Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 70


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Livia dan Dedy, Jonathan melangkah keluar dari cafe. Rencananya hari ini ia ingin mengunjungi Diandra. Cukup lama tidak bertemu membuatnya begitu merindukan sosok tersebut.


Livia dan Dedy memperhatikan kepergian Jonathan dengan kesal. Keduanya geram sebab Jonathan seolah menjadikan mereka boneka yang bisa diatur dan diperalat semaunya. Bahkan perusahaan Jonathan membeli bahan baku dari perusahaannya dengan harga dibawah standar.


" Kita tidak bisa tinggal diam. Jika terus menerus seperti ini, dia akan semakin semena-mena terhadap kita. Aku sama sekali tidak mempercayai ucapannya. " geram Livia.


" Aku sependapat denganmu. Kita harus segera mengambil tindakan. Suatu saat aku pasti akan membalas perbuatannya. " Dedy membenarkan.


" Lebih baik kita bertindak cepat. Diandra sudah ada digenggaman kita, tinggal kita cari kesempatan menculik Burhan dari pria brengsek itu. Setelah kita dapat harta Adijaya, kita habisi semuanya. Lilianpun pasti bisa bersama Raka Syailendra tanpa ada penghalang lagi." cetus Dedy.


Livia setuju dengan rencana Dedy, iapun sudah tak tahan lagi ingin mengakhiri semuanya.


***


Jonathan menyetir mobilnya menuju mansion Adijaya. Seperti dugaannya, sebuah mobil tengah mengikutinya sekarang.


" Brengsek! Sudah kuduga pria itu pasti akan membuat masalah! " geramnya sembari memukul stir mobilnya.


Jonathan semakin menambah kecepatan mobilnya saat mobil dibelakang semakin mendekat. Mereka memang anak buah yang ditugaskan Raka untuk mengikuti Jonathan.


Untung saja jalanan yang dilalui cukup berliku dan terjal. Saat melewati turunan, Jonathan semakin melaju kencang dan membelokkan mobil di salah satu tikungan untuk mengecoh lawan.


Rencananya berhasil, mobil yang mengikutinya justru melaju kencang dengan arah yang berbeda.


Jonathan menyeringai penuh kemenangan.


" Kau pikir aku bodoh hingga masuk dalam perangkapmu, Raka Syailendra. " gumamnya lega.


Ia mengambil jalan tembusan menuju mansion Adijaya. Kali ini ia akan menyamar sebagai Pak Parno untuk mengelabuhi para musuhnya.


***


Bel mansion beberapa kali berbunyi, Diandra yang sibuk membersihkan ruangan segera membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Netranya membola seketika saat melihat pria tua cengar cengir didepannya sambil memberikan Belgian coklat kesukaannya.


" Jo? Astaga! Tak kusangka kau datang kemari. "


Bukan orangnya yang diperhatikan, tapi Diandra justru merebut coklat tersebut dari Pak Parno.


" Kebiasaan kau, Sih. Belum dikasih udah nyomot sendiri. Paling tidak ucapan trima kasih atau apa. " gerutu Pak Parno mengomel tak jelas.


Asih terkekeh mendengarnya, ia memang sangat menyukai Belgian cokelat. Apalagi jika moodnya sedang tidak bagus seperti saat ini. Yah, sedari tadi ia gelisah memikirkan apa yang dilakukan oleh Lilian dan Raka diluar sana.


" Maaf, maaf. Iya makasih, kau memang paling tahu kesukaanku. Ayo sini cepat masuk, Livia dan Lilian sedang tidak ada dirumah. " ajak Asih berbicara dengan mulut menggembung karena coklat.


Pak Parno sampai geleng-geleng kepala, tapi apapun tingkah laku Asih tetap saja nampak imut baginya.


Keduanya duduk saling berhadapan. Pak Parno mendekati Asih sembari menyerahkan sebuah map yang ia bawa.


