Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 91


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Diandra berdiri didepan cermin, senyumnya mengembang menyadari tubuhnya yang begitu gemuk sekarang. Kandungannya sudah memasuki umur 36 minggu dan kemungkinan tak sampai sebulan dirinya akan melahirkan.


Yang lebih membahagiakannya lagi, ternyata ia tengah mengandung anak kembar. Ini merupakan anugrah terindah baginya sebab selama ini Diandra selalu merasa kesepian. Dengan hadirnya anak apalagi dua sekaligus, pasti suasana keluarga akan semakin hangat dan ramai.


" Kau yakin masih ingin tetap bekerja? Sebentar lagi kau sudah mau melahirkan. Aku tidak mau kau kenapa-napa. "


Raka memeluk tubuh istrinya dari belakang sembari mengecup puncak kepala Diandra. Gurat-gurat kekhawatiran terpancar di wajah tampannya ketika pandangan mereka bertemu dicermin.


Diandra berbalik sambil merengkuh kedua pipi Raka,


" Dady jangan cemas. Kami pasti baik-baik saja. " ucapnya menirukan suara khas anak kecil.


Raka terkekeh mendengarnya, pria itu semakin mempererat pelukannya karena gemas. Ia langsung ******* bibir manis candunya itu.


Diandra tentu saja membalas ciuman Raka. Bahkan ciuman berbalas itu justru berubah menjadi ciuman yang menuntut. Keduanya sudah lupa jika saat ini mereka telah rapi dan bersiap menuju kantor.


Namun, aktivitas keduanya terganggu saat terdengar teriakan seseorang dari luar kamar.


" Kakak! Kakak ipar! Apa kalian sudah beres? Ayo cepat kita harus buru-buru ke kantor. "

__ADS_1


Raka melepas tautan bibirnya dan menatap kesal ke arah pintu. Ia heran kenapa adiknya begitu bersemangat untuk bekerja. Akan tetapi, bukan bekerja di perusahaan keluarga Syailendra, melainkan perusahaan istrinya.


Padahal dulu, Aora paling enggan untuk datang ke kantor. Dirinya bercita-cita ingin memiliki suami kaya raya sehingga ia sudah tidak perlu lagi bekerja di perusahaan.


" Dasar pengganggu. Aku heran kenapa dia semangat sekali bekerja ditempatmu. Apa kau tahu alasannya? " tanya Raka bersungut kesal. Padahal dirinya masih ingin berduaan dengan istrinya.


Bukannya menjawab, Diandra justru terkekeh geli. Dirinya teringat akan keluh kesah Jonathan yang selalu protes sebab adik iparnya itu terus saja mengganggu atau lebih tepatnya menggoda asisten pribadinya itu.


" Hei, kenapa kau malah tertawa? " Raka semakin penasaran.


" Ti,,tidak. Eumm..mungkin karena aku baik dan dia ingin menjaga kedua calon keponakannya didalam perutku. " Diandra berdalih.


Keduanya segera merapihkan pakaian kembali lalu berjalan keluar meninggalkan kamar. Tidak lupa Raka menggandeng Diandra sebab baginya itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.


Ceklek..


Begitu kamar terbuka, Aora langsung menggandeng Diandra penuh semangat hingga membuat wanita itu terlepas dari suaminya.


" Hei, dia istriku! Aku yang lebih berhak menggandengnya. " sulut Raka kesal.


Aora langsung menoleh pada kakaknya,

__ADS_1


" Isshh Kakak! Aku ditugaskan Mama untuk menjaga kakak ipar dengan baik. Jadi akupun berhak untuk menggandeng Kak Diandra. Benar kan kak? " tatapan manjanya beralih pada sang Kakak ipar.


" Tidak! Dia istriku. Aku yang akan menjaganya. Aku juga telah meminta seseorang untuk menjaga istriku di kantor. Lebih baik kau fokus dengan kuliahmu. Aku dengar kau ditegur dosen karena sering bolos kuliah. " sindir Raka.


" Itu memang benar. Tapi kakak tidak tahu bukan? Barusan aku minta kelas sore jadi setiap pagi bisa menjaga kakak ipar di kantor. Ayo Kak Diandra! " Aora kembali menggandeng Diandra.


Aksi tarik menarik akhirnya tak terelakkan lagi. Ini terjadi hampir setiap hari hingga membuat Diandra jengah merasakannya.


" Stop.."


Teriakan Diandra sukses membuat keduanya berhenti dan terdiam. Ia menatap bergantian kedua kakak beradik itu. Dalam hati ia sudah amit-amit supaya calon baby kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan tidak seperti kelakuan mereka.


" Dady, Tante please. Jangan memberi contoh jelek pada twins ya! " ucapnya memelas.


Keduanya terdiam dan menurut, membuat Diandra tersenyum lega.


" Ayo. "


Namun lagi-lagi saat kata itu keluar dari mulutnya, keduanya dengan kompak menggandeng Diandra.


Alhasil calon ibu muda itu mendengus pasrah. Akhirnya merekapun berjalan bersama dan bergandengan layaknya Teletubbis.

__ADS_1


__ADS_2