
Raka dan Lilian duduk bersebelahan diruang tamu. Sebenarnya Raka merasa risih sebab Lilian selalu menempel dan bergelayut di lengannya. Lilian sengaja membuat Diandra cemburu padanya.
Diandra kembali melanjutkan aktifitasnya, ia mengambil sapu yang tak jauh dari posisi Raka dan Lilian duduk. Sesekali dirinya melirik kemudian kembali menundukkan pandanganya.
" Apa-apaan dia! Bisa-bisanya bermesraan dengan wanita lain didepanku, Cih! " batinnya geram. Ia menyapu dengan begitu kuat hingga membuat Raka dan Lilian terbatuk karenanya.
" Uhuk..Uhuk..Uhuk. Asih! Apa-apaan kamu? Apa kau sengaja ingin membunuh kami! " pekik Lilian kesal.
" Maaf, Nona. Aku benar-benar tidak sengaja. Mungkin aku terlalu bersemangat menyapu." sangkal Diandra sembari menyengir kuda.
Diandra kembali mengibaskan sapunya dengan kuat hingga membuat Lilian kembali tersendak dibuatnya,
" Sudah, sudah, sudah. Menjauhlah dari sini dan buatkan minum untuk kami." pinta Lilian. Jika tak ada Raka dia pasti sudah membuat perhitungan dengan Diandra saat ini.
Raka justru mengembangkan senyuman ke salah satu sudut bibirnya. Dia merasa gemas dengan ekspresi Diandra saat cemburu. Yah, dia yakin Diandra cemburu karena dirinya dekat dengan Lilian.
" Raka kenapa kau senyum-senyum sendiri? " ungkap Lilian heran.
Raka hampir lupa jika saat ini ada Lilian disampingnya.
" Ti-tidak. Aku hanya gemas melihatmu marah seperti itu. Kau terlihat semakin imut jika sedang kesal. " sangkal Raka. Padahal sebenarnya kata itu ingin sekali ia ucapkan pada Diandra.
Lilian merona seketika mendengar pujian Raka.
" Oohhh...Raka. Akhirnya kau sadar juga kalau aku itu memang sangat menggemaskan. " Lilian menyapukan kepalanya di lengan Raka dengan manja. Lelaki itu berusaha menghindar karena risih.
Namun, disisi dapur Diandra tengah geram sambil *******-***** lap ditangannya.
" Aaisshhh..Dasar wanita penggoda. Lakinya juga sama saja, genit! " tekannya kembali sembari meremas lap ditangannya.
Diandra kembali ke meja dapur dan menyiapkan minuman. Ia kesal pada Raka, dengan sengaja ia mengganti gula di minuman Raka dengan beberapa sendok garam.
" Ini hukuman biar dia tau rasa! " umpatnya kesal sembari membawa kedua minuman tersebut ke depan.
" Ini Nona, Tuan minumannya. " Diandra menaruh dua gelas orange jus dihadapan keduanya.
Lilian dan Raka segera meneguk minuman dingin tersebut. Diandra tak sabar untuk melihat reaksi Raka, ia masih berdiri tak jauh dari sana.
Tibalah saatnya Raka dan Lilian mulai meneguk minumannya.
GLEK..
Netra Raka membola seketika merasakan minuman yang sangat asin dilidahnya. Akan tetapi, ia berusaha menghabiskan minuman itu hingga hanya bersisa sedikit saja digelasnya.
Diandra tercengang melihatnya, ia tak menyangka jika minuman itu bisa dihabiskan dengan mudah oleh Raka.
" Ba-bagaimana bisa? Bukankah aku sudah memasukkan banyak garam disana? Atau lidahnya sudah mati rasa? " ungkap Diandra tak percaya.
" Wahh,, sepertinya kau haus sekali? Kau langsung menghabiskan minuman itu. " goda Lilian saat melihat Raka langsung menghabiskan minumannya.
__ADS_1
" I-iya. Aku memang haus sekali, lagi pula minumannya sangat enak." jawab Raka sambil menyengir. Jika bukan Diandra yang membuatnya, pasti dirinya akan memuntahkan minuman tersebut.
" Hah...wanita jika sudah cemburu bisa berbuat apa saja. Untung bukan racun yang dimasukkan disana. " gerutu Raka dalam hati.
Diandra segera mengambil minuman di meja tersebut. Ia membawanya ke dapur lantaran penasaran dengan rasanya. Ia meneguk sedikit sisa di gelas Raka untuk memastikan.
Netra Diandra terbelalak, ia segera menuju wastafel untuk memuntahkannya.
" Cuih...Cuih..asin sekali. Bagaimana dia bisa kuat meminumnya. Sepertinya benar, lidahnya sudah mati rasa. " gerutu Diandra.
***
" Eum..Lilian? Bolehkah aku minta tolong padamu? " ungkap Raka ragu.
" Tentu saja. Memangnya kau mau minta tolong apa? " jawab Lilian bersemangat.
Raka menundukkan pandangannya, ia memasang wajah memelas.
" Kau tahu akhir-akhir ini aku begitu frustasi. Aku memutuskan untuk tinggal diapartemen sekarang. Kebetulan, Bibi yang biasa bebersih disana sedang ijin pulang kampung karena anaknya sedang sakit. Bisakah kau membantuku membereskannya? Atau kau bisa membawa salah satu pelayan disini? Barang-barangku sangat berantakan, aku bahkan menghancurkan sebagian karena kesal." bujuk Raka.