" Ini laporan keuangan perusahaan kita bulan ini. Aku butuh tanda tanganmu, kau bisa mengeceknya terlebih dahulu. "


" Aku percaya pada kemampuanmu. Kau pasti bisa mengurus perusahaan dengan baik. " puji Diandra.


" Selesai. Aku sudah membubuhkan tanda tanganku disini."


Ucapan Asih seketika membuat Pak Parno gelagapan. Pikirannya sudah traveling kemana-mana.


" Apa? Oh iya. Sudah selesai ya. " pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya memerah karena malu. Untung saja Asih tak terlalu menghiraukannya.


" Di. Apa mereka berbuat kasar padamu saat disini? Jika mereka berani menyentuh seujung kukumu saja. Aku pasti akan mematahkan tulang mereka. " Jonathan mengalihkan pembicaraan.


" Mereka tidak sekasar dulu. Entahlah, tapi sekarang mereka tidak terlalu peduli denganku. Aku hanya khawatir mereka punya rencana lain. " Diandra menebak-nebak.


" Iya. Aku dengar Raka Syailendra sekarang dekat lagi dengan Lilian. Beberapa waktu yang lalu dia datang ke kantor dan marah besar disana. Dia ingin membuat perhitungan denganmu, jadi menurutku kau lebih aman disini sementara waktu. " Jonathan menghasut Diandra.


Diandra hanya tersenyum simpul, Jonathan tidak tahu bahwa sekarang dirinya dan Raka sudah menikah. Tetapi, ia memilih tutup mulut sampai kondisinya sudah membaik.

__ADS_1


" Kau ada benarnya juga. Memang sekarang Raka dan Lilian sering jalan bersama. " Diandra tersenyum getir.


" Kau jangan bersedih. Mungkin dia bukan jodoh terbaik untukmu. Aku yakin kau akan menemukan orang yang tepat suatu saat nanti, contohnya aku. " kelakar Jonathan. Padahal, itu sebenarnya mencerminkan isi hatinya.


Diandra terkekeh mendengarnya.


" Yah, kau benar. Aku mungkin akan menikah denganmu jika matahari terbit di sebelah barat. "


Jonathan agaknya kecewa, meskipun Diandra bercanda, tapi seakan wanita itu menolaknya mentah-mentah. Ia memilih merapikan laporannya dan memasukkan dalam tas ransel bawaannya.


" Jo, apa kau marah?" Diandra merasa tak enak hati, lelaki itu nampak tersinggung pada ucapannya.


Pria itu menatap lekat kedua netra Diandra.


" Di? Kita tidak tahu dengan siapa kita berjodoh. Aku mungkin dulu suka memainkan perasaan wanita, tapi sekarang aku mulai sadar jika hatiku telah dimiliki satu orang." ungkapnya serius.


" Siapa? " Diandra langsung memotong lantaran penasaran.


Pria itu menelan salivanya, rasanya sangat sulit untuk mengungkapkan perasaan. Bibirnya terasa kelu, tiba-tiba saja ia memperhatikan noda coklat di sudut bibir Diandra.


Diandra terkejut saat Jonathan menyapu sudut bibirnya. Dirinya hendak protes tapi tubuhnya membeku saat mendapat tatapan dalam dari Jonathan.


" Wanita itu adalah.."


" Ehermmm..."


Jonathan keget mendengar seseorang berdehem saat dirinya sedang tegang ingin menyatakan cinta.


Apalagi Diandra, wanita itu langsung mengalihkan pandangan saat tahu siapa yang baru saja datang.


" Aaaaa... Mati aku. Kenapa aku seperti maling yang tertangkap basah. " batinnya gelisah.


Raka membuang nafas kasar. Jika tidak ada Lilian disampingnya, tentu dia akan memberikan bogem pada pria itu lalu menyeret istrinya pergi dari sana.

__ADS_1


" Sudah kuduga. Dia memang memiliki perasaan pada Diandra. " benaknya kesal.


Bersambung


__ADS_2