Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 80


__ADS_3

" Papa? Ka-u bisa berjalan?"


Perasaan kaget dan tak percaya bercampur jadi satu dihati Diandra. Ia bahkan merasa ini merupakan sebuah mimpi bisa melihat Papanya berdiri dan berbicara seperti sedia kala. Kejadian ini benar-benar keajaiban yang diberikan oleh Tuhan untuknya, setelah kesulitan yang ia alami beberapa waktu yang lalu.


Diandra mendorong ketiga lelaki yang masih mematung karena terkejut. Ia menghampiri pria paruh baya itu, lalu menangis dalam pelukannya.


Pak Burhan ikut menitikan airmata. Ia membalas pelukan Diandra sembari mengusap punggung wanita itu.


" Syukurlah akhirnya Papa bisa berjalan kembali. Aku sangat merindukan Papa. " ungkap Diandra penuh haru.


" Papa juga sangat senang, akhirnya Papa bisa memelukmu seperti ini." ini adalah hal paling berharga dalam hidup Pak Burhan setelah puluhan tahun dirinya hanya terbaring di atas ranjang.


Livia memandang sinis pada keduanya, ia sendiri masih tak menyangka jika suaminya bisa kembali normal.


" Silahkan kalian saling mencurahkan rindu saat ini. Tapi sayangnya, ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kalian. " sindir Livia.


Burhan melepaskan pelukannya, ia melemparkan tatapan geram pada wanita yang masih berstatus istrinya itu.


" Dasar wanita iblis! Tega-teganya kau memfitnah dan membunuh Sheina! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Bahkan kau juga yang membuatku lumpuh selama ini!. "


Lelaki itu kalap dan tiba-tiba menyerang Livia, ia mencekik leher Livia hingga wanita itu kesulitan untuk bernafas.


Dedy berusaha membantu Livia, tetapi tenaga Burhan yang sedang kalap begitu luar biasa. Ia mendorong Dedy hingga jatuh terpental.


" Lepaskan Livia atau kutembak kepalamu sekarang juga! " geram Dedy mengeluarkan senjata dari dalam jasnya.

__ADS_1


" De-dy To-long. " Livia hampir sekarat rasanya.


Suasana semakin menegang, perlahan Burhan mengendorkan cengkramannya tetapi ia tak ingin melepaskan Livia begitu saja.


Diandra terkesiap, dirinya takut Dedy benar-benar menembak Papanya.


Burhan menyeringai, ia menatap jijik pada pria yang dulu begitu ia percaya.


" Tak kusangka kau begitu bodoh hingga bisa tergila-gila pada wanita ular sepertinya. Aku benar-benar jijik melihatmu! Bisa-bisanya kau bercinta dengannya didepanku saat aku tak berdaya. Kalian berdua sama-sama rendahan! " sindir Burhan.


" Diam kau bren*sek! Aku tak peduli apa katamu! Aku memang menyukai Livia. Aku benar-benar tak tega saat kau bersikap acuh padanya. Jadi apa salahnya aku memberikan apa yang tak bisa kau berikan pada istri keduamu?" sanggah Dedy tak mau kalah.


Keduanya saling bersitegang. Dedy benar-benar muak dengan kebangkitan Burhan kembali. Ia ingin segera mengakhiri masalah ini. Pria itu menarik pelatuknya hingga membuat Diandra berteriak histeris karena ketakutan.


" Papa! "


" Diandra? Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah! " Burhan tak ingin anaknya jadi korban.


Dedy mengeluarkan smirk di wajahnya.


" Tenang. Tidak perlu berebut, aku pasti menghabisi kalian berdua. " ucapnya santai.


Diandra memejamkan mata saat Dedy benar-benar mengarahkan senjata kepadanya.


" Bersiaplah menemui ajalmu ! "

__ADS_1


DOR...


Suara tembakan membuat seluruh penghuni ruangan menjadi tegang. Diandra ikut terkejut saat mendengar bunyi tembakan tersebut, tetapi anehnya ia tak merasakan apapun di tubuhnya.


Seketika ia membuka matanya, dirinya tersentak ketika melihat Dedy hampir limbung akibat tembakan yang mengenai punggungnya. Ternyata Raka terpaksa menembak lelaki itu karena hampir saja menghilangkan nyawa istrinya.


" Dedy ! Tiidaakk! "


Livia mendorong Burhan dan menghampiri lelaki yang tengah bersimbah darah saat ini.


" Bertahanlah. Kumohon bertahanlah! " ia memeluk Dedy yang sudah terlihat pucat saat ini.


Netra Livia kini mengarah tajam pada pria yang telah menembak kekasihnya.


" Raka Syailendra! Terkutuk kau. Aku pasti akan membalasmu! " teriaknya sembari menangis histeris.


Diandra dan Pak Burhan mematung, mereka merasa miris dengan tangisan Livia yang menyayat hati. Akan tetapi, mungkin ini memang sudah menjadi karma yang harus diterima wanita itu setelah berbagai kejahatan yang dilakukannya.


Raka memanggil seluruh anggotanya untuk masuk . Mereka telah melumpuhkan beberapa anak buah Dedy yang berada diluar tanpa sepengetahuan pria itu.


Raka berniat menghampiri istrinya untuk memastikan keadaan Diandra.


Namun, tanpa mereka duga Livia mengambil pistol milik Dedy dengan cepat. Wanita yang sedang gelap mata itu dengan gerakan cepat menarik Diandra yang tengah lengah dan menjadikannya sebagai sandera.


" Jangan ada yang bergerak atau nyawa wanita ini jadi taruhannya!"

__ADS_1


Keadaan menjadi tegang kembali, entah apa yang akan dilakukan Livia setelah ini.


Bersambung....


__ADS_2