
Hari pernikahan Diandra akan digelar minggu ini. Ia berusaha membereskan semua pekerjaannya sebelum mengambil cuti menikah.
" Nona, ini beberapa berkas yang perlu anda bereskan sebelumnya. Aku telah mengecek beberapa, anda tinggal menandatanganinya. "
Jonathan menyerahkan beberapa dokumen kepada Diandra. Dirinya terpaksa lembur beberapa hari ini sebab Diandra masih disibukkan untuk mempersiapkan pernikahannya.
Diandra melirik sekilas pria dihadapannya. Entah mengapa akhir-akhir ini Jonathan lebih banyak diam dari biasanya.
Raut wajahnyapun tidak seceria biasanya, lingkar matanya sedikit menghitam, sepertinya Jonathan kurang tidur.
" Jo? Apa kau sedang ada masalah? Belakangan ini kau lebih sering diam. Jika kau punya masalah, ceritakan saja kepadaku. Kau juga telah sering membantuku. " bujuk Diandra.
Jonathan memaksakan senyumnya. Andaipun ia bercerita, apamungkin Diandra bisa menerima? Sedangkan wanita itulah yang telah mengobrak abrik dan menghancur luluhkan hatinya.
" Tidak, Nona. Kau tidak perlu khawatir. Mungkin aku hanya kecapean saja karena lembur. Apalagi, belakangan aku sering bolak-balik pulang ke mansion Papa. Jaraknya cukup jauh bukan dari sini?" jawabnya beralasan.
" Oh ya? Bagaimana persiapan pernikahan anda? Apakah semua berjalan lancar? Lalu, Bagaimana dengan misi balas dendam ke keluarga Adijaya? " lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
Wajah Diandra merona bahagia mengingat ia akan menikah sebentar lagi dan itu membuat dada Jonathan semakin sesak karenanya.
" Semua berjalan lancar, Jo. Yah, meskipun cukup merepotkan mengingat aku hanyalah sebatang kara sekarang. Tapi tak mengapa, Its Okay. " jawab Diandra santai.
" Mengenai urusanku dengan Livia, aku akan mengurusnya setelah menikah. Aku akan mengambil apa yang telah mereka rebut dariku. Mereka pasti terkejut saat tahu bahwa aku adalah Asih. Oh iya bagaimana dengan perusahaan Adijaya waktu itu? Apa benar mereka banyak melakukan kelalaian dan melakukan pertambangan ilegal? " tanya Diandra penasaran sebab Jonathan waktu itu pernah menyampaikan kecurigaannya.
__ADS_1
Jonathan sedikit tegang mendengarnya, tetapi ia berusaha bersikap setenang mungkin.
" Ya, mereka kurang memperhatikan keselamatan para pegawai, tetapi dugaanku mengenai tambang ilegal itu sepertinya tidak benar. Aku belum memiliki bukti yang cukup untuk hal itu. " jelas Jonathan.
Diandra mendesah kasar, ia agaknya sedikit kecewa mendengarnya.
" Padahal aku sangat berharap untuk bisa menjebloskan wanita iblis itu ke dalam penjara. Tetapi tidak apa, terus saja kau gali informasi. Siapa tahu saja kau bisa memperoleh bukti itu. " Diandra menyemangati.
" Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi." pamit Jonathan.
***
Jonathan masuk keruangannya dan menyimpan berkas-berkasnya dengan kasar.
Ia mengacak rambutnya karena frustasi. Ini kali pertama ia berbohong pada Diandra.
Padahal sebenarnya, perusahaan Livia memang banyak melakukan kecurangan.
Ia tahu betul, wanita itu sungguh licik. Bahkan kemarin Dedy hampir melakukan percobaan penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa pegawai yang dianggap sebagai provokator saat terjadi demo di perusahaan Adijaya.
Untung saja Jonathan dan anak buahnya bertindak cepat serta menolong mereka. Jonathan akan memanfaatkan hal itu sebagai alat untuk mengendalikan Livia.
Bahkan, dirinya telah mendapatkan video pemerkosaan terhadap Lilian waktu itu. Jonathan bukan orang yang bodoh, apalagi dirinyapun memiliki kuasa.
__ADS_1
Dia memutuskan akan berjuang untuk merebut Diandra dari tangan Raka.
Awalnya ia berusaha untuk bisa menerima kenyataan, tetapi semakin kesini dirinya justru merasa semakin tak mampu melepaskan Diandra.
Ia selalu menghabiskan waktunya di club utuk minum dan mencari wanita. Akan tetapi, semenjak dirinya menyadari perasaannya terhadap Diandra, ia sama sekali tak bergairah untuk menyentuh wanita lain meskipun mereka telanjang di hadapannya.
Perasaan itu sungguh menyiksa Jonathan dan membuatnya hampir gila karena frustasi.
Akhirnya, ia telah mengambil keputusan. Ia akan berusaha mendapatkan Diandra bagaimanapun caranya.
Ia yakin suatu saat Diandra akan bisa menerimanya sebab selama ini hanya Jonathan yang dekat dengannya sebelum Diandra mengenal Raka.
" Aku yang lebih dulu mengenalmu. Aku yang selalu ada untukmu dan siap melindungimu. Dan akulah satu-satunya orang yang berhak mendapatkanmu. " benaknya bertekad.
Jonathan mengambil ponsel dari balik sakunya lalu menghubungi seseorang.
" Atur pertemuanku dengan Livia Adijaya malam ini dan siapkan bukti-bukti kejahatannya. Pastikan tidak ada yang tahu akan hal ini. Aku akan menjadikannya alat untuk memuluskan tujuanku."
Klik..
Jonathan menutup panggilannya. Terbersit rasa bersalah dalam hatinya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Hanya ini satu-satunya cara agar Diandra bisa menjadi miliknya.
Bersambung...
__ADS_1