Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 72


__ADS_3

Setelah kepergian Raka, Lilian menghubungi dokter pribadinya. Ia ingin berkonsultasi mengenai keadaan tubuhnya yang terasa lemas beberapa pekan ini. Ditambah rasa mual dan mutah yang ia alami sungguh membuatnya merasa tidak nyaman.


Sebenarnya ada rasa cemas dan khawatir dalam dirinya. Ia takut jika dirinya sampai hamil akibat perbuatan para pria bejat waktu itu. Padahal, semenjak kejadian itu ia selalu meminum pil KB untuk mencegah kehamilan.


" Semoga ini hanya masuk angin biasa. " batinnya harap-harap cemas.


Tak berselang lama dokterpun tiba di kediaman Adijaya. Diandra yang melihat kedatangan dokter tersebut ikut penasaran dengan sakit yang dialami Lilian. Ia pikir wanita itu tadi hanya ingin mengambil simpatinya Raka.


Dokter langsung menuju kamar Lilian dan memeriksa kondisi wanita tersebut. Lilianpun mengeluhkan apa yang sering ia alami akhir-akhir ini.


Awalnya Dokter ragu untuk menyatakan hasil pemeriksaannya sebab ia tahu Lilian masih single. Akan tetapi, walau bagaimanapun Lilian harus mengetahui kondisi yang sebenarnya.


" Maaf Nona. Dari pemeriksaan yang saya lakukan, sekarang ini anda sedang hamil. Kondisi yang anda keluhkan tadi biasa dialami oleh ibu muda pada trisemester awal kehamilan. Untuk lebih jelasnya anda bisa memeriksakan diri anda ke dokter kandungan."


Pernyataan dokter tersebut bak petir yang menyambar tubuh Lilian. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Para bajingan waktu itu telah meninggalkan benih dalam rahimnya.


" Tidak! Itu tidak mungkin. "


Lilian benar-benar syok mendengarnya. Ia sama sekali tak menginginkan benih itu tumbuh dalam rahimnya.


" Dokter aku tidak mau hamil. Aku mohon bantu aku untuk menggugurkan kandungan ini. Aku akan bayar berapapun yang anda minta. " paksa Lilian.


" Sekali lagi, maaf Nona. Tapi hal itu sangat bertentangan dengan kode etik kedokteran. Saya tidak bisa melakukannya. Saran saya, mintalah ayah dari calon anak anda untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." tolak sang Dokter.


Dokter berpamitan meninggalkan kamar Lilian. Namun, sesuai keinginan Lilian, dia tidak akan membocorkan kehamilan wanita itu pada siapapun.


Diandra yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka ikut terkejut mendengarnya. Ia merasa iba atas apa yang menimpa Lilian. Bagaimanapun dirinya juga seorang wanita, belum tentu dirinya kuat jika berada di posisi wanita tersebut.

__ADS_1


Lilian kembali menangis sejadi-jadinya, ia bahkan sesekali memukul perutnya. Ia berharap janin itu bisa keluar dari tubuhnya.


" Menjijikkan! Aku tak sudi mengandung janin ini. Tidak! Aku tidak mau! " ucapnya di tengah isak tangis.


***


Malam ini Livia pulang dalam keadaan mabuk. Ia merasa stress dengan berbagai masalah yang datang bertubi-tubi beberapa hari terakhir. Dedy memapah wanita itu menuju kamarnya.


Suasana mansion sudah sepi, sepertinya para pelayan pun telah beristirahat.


Dedy membaringkan wanita itu diatas ranjangn. Ia berniat untuk segera pergi sebab ia harus mengatur anak buahnya untuk menjalankan rencana yang telah ia susun. Dirinya tak akan bisa tenang melihat Livia dan anaknya menderita seperti sekarang.


" Kau mau kemana? Jangan pergi, kumohon temani aku disini."


Livia meracau dan menarik tubuh Dedy hingga terjatuh diatasnya.


Nyatanya usia tak menghalangi seseorang untuk merasakan gairah cinta. Ia tetap saja bernafsu saat melihat seorang Livia Adijaya. Apalagi saat ini, Livia yang meminta sendiri padanya.


Keduanyapun bergemul dan melakukan kegiatan panas hingga peluh membasahi tubuh mereka malam ini.


***


Pagi hari Livia bangun dan membersihkan diri. Di usia lanjut, ia termasuk wanita yang pandai merawat diri. Tubuhnya masih cukup segar dan kulitnyapun masih terlihat kencang.


Mungkin Dedy merupakan salah satu multivitamin baginya. Seperti biasa, pria itu akan segera pergi setelah percintaan panas mereka.


Livia mengunjungi kamar putrinya, kesibukan akhir-akhir ini membuat ia jarang memiliki waktu bersama putrinya.

__ADS_1


Lilian terperanjat saat menyadari kamar Lilian yang hancur berantakan. Dan kini putrinya itu tengah berada di ujung kamar dengan pandangan kosong. Ini sama persis seperti saat Lilian mengalami pelecehan beberapa waktu yang lalu.


" Astaga Lilian, ada apa lagi ini? Kenapa kau menghancurkan kamarmu seperti ini! Apa kau sedang bertengkar dengan Raka?"


Livia segera memeluk Lilian, sejahat apapun ia tetaplah seorang ibu yang begitu menyayangi putrinya. Hatinyapun ikut tercabik melihat kondisi Lilian saat ini.


" Ma..."


" Aku..aku tidak mau hamil Ma! Aku tidak mau hamil anak para bajingan itu! "


Lilian mendekap begitu erat pada Livia. Ingatan akan peristiwa saat ia dilecehkan dengan begitu brutal kembali melintasi pikirannya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan sang Ibu.


Livia benar-benar trenyuh, satu masalah lagi kembali menimpa dirinya. Kini kebenciannya pada Diandra semakin bertambah besar, menurutnya sejak kehadiran wanita itu hidupnya selalu sial.


" Tenang Lilian. Ibu pasti akan membantumu menyelesaikannya. Bukankah waktu itu kau sempat menginap di apartemen Raka?"


Seingat Livia beberapa waktu yang lalu Lilian meminta izin menginap di tempat Raka.


" Iya, Ma. Tapi,, aku dan Raka tidak melakukan apapun waktu itu. Sudalah Ma, bantu saja aku untuk menggugurkan kandungan ini. Raka juga pasti menolak apalagi kami belum pernah berhubungan sama sekali. " tolak Lilian.


" Kau tidak perlu meminta pertanggung jawaban pada Raka. Tetapi kita akan meminta ibunya untuk memaksa Raka menikahimu. "


Lilian tak menanggapi ucapan Livia, yang jelas jika berhubungan dengan Raka ia tak akan berpikir dua kali.


***


Diandra seperti mendapatkan jackpot bertubi-tubi. Semua kartu Livia sudah ada ditangannya. Kini hanya dengan membalikkan tangan, ia akan mampu menghancurkan wanita itu.

__ADS_1


Video dari cctv itu pasti akan menjadi aib besar jika sampai tersebar ke publik. Dimana wanita pemilik perusahaan besar Adijaya grup memiliki skandal dengan asisten pribadinya sendiri.


__ADS_2