
Semenjak kejadian itu Lilian semakin menggila. Ia menangis histeris dan menghancurkan barang-barang yang ada dikamarnya. Livia sengaja membiarkan putrinya melakukan semua itu, dirinya berharap setelah Lilian puas kondisinya akan semakin membaik.
Terkadang Lilian mengomel tak jelas, ia ingin sekali Asih berada di kediamannya sekarang. Jika ada Asih, ia pasti bisa melampiaskan kekesalannya kepada gadis itu.
Bi Lastri bersyukur, Asih masih belum kembali kesana. Ia tak akan tega jika gadis itu terkena siksaan dari Lilian. Bi Lastripun telah melaporkan berita ini pada Diandra ketika menghubunginya untuk menanyakan kondisi sang ayah.
Diandra menyeringai senang, akhirnya sedikit demi sedikit dendamnya akan tertuntaskan.
" Tunggu saja hari kehancuranmu Livia Adijaya. Akan kubuat kau menyesal seumur hidupmu!" benaknya bertekad.
***
" Nyonya aku telah menyewa beberapa penjahat profesional untuk melakukan tugas yang anda berikan kemarin. " Dedy menyampaikan pada Livia.
" Baguslah kalau begitu. Aku sudah tidak sabar menunggu hari kehacuran Si j***ng itu. Jika putriku tahu, dia pasti akan sangat senang. " ucap Livia menyeringai penuh kemenangan.
Dedy mendekati Livia dan memeluknya dari belakang.
" Sebentar lagi pihak Winner Prakarsa akan datang kemari. Kita harus bisa meyakinkan perusahaan itu agar mau bekerjasama dengan kita. Pendapatan perusahaan pasti akan meningkat drastis setelahnya. " Ucapnya sembari menyusuri tengkuk leher wanita paruh baya tersebut.
" Kau benar. Winner Prakarsa merupakan perusahaan stainless terbesar di negara ini. Kita pasti akan untung besar karenanya. Oh ya,, masalah para penambang yang sempat berdemo karena masalah gaji dibawah standar. Kau sikat saja biang rusuhnya. Habisi, tapi jangan sampai meninggalkan jejak. " pinta Livia.
" Kau tenang saja. Tanpa kau suruhpun aku sudah melakukannya. " keduanya bercumbu layaknya pasangan muda.
Livia tidak pernah kesepian apalagi teringat dengan suaminya. Karena memang, Burhan sendiri bahkan belum pernah menyentuhnya. Hanya Dedy yang selama ini selalu setia padanya.
***
Lilian masih saja mengamuk tak jelas bahkan terkadang berteriak seorang diri kemudian menangis meratapi nasibnya. Hingga terdengar dering ponselnya berbunyi, iapun bergegas mengangkatnya dan berharap panggilan itu dari Raka.
Wajahnya merah padam saat tahu siapa yang baru saja menelponnya.
__ADS_1
" Dari mana kau tahu nomorku? Apa Raka yang memberitahumu, Hah! " ketusnya pada Diandra.
" Tidak penting siapa yang memberitahuku. Aku menghubungimu hanya untuk memberikan penawaran mengenai Raka. Jika kau mau, datanglah ke kantorku sekarang juga." pinta Diandra.
Tanpa berpikir panjang, Lilian langsung menyanggupi keinginan Diandra.
Dirinya berencana pergi, tetapi sang Mama ternyata telah meminta satpam agar tidak membiarkan Lilian pergi keluar rumah. Livia takut Lilian berbuat nekad dalam keadaan frustasi seperti sekarang.
Lilian tak kehabisan akal, ia akhirnya mencari sebuah tangga dan melompat dari tembok belakang mansion.
Dirinyapun segera menuju TVC Tower sesuai apa yang dikatakan oleh Diandra tadi. Ia cukup tercengang sekaligus iri dengan Diandra, wanita itu sangat cantik, kaya raya dan mampu menjalankan sebuah perusahaan raksasa.
" Bodoh kau Lilian! Apa kau sedang memujinya dengan berpikir seperti itu? Tidak, kaulah yang lebih unggul segala-galanya dari si J***ng itu. " gerutunya sembari
memasuki gedung perkantoran.
Security mengantarkan Lilian ke ruangan Diandra. Buru-buru Lilian masuk, rasanya ia tak tahan ingin menampar bahkan mencekik wanita itu.
Ia berjalan perlahan dan duduk dihadapan Diandra saat ini.
" Cepat katakan! penawaran apa yang ingin kau berikan padaku." ucapnya ketus.
Diandra berusaha untuk tetap tenang dan bersikap anggun.
" Sabar, Nona. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. " ucapnya tersenyum ramah.
Hati Lilian seolah diremas kembali ketika melihat Raka dengan menggunakan jas hitam, tengah berdiri di sebuah ruangan mewah nan romantis. Disampingnya juga terdapat sebuah bucket bunga mawar untuk seseorang.
" Apa maksud semua ini? Apa kau hanya ingin memanas-manasiku! " ketus Lilian yang kembali dilanda cemburu.
Diandra tetap tersenyum ramah,
__ADS_1
" Aku tidak memanas-manasimu. Ini adalah maksud penawaranku barusan. Aku memberimu kesempatan untuk menemui Raka dan meyakinkan dia agar kembali menikahimu. Jika kau berhasil, maka aku akan mundur. Aku tidak ingin dibilang pelakor nantinya. " jelas Diandra.
Lilian menatap penuh selidik, ia takut ini hanya tipu muslihat Diandra saja.
" Kau tidak sedang menipuku bukan? " tanyanya ragu.
Diandra terkekeh mendengarnya,
" Hei! Kau pikir aku ini tukang tipu? Tidak ada untungnya juga bagiku. Kalau aku mau, aku sekarang pasti sudah berada disana tanpa harus menyuruhmu kesini. Aku hanya menyadari jika Nyonya Delia tidak menyukaiku, jadi posisi kita seimbang sebenarnya. " jelas Diandra.
" Baiklah. Aku setuju dengan penawaran darimu. Aku yakin bisa menjerat Raka dengan caraku sendiri. " ungkap Lilian penuh percaya diri.
Lilian bersemangat meninggalkan ruangan tersebut, tetapi Diandra kembali menahannya.
" Tunggu! Apa kau mau kesana dengan pakaian seperti itu? Apalagi dandananmu yang, ccck." sindir Diandra.
Lilian menatap penampilannya dari atas ke bawah. Ia memang tadi berangkat begitu saja tanpa memikirkan dandanannya sama sekali.
" Kalau kau mau, kau boleh meminjam pakaianku dan berdandan di ruang itu. " Diandra menunjuk sebuah kamar didalam ruangannya yang biasa ia pakai beristirahat.
Lilian bergegas ke kamar itu, mengganti pakaian dan berdandan. Tak berselang lama, dirinya keluar kembali dengan penampilan yang berbeda. Ia tampak anggun dan berkelas.
Supirku dibawah akan mengantarmu ke tempat Raka. Aku tahu kau kesini hanya menggunakan taksi.
Tanpa menjawab Lilian mengerti, diapun langsung ke bawah tanpa permisi.
Di Loby, sopir Diandra telah menunggu. Ia membukakan pintu untuk Lilian, lalu membawanya pergi.
Tanpa disadari, sebuah mobil memperhatikan mereka dari dari.
" Itu dia incaran kita, Mari kita ikuti mereka! "
__ADS_1
Bersambung...