
Sopir pribadi Diandra melirik kaca spion luar mobil. Seperti dugaannya, sebuah mobil yang mengikutinya tadi pagi saat berangkat ke kantor, kini kembali mengikutinya.
Iapun melirik Lilian yang duduk dibangku belakang, sepertinya gadis tersebut tidak sadar ada yang mengikuti mereka.
Lilian justru sibuk merias diri dengan beberapa make up yang ia ambil dari ruang pribadi Diandra. Ia sengaja mencurinya, ia takut penampilannya kurang sempurna gara-gara menangis akhir-akhir ini .
Mobil dibelakang semakin mempercepat lajunya, mereka berniat mencegat keduanya di jalanan sepi.
Pak Sopir mulai menjalankan perannya, ia berpura-pura tidak tahu bahwa ada yang mengikutinya. Sopir itu mengerem tiba-tiba ketika sebuah mobil menghadang jalannya.
" Kenapa, Pak? Tuh kan, hampir saja make upku rusak gara-gara ulah Bapak! " gerutu Lilian.
" Nona, maaf sepertinya kita dicegat. " sopir menjelaskan situasinya sekarang.
Lilian menutup mulutnya yang menganga karena baru sadar tiga pria berbadan kekar dan berwajah sangar menghampiri mereka. Kini gadis itu merinding ketakutan saat salah satu diantaranya menggedor kaca mobil yang ia tumpangi.
" Cepat, keluar! "
Pak Sopir dengan terpaksa keluar menuruti kemauan mereka.q
" Siapa kalian! " gertaknya geram.
Alih-alih menjawab, mereka malah memukul tengkuk lehernya hingga sang sopir tak sadarkan diri.
Lilian yang tengah ketakutanpun terpaksa turun ketika tiga orang pria bengis itu menggedor kaca mobilnya.
Dengan tubuh bergetar Lilian keluar tanpa berani menatap para lelaki itu. Dirinya tidak sadar jika satu diantara mereka membekapnya dengan sapu yang telah diberi obat bius. Lilianpun langsung limbung, tubuhnya dibawa ketiga pria tersebut kedalam mobil mereka.
***
Hampir setengah jam, Pak sopir terbangun setelah pingsan. Ia mencoba berdiri dan mengumpulkan kesadarannya. Pria itu tersentak kaget ketika melihat Lilian sudah tidak ada disana.
__ADS_1
Padahal, sebelumnya tadi Diandra berpesan padanya agar mengikuti penjahat itu kembali dari belakang. Jika memang mereka melakukan tindak kriminal berbahaya pada Lilian, Bosnya akan menolong wanita itu setelah mengalami keputusasaan.
Diandra memang sengaja menjadikan Lilian sebagai umpan dan ingin memberikan sedikit pelajaran pada gadis tersebut.
Bi Lastri memberitahunya malam itu bahwa sepertinya Livia dan Dedy memiliki rencana buruk pada Diandra. Akan tetapi, Bi Lastri tidak tahu rencana licik apa itu sebab keduanya saling berbisik.
" Bagaimana ini? Aku kehilangan jejak mereka. Sepertinya aku harus menghubungi Nona Diandra." gumamnya seorang diri sembari mengetik nomor atasannya.
" Nona, maafkan saya. Sepertinya saya kehilangan jejak mereka. Mereka memukul saya hingga pingsan. " sesal sang sopir.
" Ya sudah, Pak. Tidak apa-apa. Bapak kembali saja kesini. Maaf karena telah membuat Bapak terluka. Nanti saya akan membayar ganti rugi atas ketidak nyamanan Bapak. " ucap Diandra dari seberang telepon.
Panggilanpun dimatikan, Diandra membuang nafasnya kasar. Jujur, ia khawatir terjadi sesuatu pada Lilian. Walaupun ini bukan sepenuhnya kesalahan Diandra, tetapi dirinya tidak tega jika sampai hal buruk terjadi pada Lilian. Bagaimanapun dendam terbesarnya hanya pada Livia dan Lilian merupakan adik tirinya.
" Ya Tuhan. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Lilian. " batinnya berharap.
...----------------...
Lilian mulai terbangun dari tidurnya, ia menatap sebuah kamar yang nampak asing baginya. Gadis itu mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.
Ia tersentak saat ingat bahwa tadi dirinya berhadapan dengan tiga orang pria berwajah bengis. Dirinya memperhatikan penampilannya, untung saja pakaiannya masih lengkap saat ini.
" Aku harus segera kabur sebelum mereka datang. "
Dengan tubuh sempoyongan, Lilian bangkit dan mencoba membuka pintu kamar. Akan tetapi, alangkah terkejut dirinya ketika disaat yang bersamaan tiga pria bengis tersebut memasuki kamarnya.
Lilian dilanda ketakutan, tubuhnya bergetar saat ketiga pria itu memandang tak senonoh kearahnya. Gadis itupun perlahan mundur untuk menghindari mereka.
Namun, karena masih terpengaruh obat bius, Lilian yang lemah justru tersandung dan jatuh ke lantai.
" Mau kemana gadis cantik? Tidak perlu takut, kalau kau menurut kami pasti akan bermain halus. " satu diantara pria itu memberi kode pada yang lain.
__ADS_1
Mereka mengepung Lilian, membuat wanita itu semakin ketakutan dan menangis. Ingin rasanya ia berlari, tapi tenaganya seolah tak berdaya.
" Aaahhh.."
Gadis itu berteriak saat tubuhnya diangkat layaknya karung beras dan dilempar di atas ranjang. Ketiga pria itupun ikut naik diatas ranjang ukuran king size tersebut.
" Mau apa kalian, jangan sakiti aku. Aku akan memberi uang sebanyak yang kalian mau. " mohonnya dengan suara lemah.
Lilian berlinang air mata, untuk melawan saat ini rasanya tidak mungkin, tubuhnya terlalu lemah.
" Aaaaa... Toloongg!!! "
Lilian berteriak histeris manakala dua preman memegangi tangannya. Dan salah seorang diantara mereka berdiri tepat dihadapannya.
Pria itu menarik paksa dress Lilian hingga robek dan membuangnya ke lantai.
Lilian meronta-ronta seketika, rasanya ia ingin mati saja daripada harus mempertontonkan tubuhnya dihadapan mereka.
Dirinya berusaha melawan, tetapi tubuhnya seakan tak berdaya. Antara sakit dan sesuatu yang aneh dirinya rasakan saat mereka bersama menjamah tubuhnya.
" Tolooooongg!! " teriaknya histeris dan menyayat hati tapi tak ada satupun orang yang mendengarnya.
" Berteriaklah cantik. Tidak akan ada yang mendengarmu. Lebih baik kau nikmati saja sentuhan dari kami. Oh..Kau bahkan masih bersegel rupanya. Aku tak sabar ingin segera mencicipimu. " teriak ketiganya diatas tubuh Lilian yang tak berdaya.
Lilian hanya mampu menangis, dirinya merasa jijik. Para pria itu menjamahnya dengan begitu liar dan kasar.
Aarggghh...
Lilian tersentak, tubuhnya menggelinjang hebat kala salah satu diantara mereka dengan begitu tega merusak hal paling berharga yang ia jaga selama ini.
Bersambung...
__ADS_1