Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 84


__ADS_3

Siang ini Diandra terpaksa menitipkan Raka pada ibu mertuanya. Ia bersama Pak Burhan berencana untuk pulang ke mansion Adijaya.


Mobil berhenti tepat dihalaman mansion. Pak Burhan berdiri dan memandang sejenak mansion megah bernuansa putih monokrom yang tidak banyak berubah setelah puluhan tahun silam.


Pak Burhan tak menyangka selama puluhan tahun tepatnya dua puluh enam tahun dirinya mengalami lumpuh dan stroke. Ternyata Tuhan masih berkenan memberikannya kesembuhan dan dipertemukan dengan putri kandungnya dengan Sheina yakni Diandra.


" Mari Pa. " ajak Diandra berjalan beriringan dengan Papanya.


Seluruh penghuni mansion memberi penghormatan kepada Tuan mereka. Diandra juga mengembalikan Bi Lastri ke mansion agar bisa bertemu kembali dengan Papanya.


" Selamat datang kembali, Tuan Besar. " Bi Lastri membungkukkan badannya.


" Terima kasih karena Bibi sudah setia selama ini. " ungkap Pak Burhan bangga.


Diandra menatap dua orang yang kini tengah menuruni tangga.


Lilian nampak begitu ceria, ia berniat menyambut kedatangan Pak Burhan. Sedangkan Bi Yati masih menunduk ketakutan dibelakang majikannya. Meskipun Lilian sudah meyakinkan akan membelanya, tetapi kepala pelayan itu masih belum bisa tenang sepenuhnya.


Lilian berlari dan memeluk Pak Burhan dengan penuh semangat. Meskipun ia tahu dirinya bukan anak kandung Pak Burhan. Dirinya pikir Pak Burhan belum mengetahui kebenarannya.

__ADS_1


" Papa? Akhirnya Papa sembuh, aku senang sekali Papa kembali seperti sedia kala. " ungkapnya sembari memeluk Pak Burhan.


Namun Lilian begitu kaget saat Pak Burhan mendorongnya cukup keras.


Pria itu menghunuskan tatapan tajam pada wanita tersebut.


" Papa kau bilang? Maaf, tapi aku bukan Papamu! " tegas Burhan.


Lilian hampir saja terkulai lemas jika saja Bi Yati tidak menopangnya dari belakang.


Belum habis rasa keterkejutannya, Burhan kembali melontarkan kenyataan yang semakin menghujam jantungnya.


Jantung Lilian seakan berhenti berdetak. Dirinya tak mampu menerima kenyataan pahit yang baru saja didengarnya. Gadis itu limbung seketika hingga menimpa tubuh Bi Yati.


" Nona! Nona, bangun Nona. "


Bi Yatipun ikut panik melihat majikan yang akan membelanya justru pingsan sekarang. Dengan tubuh bergetar, ia meminta maaf kepada Pak Burhan.


" Tu-an. Maafkan saya. " wanita itu berkata tanpa berani mengangkat wajahnya.

__ADS_1


" Maaf kau bilang? Setelah kau membantu mencekokiku dengan obat yang Livia berikan sehingga aku harus merasakan stroke sekian lama? Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja. Sebentar lagi polisi akan datang dan menjebloskanmu ke jeruji besi."


Bi Yati terkesiap, dirinya langsung bersimpuh dihadapan Pak Burhan.


" Ampuni saya, Tuan. Jangan masukkan saya ke penjara. " mohonnya berlinang airmata.


Pak Burhan tak bergeming, dirinya sudah cukup menderita selama ini. Ia bertekad untuk memberikan hukuman yang setimpal pada orang-orang yang menyakitinya dahulu.


Tak berselang lama, polisi langsung menjemput dan membawa Bi Yati ke kantor polisi. Sedangkan Lilian, wanita itu masih ditunggu kesadarannya. Diandra tak tega melihat seorang wanita hamil terlunta-lunta. Untuk sementara ia membiarkan Lilian untuk tetap berada di Mansion Adijaya.


Pak Burhan mengajak Diandra menuju gudang tempat dulu dirinya sempat disekap oleh Livia. Beliau mengumpulkan beberapa barang yang berkaitan tentang istri pertamanya, Nyonya Sheina.


Pak Burhanpun menceritakan tentang betapa ia mencintai Sheina dan awal mula penderitaan yang mereka alami selama ini.


Tanpa terasa Pak Burhan menitikkan airmatanya. Ia menyesal sempat meragukan istri yang begitu mencintainya.


" Sudah Pa. Semua sudah berlalu. Mama di surga pasti sudah memaafkan Papa. Semoga setelah ini hanya ada masa-masa bahagia yang menghiasi hidup kita. "


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2