Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
SISI LAIN SEORANG RAKA


__ADS_3

Beni pulang dari kantor Diandra dengan gejolak penuh kekesalan.


Tadinya ia ke kantor Diandra untuk memastikan wanita itu masih hidup atau sudah dilenyapkan anak buahnya. Dirinya sudah sangat senang ketika salah satu staff mengatakan bahwa Diandra belum juga datang ke kantornya. Memang, Diandra berangkat agak siang karena memiliki beberapa urusan pribadi.


Beni sudah teramat senang, ia memasuki ruangan Diandra yang masih kosong dan berlagak menjadi seorang bos disana.


" Akhirnya rencanaku berhasil. Jika gadis itu lenyap, otomatis harta keluarga Mulawarman akan diserahkan pada saudaranya. Dan saat ini, posisikulah yang paling dekat karena aku satu-satunya saudara Veronica. "


Tawa Beni pecah memenuhi ruangan kedap suara tersebut. Ia merasa diatas angin sekarang hingga seseorang terdengar membuka pintu ruangan itu.


Betapa syok dirinya kala mendapati Diandra tengah berdiri dihadapannya dalam keadaan segar bugar. Kemarahannya hampir meledak, tetapi ia tahan supaya Diandra tak menaruh kecurigaan padanya.


Ia mencoba menghiba pada Diandra supaya ia mau mengalirkan dana ke perusahaannya. Tetapi, sikap Diandra sungguh dingin mesti ditutupi oleh senyum penuh kepura-puraan.


Diandrapun seolah meremehkannya, bahkan proposal yang ia ajukan tidak dianggap penting sama sekali oleh Diandra.


Ia merutuki kebodohan para anak buahnya. Kini dia harus berpikir kembali bagaimana caranya untuk melenyapkan gadis tersebut.


Hingga salah seorang sahabatnya yang merupakan mafia penyelundup senjata dan obat terlarang meminta bantuannya untuk mengirimkan barang ke luar negeri.


Ini sudah menjadi hal biasa bagi Beni, dirinya menghalalkan segala cara agar dapat menumpuk pundi-pundi kekayaannya.


Sebuah ide licik tercetus di kepalanya. Ia meminta bantuan mafia tersebut untuk menghabisi keponakannya.


Tentu saja mereka lebih ahli dan bersih dalam melakukan kejahatan seperti itu.


Setelah melakukan kesepakatan, Benipun berniat pulang ke kediamannya. Ia heran melihat kondisi rumah yang nampak gelap, penjaga gerbangnya pun tak nampak di pos mereka.


Ia merasakan sesuatu yang janggal. Pria itu turun dari mobil lalu berjalan menuju ke dalam rumah.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu rumah terbuka, Beni mencari keberadaan saklar listrik yang ada di ruang tamu.


Ctak...


" Pa! Papa! Tolong kami! "


Teriakan histeris dari arah lantai atas begitu mengejutkan Beni. Ia segera menatap ke sumber suara. Disana terlihat istri, anak, beberapa pelayan dan penjaga tengah terikat di sebuah kursi dengan mulut tersumpal oleh kain.


Anak buah Raka sengaja membuka sumpalan dimulut istri dan anak Beni sebagai kejutan saat pria tersebut memasuki rumahnya.


" Mama! Anak-anak! "


Beni langsung panik, hingga terdengar suara senjata api mengenai salah satu guci di rumahnya.


Beni menghentikan langkahnya, tubuhnya bergetar hebat. Ia takut kehilangan nyawanya dan keluarganya.


Tap..Tap ..Tap..


Suara langkah kaki itu perlahan mendekat ke arahnya. Ia mulai menengadahkan kepala untuk melihat siapa musuhnya kali ini.


" Kau? Siapa kau?!" bentaknya pada seorang lelaki berwajah rupawan, berperawakan tinggi tetapi memiliki tatapan yang begitu dingin dan menekan.


Raka menyeringai melihat pria yang menurutnya tak lebih dari seorang pengecut. Ia menjentikkan jarinya sebagai kode pada anak buahnya.


" Aaaarrghhh..."


Beni terkejut mendengar teriakan beberapa orang dari arah belakang, pria itupun menengok setelahnya.

__ADS_1


Netranya melebar ketika mendapati anak buah suruhannya telah babak belur oleh anak buah Raka.


Ia kembali menekan Raka dengan segenap keberaniannya.


" Siapa kau? Apa maumu hingga kau berani ikut campur urusanku?! " gertaknya dengan tubuh bergetar.


Raka kembali menyeringai,


" Siapa aku itu tidak penting. Tapi siapapun yang mengusikku dan bagian dari diriku? Aku sama sekali tidak akan memberi ampun padanya! " ucapnya seraya menodongkan sebuah pistol tepat di depan kepala Beni.


Wajah Beni pucat seketika, pria itu terkulai lemah dan bersimpuh di lantai.


" Ampuni saya, Tuan. Jangan bunuh saya dan keluarga saya. Saya berjanji tidak akan mengganggu Diandra kembali. Tolong ampuni kami! " pintanya dengan suara bergetar ketakutan.


Ternyata benar dugaan Raka, pria ini hanya sangar diluar tapi lembek di dalam. Sebenarnya ia hanya ingin menggetak saja, dirinya belum pernah melenyapkan nyawa seseorang selama ini.


Ia melakukan semua itu hanya sebagai bentuk perlindungan dan pertahanan diri.


Ia memang lembut pada keluarga dan orang dekatnya, namun ia bisa berubah menjadi monster jika ada yang berani mengusik keluarganya.


Ia mulai melatih diri setelah peristiwa penculikannya dulu. Ia bertekad untuk menjadi pria yang kuat agar bisa melindungi keluarganya. Ini semua karena Diandra, gadis yang selama ini ia anggap sebagai penyemangatnya.


Dengan mudah Beni diringkus. Intelegen Raka juga berhasil merekam kesepakatan Beni dengan mafia kenalannya. Belum lagi bukti kejahatan Beni bisa dengan cepat digali oleh anggota Raka.


Ia meminta Beni dan keluarganya agar mau meminta maaf pada Diandra melalui rekaman video. Ia akan memberikan sedikit pengurangan hukuman untuk Beni asal mau melakukannya.


Raka tersenyum penuh kemenangan, ia mengirimkan video tersebut kepada Diandra.


" Sepertinya aku bisa meminta upah yang layak padanya setelah ini. " benaknya berbicara.

__ADS_1


Bersambung...


Dukung terus karyaku ya. Jangan lupa tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya. Makasih dukungannya😍


__ADS_2