
Raka yang melaju dengan kecepatan penuh begitu terkejut saat tiba-tiba mobil Livia berhenti mendadak.
" Sial! "
Tanpa pikir panjang Raka langsung ikut melompat dari dalam mobil saat melihat sopir didepannya juga melompat. Jika ia bertahan didalam atau menghindar tetap saja mobilnya pasti akan hilang kendali.
DUUMB..BOOM...
Suara ledakan begitu menggelegar saat mobil Raka menabrak mobil Livia. Kedua mobil terbakar hangus tak berbentuk.
Raka terlempar disisi jalan, tubuhnya terasa remuk saat ini. Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya terasa nyeri luar biasa.
Lelaki itu menatap kedua mobil yang hangus berkeping-keping.
" Bukankah seharusnya Livia dan Dedy masih berada didalam sana? " benaknya penasaran.
Asisten Felix dan beberapa anak buah Raka segera membantu atasannya. Mobil polisi, ambulans dan mobil pemadam kebakaran juga telah berada di tempat kejadian.
Seluruh korban dilarikan ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan ternyata Livia dan Dedy masih berada didalam mobil dan jenazah keduanya hangus terbakar.
Raka begitu miris mendengarnya. Akan tetapi, mungkin itulah karma yang harus diterima oleh kedua orang tersebut. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai pada akhirnya.
***
Diandra yang baru saja tiba dimansionnya begitu terkejut mendengar berita kecelakaan yang menimpa Raka, Livia dan Dedy. Dirinya benar-benar khawatir sebab asisten Felix belum tahu pasti mengenai kondisi atasannya saat ini.
Iapun ikut berduka mendengar berita kematian Livia dan Dedy. Ia tak menyangka semua akan berakhir setragis ini.
Diandra ditemani Jonathan dan Papa Burhan segera menuju rumah sakit dimana Raka sedang dirawat saat ini. Hatinya tak akan bisa tenang sebelum memastikan keadaan suaminya sendiri.
Dengan tergesa-gesa Diandra memasuki ruang VVIP rumah sakit tempat suaminya dirawat.
Langkahnya menjadi berat saat melihat kaki,tangan, serta kepala suaminya dibalut perban sedangkan Raka sendiri masih belum sadarkan diri.
Wanita itu duduk di tepi ranjang pasien, tanpa sadar bulir airmata meluncur begitu saja dari kedua pelupuk matanya.
Diandra menggenggam tangan suaminya dengan wajah tertunduk,
__ADS_1
" Ini semua salahku. Jika aku tak melibatkanmu dalam masalahku. Mungkin kau tidak akan mengalami hal seperti ini. " sesalnya.
" Jika boleh aku memilih. Aku akan lebih senang jika aku yang berada diposisimu. Aku? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi hal buruk menimpamu! " tangisnya semakin pecah. Rasa sesak didadanya mendorong keluar hingga ia tak mampu menahan kesedihan yang terpendam dihatinya.
Disaat Diandra tengah menangis sesenggukan, terdengar tawa lirih seseorang yang tak asing baginya.
Diandra mendongakkan wajahnya, netranya terkesiap ketika melihat suaminya menahan senyum di wajah tampannya.
Ia tak menyangka suaminya nampak baik-baik saja saat ini.
" Astaga, Raka? Apa jangan-jangan kau menipuku? " gumamnya sebal.
Raka terkekeh sekarang, sandiwaranya yang berpura-pura pingsan telah diketahui istrinya.
" Maaf, aku hanya bercanda. Tapi kau kelihatan jelek sekali kalau sedang menangis. Cukup kali ini saja, aku tak ingin melihat airmata lagi diwajahmu. Sepertinya kau sudah tergila-gila kepadaku sekarang. " ucapnya mencoba menahan tawa.
Diandra mendengus kesal. Padahal dia benar-benar mengkhawatirkan pria itu, tapi Raka justru malah mengerjainya.
" Bercandamu tidak lucu. Aku sudah sangat cemas saat mendengar kau mengalami kecelakaan. Aku buru-buru kesini agar tahu bagaimana kondisimu. Bagaimana aku tidak takut, begitu banyak perban membalut tubuhmu. Awas saja kau!"
" Awww...Awww...Aww... Kau menyenggol tanganku! " seloroh Raka merintih kesakitan.
Diandra jadi bingung sekarang,
" Sebenarnya lukamu ini asli atau palsu? Jangan bercanda lagi denganku! " ungkapnya panik.
Raka masih meringis menahan nyeri.
" Sebenarnya lukaku ini asli. Aku memang mengalami patah tulang kaki dan lengan. Ada beberapa luka luar dikepala akibat gesekan dengan tanah. Tapi untungnya tidak ada luka bagian dalam. " ungkapnya berterus terang.
Raut wajah Diandra berubah muram,
" Maafkan aku. Ini semua salahku."
Raka tersenyum simpul.
" Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kau hanya ingin mendapatkan keadilan dan sekarang, mereka telah menuai buah kejahatan mereka. " Raka mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
" Kemarilah sebentar. " pintanya pada Diandra sambil melambaikan sebelah tangannya yang masih normal.
Diandra memajukan kursinya mendekat pada sang suami.
" Kemarilah lebih dekat lagi. Aku ingin memberitahu sesuatu padamu. " pintanya lagi.
" Apa? " Diandra semakin mendekat lantaran penasaran. Ia mendekatkan telinganya saat Raka hendak berbisik.
" Aku merindukanmu, sayang. " ungkapnya dengan mata yang mendamba.
BLUSH..
Wajah Diandra merona mendengar bisikan dari sang suami. Lelaki itu menarik wajah Diandra, berusaha untuk menciumnya. Tapi, Diandra langsung menghindarinya.
" Kau ini sedang sakit, jangan macam-macam." ungkapnya sembari menyembunyikan wajahnya yang kini memerah seperti tomat.
" Yang sakit tubuhku, tapi hasratku justru semakin menggebu. "
Raka kembali menarik tubuh istrinya. Kali ini Diandra tidak menolak bahkan mendekatkan wajahnya pada sang suami.
Kedua hidung mancung mereka bersentuhan dengan posisi wajah Diandra diatas. Raka langsung menyambar bibir manis yang selalu menjadi candu baginya.
Diandra tak ingin menyusahkan suaminya, ia kini yang bermain agresif. Keduanya saling *******, mengulum dan bertaut lidah dalam mulut mereka. Raka begitu bahagia merasakan betapa liar istrinya bermain di dalam sana.
Tangan sehatnyapun tak mau kalah, ia mulai menggerayangi dada Diandra dan membuka dua kancing bagian atas milik istrinya.
" Euummpp.."
Tubuh Diandra seakan mendapat sengatan hingga rasa geli menjalar ke seluruh tubuhnya. Pria itu memainkan puncak gunung kembar hingga terasa berdiri tegak didalam wadahnya.
" Raka!"
" Kak Raka? "
Teriakan seseorang membuat mereka terkesiap. Netra Diandra membola melihat siapa yang datang. Buru-buru ia berbalik untuk membenahi pakaiannya.
" Astagaaa.. Memalukan sekali! " pekiknya dalam hati.
__ADS_1