat membahagiakan bagi Lilian. Akhirnya ia melihat pria itu terluka dan kecewa, tetapi itu tak sebanding dengan apa yang ia rasakan beberapa waktu yang lalu.
Kekesalan Delia semakin membucah ketika mendengar ucapan Raka barusan.
" Sudah kuduga. Wanita itu hanya ingin mempermainkanmu saja. Dasar wanita murahan! "
__ADS_1
Delia benar-benar kecewa sekaligus kesal, Diandra telah berhasil mempermalukan keluarganya. Wanita itu memegangi dadanya yang terasa nyeri memendam amarah.
" Sudah Raka. Sekarang lebih baik kau menikah dengan Lilian. Jangan sampai acara ini batal, nama baik kita sedang dipertaruhkan saat ini. " Delia memikirkan solusi terbaik.
Lilian merasa diatas angin sekarang, tetapi ia tetap berusaha menjaga sikapnya.
" Tapi, Tante. Aku harus memberitahu Mama terlebih dulu. Aku tidak mungkin menikah tanpa seijin beliau. "
Deliapun menyetujui keinginan Lilian, ia meminta gadis itu menghubungi Mamanya untuk meminta persetujuan.
Sedangkan Raka, hatinya sedang kalut saat ini. Dalam pikirannya hanya dipenuhi dengan Diandra, Diandra dan Diandra. Ia bahkan tak menghiraukan ucapan Mamanya barusan.
Hingga Lilian kembali dan berucap pada Delia jika Mamanya mengizinkan dirinya menjadi pengantin pengganti Raka. Deliapun kembali menyadarkan lamunan putranya dan memintanya untuk menikahi Lilian.
" Raka! Kita sudah tidak punya waktu lagi. Menikahlah dengan Lilian. Jangan buat keluarga kita malu karena hal ini! " pintanya sembari mengguncang bahu Raka.
Namun, Delia begitu terkejut melihat wajah Raka yang telah memerah dan sorot matanya yang begitu tajam seolah siap membunuh siapa saja dihadapannya.
" Dengar! Aku tidak akan menikah dengan siapapun sebelum aku memastikan sendiri apa yang telah terjadi pada Diandra. Jika dia memang mengkhianatiku? Maka aku, dengan kedua tanganku ini sendiri yang akan membuat perhitungan dengannya! " geramnya pada Delia.
Delia spontan memegangi dadanya yang semakin terasa ngilu melihat sikap Raka barusan. Ia terdiam saat putranya tiba-tiba beranjak dari hadapannya.
Raka melangkah keluar dengan penuh amarah hingga membuat seluruh tamu yang hadir tertegun melihatnya.
" Tidak ada pesta pernikahan. Silahkan kalian semua tinggalkan gedung ini! " bentaknya pada seluruh tamu yang hadir.
Seluruh tamupun akhirnya berbondong-bondong pergi tanpa berani banyak bertanya. Mereka tahu, keluarga Syailendra sangatlah berpengaruh sehingga tidak ada yang berani mengusiknya.
Nafas Raka memburu, pria itu mencengkeram rambutnya dengan kasar.
" Aaaarrrrggghhhh!!! " umpatnya berapi-api.
Namun, pandangannya beralih kepada Aora yang berlari kearahnya dalam keadaan panik.
" Kakak, Mama tak sadarkan diri. Sepertinya penyakit jantung Mama kambuh. " terannya berlinang airmata.
Raka terkesiap mendengarnya, dirinya bahkan tadi tak mengingat akan penyakit sang Mama. Buru-buru mereka pergi ke rumah sakit agar Delia segera mendapat pertolongan medis.
Bersambung...
__ADS_1