Lilian nampak berpikir, bahkan untuk berberes kamarnya sendiri iapun enggan.
" Bagaimana jika aku mengajak kepala pelayan disini untuk membantu kita? " cetus Lilian.
" Tidak! Tidak! Eh..maksudku kepala pelayan pasti harus mengurus banyak pekerjaan disini. Pembantu disini kebanyakan telah berumur, atau kau bisa membawa wanita barusan untuk bersama kita. " bujuk Raka kembali.
Lilian mengernyitkan dahi karena heran, ia curiga jika Raka tahu bahwa wanita itu adalah Diandra.
Mendengar Raka ingin berdua dengan dirinya membuat Lilian begitu senang dan lupa diri. Iapun menyetujui keinginan Raka.
" Baiklah kalau begitu. Aku akan ajak Asih bersama kita. Aku juga sangat merindukan kebersamaan denganmu. " jawab Lilian berbinar senang.
Lilian rasa dengan begini pasti dirinyapun bisa membuat Diandra terbakar cemburu olehnya. Lagipula ada dirinya, Diandra pasti tak akan berani berbuat macam-macam.
Keduanyapun sepakat membawa Asih ke apartemen Raka. Asih yang awalnya menolak terpaksa harus menuruti Lilian sebab ia mengancam akan melaporkan Diandra pada Mamanya.
" Ya Tuhan. Lilian pasti sengaja ingin memanas-manasiku sekarang. " benak Diandra kesal.
Sesekali ia melirik ke kursi depan, dadanya sesak melihat Lilian menyandarkan kepalanya di bahu Raka yang tengah menyetir.
***
Ketiganya kini telah sampai di apartemen Raka. Diandra dan Lilian sama-sama tercengang melihat apartemen Raka yang begitu berantakan. Bahkan beberapa barang antik hancur berkeping seperti habis dibanting.
" Apa dirinya juga terluka karena kami gagal menikah? " batin Diandra menghiba.
Diam-diam Lilianpun terbakar cemburu, ia tak menyangka Raka benar-benar frustasi karena kehilangan Diandra.
" Ayo, masuklah. Maaf ruanganku sangatlah berantakan. Kau pasti tak menyangka bukan? " ungkap Raka tersenyum masam.
__ADS_1
" Ti,, tidak. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku berjanji, aku akan menghapus bayangan wanita itu dari hatimu. " Lilian tiba-tiba memeluk Raka.
Dada Diandra semakin bergemuruh rasanya, ia enggan melihat kemesraan yang ditunjukkan keduanya.
Diandra memilih untuk mulai membersihkan ruangan. Semakin cepat semakin baik, itu artinya hatinya tak akan terluka lebih lama.
Lilian masih asyik memeluk tubuh Raka. Sebenarnya Raka ingin sekali menghempaskan wanita itu, tapi demi rencananya berjalan lancar, ia harus membuat Lilian terbuai olehnya.
Sesekali ia melirik Diandra, rasanya sungguh tak tega membiarkan wanita itu bekerja seorang diri. Dirinyapun berinisiatif mengajak Lilian ikut membersihkan apartemennya.
Namun, lagi-lagi Diandra harus melihat pemandangan yang sukses membuat panas matanya. Lilian justru bermanja-manja dengan Raka ketika tanpa sengaja gadis itu hampir terpeleset.
Raka mengajak Lilian kembali duduk.
" Tunggu disini. Aku akan membawakan minuman untukmu. Kau pasti haus. " Raka melangkah ke dapur dan membuatkan minuman untuk Lilian.
Diandra semakin meradang, padahal dirinya begitu lelah membersihkan ruangan. Namun, bahkan air putihpun dirinya tak ditawari sama sekali.
Sesekali ia melirik dua sejoli yang tengah berduaan. Raka bahkan membantu Lilian meminum minumannya.
" Malam ini menginaplah disini. " pinta Raka pada Lilian.
" Tidak! Tidak bisa! " netra Lilian dan Raka langsung tertuju pada Asih yang tiba-tiba menyahut ucapannya.
" Mak-sudku bukankah pekerjaanku dirumah banyak, Nona. Aku takut Nyonya Livia marah nanti. " lanjutnya beralasan.
Lilian menyeringai senang, ia yakin Diandra sedang cemburu saat ini.
" Kau tak perlu khawatir. Aku akan meminta izin pada Mama. Dia pasti mengizinkan. " sanggah Lilian.
Lilian kembali menatap Raka penuh damba.
" Tentu saja aku setuju. Aku,, sangat ingin menghabiskan waktu denganmu. " ungkapnya sembari tersipu.
JLEB..
Hati Diandra bak tertusuk sembilu, bayangan hal-hal negatif berputar dikepalanya. Ia sungguh tak akan sanggup jika harus melihat keduanya bercinta.
Ingin rasanya ia lari, tetapi dirinya masih memikirkan nasib ayahnya yang berada di tangan Livia.
Diandra memilih menuju dapur, disana ia tak perlu melihat kedua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu.
Diandra mencuci beberapa piring yang masih menumpuk di wastafel. Tanpa sadar bulir airmata membasahi kedua pipinya, dirinya sungguh terluka sekarang.
" Sabar Di. Kau harus kuat, mungkin dia bukanlah yang terbaik untukmu." gumamnya seorang diri sembari menyapu airmatanya yang terus mengalir.
" Aaaahhh..."
Tanpa sadar Diandra berteriak saat merasakan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
" Aku sangat merindukanmu, Diandra Anastasya. "
Bersambung...