
" Kenapa ruangan ini kosong? Apa kau sedang ingin membohongi, kami?"
Raka mengeratkan gerahamnya lantaran kesal. Jonathan seakan sedang mempermainkan mereka.
Ini semua diluar dugaan Jonathan. Ia yakin Dedy dan Livia yang telah menculik Pak Burhan dari mansionnya.
" Tidak salah lagi. Aku yakin Dedy dan Livia pasti yang merencanakan hal ini. Di, aku bersumpah Papamu ada disini tadinya. " Jonathan meyakinkan Diandra.
Diandra merasa panik sekarang. Jika Papanya berada dalam genggaman Livia, itu artinya wanita itu bisa berbuat apa saja terhadap Papanya.
Tiba-tiba salah seorang pelayan datang dengan wajah panik menghampiri mereka.
" Tuan Muda? Maaf tadi ada seorang pengendara motor tak dikenal melemparkan botol ini hingga mengenai kaca depan. Saat penjaga mengejar, orang itu keburu kabur Tuan. " ia menyerahkan botol berisi surat kepada majikannya.
Jonathan menerima botol tersebut. Ia mengambil surat yang tersimpan di dalam sana. Diandra dan Rakapun ikut melihat apa yang tertulis disana.
Kalian pikir aku bodoh bisa diperalat begitu saja. Kalian belum tahu musuh kalian seperti apa!
Jika kau ingin Burhan selamat? Suruh Diandra datang ke cafe Born jam delapan malam. Anak buahku akan menjemputnya disana.
Tapi ingat! Hanya Diandra sendiri. Jika sampai ada yang mengikutinya. Aku akan pastikan nyawa Burhan akan melayang saat itu juga.
Jonathan mengepal surat itu dan melemparnya dengan kesal.
" Dasar licik! Ternyata mereka berdua memang iblis. Aku benar-benar merasa tertipu oleh mereka!
Di? Aku mohon kau jangan mau mengikuti apa yang mereka perintahkan. Aku yakin manusia iblis itu pasti tak akan melepaskanmu begitu saja! " pinta Jonathan.
Kali ini Rakapun setuju dengan pemikiran Jonathan. Ia tak mau nyawa istrinya jadi taruhan.
" Aku setuju dengan pendapatmu. Tapi bukan berarti aku memaafkanmu begitu saja! " Raka menghunuskan tatapan tajam pada rivalnya.
__ADS_1
Pikiran Diandra semakin kalut, ia memejamkan mata sejenak untuk menahan airmatanya yang hampir berbulir.
" Lalu kita harus bagaimana? Waktu kita tidaklah banyak sekarang. " Diandra hampir berputus asa.
Raka tak kuasa melihat sang istri bersedih hati. Ia mendekap wanita itu dalam pelukannya untuk menenangkan.
" Tenanglah. Tidak ada masalah yang tidak memiliki penyelesaian. Kita pasti akan menemukan jalan keluar jika kita berpikir jernih. "
Tiba-tiba Raka teringat sesuatu.
" Oh ya, Jo? Apa di mansionmu ini tidak ada cctv? Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu disana. "
Pikiran Jonathan masih kosong, benaknya seakan belum bisa menerima jika Diandra telah menjadi milik pria lain. Apalagi melihat kedekatan mereka membuat hatinya terasa nyeri.
" Jo! " pekik Raka kesal saat melihat pria itu justru tengah melamun.
Jonathan terkesiap mendengarnya,
" Disini banyak terdapat cctv. Aku akan mencoba mengeceknya satu persatu. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk. " Lelaki itu segera keluar menuju ruang kerjanya diikuti oleh Diandra dan Raka.
Sialnya semua cctv ditempat itu telah dirusak. Kemungkinan mereka telah memetakan mansion Jonathan sebelumnya.
" Sepertinya ada yang sedang berkhianat disini. " gerutunya kesal.
Jonathan segera memanggil kepala pelayan untuk mengumpulkan seluruh pelayan dan penjaga di tempat tersebut.
Seluruh penghuni mansion telah dikumpulkan. Jonathan menatap dan mengitari semuanya dengan tatapan penuh intimidasi.
" Aku yakin diantara kalian ada yang telah berkhianat padaku. Lebih baik cepatlah mengaku. Jika sampai aku menangkap basah kalian sendiri? Akan kubuat kaki dan tangannya patah lalu kuusir dari sini. " ancamnya pada seluruh pelayan dan penjaga.
Awalnya tak ada yang bergeming satupun diantara mereka. Hingga akhirnya satu diantara mereka jatuh bersimpuh dengan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
" Am-puni saya, Tuan. Saya terpaksa melakukannya sebab saya butuh uang untuk biaya oprasi putri saya. " ucap salah satu penjaga.
Jonathan memperhatikan lelaki tersebut dengan seksama. Sepertinya penjaga itu tidak berbohong, ia tampak menyesal dan mengalami ketakutan berlebih.
" Baiklah. Aku akan mengampunimu asalkan kau bisa memberikan informasi dimana Pak Burhan kini berada. " gertak Jonathan.
" Saya? Saya tidak tahu pasti. Akan tetapi, tanpa sengaja saya dengar lelaki yang menjadi atasan mereka mengatakan jika dia akan menuju bandara X setelah misi mereka selesai. " jawab lelaki itu gugup.
" Bandara X? Bukankah itu berada di luar kota? Apa mungkin dia membawa Pak Burhan kesana. " cetus Raka saat mendengar apa yang disampaikan penjaga itu barusan.
" Tapi untuk apa? Apa jangan-jangan mereka akan kabur keluar negeri setelah skandal mereka terbongkar? " sahut Diandra menduga.
Sebuah ide tercetus di kepala Raka. Ia mendekat lalu membisikkan sesuatu pada istrinya. Diandra mengangguk, sepertinya ia setuju dengan rencana sang suami.
" Tapi aku minta kau tetap berhati-hati. Aku tidak ingin keselamatanmu terancam. " pesan Raka dengan raut kecemasan di wajahnya.
" Heumm.. Kau jangan khawatir. Aku akan jaga diriku baik-baik. " Diandra tersenyum meyakinkan.
Raka mengecup puncak kepala sang istri, sejujurnya ia tak ingin Diandra terlibat. Akan tetapi, apa boleh buat? Sepertinya hanya ini satu-satunya cara terbaik untuk menyelamatkan Pak Burhan.
Merekapun memutuskan untuk pergi dari mansion Jonathan dan menyusun misinya.
Jonathan mengejar Raka, ia juga merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.
" Tolong libatkan aku dalam misi ini. Setidaknya aku ingin menebus kesalahanku pada Diandra. "
Raka berhenti lalu menatap Jonathan dengan intens. Dirinya bisa melihat kesungguhan Jonathan.
" Ayo. "
Bersambung...
__ADS_1