Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 93


__ADS_3

Minggu belakangan Diandra memilih untuk pulang lebih cepat dari kantor. Ia mulai mengurangi aktifitas kerjanya mengingat usia kandungannya yang sudah mulai mendekati hari perkiraan lahir.


Raka selalu membujuk istrinya agar berhenti bekerja sementara. Namun, wanita itu berdalih ingin mencari kesibukan semata. Alhasil, Raka meminta Aora untuk benar-benar menjaga kakak iparnya dan melaporkan segala kegiatan Diandra diperusahaan.


Lelaki itu mewajibkan Diandra agar tidak terlalu memforsir pekerjaannya dan pulang lebih awal dari biasanya. Demi untuk tetap bisa bekerja, Diandrapun menuruti aturan suaminya.


" Iya, sayang. Aku sudah pulang dari tadi. Tapi kami terjebak macet sekarang. " jawabnya pada Raka yang mengomel dibalik telepon. Lelaki itu begitu cemas sebelum memastikan istrinya sampai di mansion dengan selamat.


Pria itu meminta Diandra untuk menunjukkan sekitarnya, lalu iapun berceramah pada Aora agar menjaga kakak iparnya dengan baik.


" Siap, Kak. Pokoknya kakak tidak perlu khawatir. Aku pasti menjaga Kak Diandra dan memastikannya pulang dengan aman. " Gadis itu berbicara dengan penuh semangat untuk meyakinkan.


Ponsel itupun berbalik pada Diandra hingga akhirnya sang suami bisa mengembangkan senyum penuh kelegaan.


" Baiklah kalau begitu. Maaf sayang, aku tidak bisa menjagamu hari ini. Tapi aku berjanji, setelah rapat selesai aku pasti akan segera kembali. "


Raka memang sedang berada diluar kota. Jika tidak, pasti dia sendiri yang akan datang menjemput istrinya dikantor. Ia tak ingin melewatkan satu haripun menjelang detik-detik kelahiran anaknya yang diperkirakan tinggal seminggu lagi.


" Oke. Aku menunggu kedatanganmu dirumah. Dady, semangat bekerja ya? Kita bertiga sayang Dady. " Diandra memperlihatkan perutnya yang buncit sambil mengelusnya perlahan didepan kamera.


Hati Raka menghangat setelahnya, dirinya benar-benar tak sabar menyaksikan kelahiran anak kembar mereka ke dunia ini. Iapun segera menutup panggilannya karena harus secepatnya memimpin rapat.


Diandra dan Aora kompak membuang nafas kasar lantaran lega ceramah sore ini telah berlalu. Kini keduanya fokus menatap sisi jalan sambil memperhatikan kemacetan panjang yang terjadi sore ini.


Dua wanita itu larut dalam pikiran masing-masing. Jika Diandra membayangkan kelahiran putra putrinya yang cantik. Sedangkan Aora sedang galau sampai sekarang. Bagaimana tidak? Setiap ia mau menemui Jonathan pria itu selalu berkata " jangan menggodaku kalau kau hanya ingin main-main. Aku butuh hubungan serius! "


Lucu bukan? Menurutnya kalimat itu biasa dilontarkan seorang wanita. Tapi yang terjadi padanya justru berkebalikan.


Diandra memperhatikan kesisi jalan. Netranya tertuju pada seorang wanita yang berjalan dipinggir Trotoar. Wanita itu menggendong seorang bayi sembari menenteng tas di tangan sebelahnya. Sesekali wanita itu mengusap peluhnya yang menetes.


" Lilian? " gumamnya kaget.

__ADS_1


Diandra tiba-tiba saja turun dari mobil hingga membuat Aora dan sopir mereka menjadi panik.


" Kakak ipar! " " Nona ! " panggil keduanya bersamaan kemudian segera turun menyusul Diandra.


Diandra semakin mempercepat jalannya untuk menyusul wanita di depannya. Nafasnya tersengal-sengal, dengan bobot tubuhnya sekarang rasanya ia tak mungkin mengejar wanita didepannya. Ia


berinisiatif memanggil wanita tersebut.


" Lilian, tunggu ! "


Derap langkah Lilian terhenti saat mendengar seseorang seperti tengah memanggilnya. Ia berbalik untuk memastikan.


" Di-andra?


Lilian tak menyangka akan bertemu Diandra kembali. Derai air matanya meluncur seketika, wanita itu berniat untuk segera pergi dari sana. Ia berbalik kemudian mempercepat langkahnya.


" Lilian! Kumohon tunggu sebentar ! " pinta Diandra memelas.


Lilian akhirnya berhenti kembali, ia menghapus airmatanya dan memutuskan menghampiri Diandra. Ia tak tega melihat Diandra kelelahan lantaran perutnya sudah besar sekarang.


Tanpa diduga Lilian merengkuh tubuh Diandra dengan salah satu tangannya. Terdengar isak tangis Lilian dibalik punggung Diandra.


Aora dan sopir pribadinya berhasil menyusul Diandra. Mereka berhenti dan menyaksikan kedua wanita tersebut dengan penuh haru.


" Aku dan Papa Burhan sudah memaafkanmu sejak awal, tetapi kenapa kau malah kabur? "


Yah, Lilian pingsan saat Bi Yati ditangkap polisi waktu itu. Wanita itu merasa begitu malu dan bersalah pada Pak Burhan dan Diandra atas perbuatan kedua orang tuanya. Dirinya yang tersadar segera keluar dari mansion itu saat para penjaga lengah.


" Maaf. Aku benar-benar menyesal atas apa yang aku dan orang tuaku lakukan selama ini pada kalian. Aku malu, Di. Bagaimana mungkin aku tinggal di tempat orang yang selama ini selalu dianiaya oleh keluargaku. " Lilian tak kuasa menahan airmatanya. Diandra menangkap ketulusan dari sorot mata seorang Lilian.


Lilianpun menceritakan apa yang terjadi pada dirinya semenjak keluar dari mansion.

__ADS_1


Ia yang pergi hanya membawa pakaian seadanya dan uang tak seberapa, terpaksa menyewa sebuah kontrakan kecil. Namun, dirinya yang notabene belum memiliki pengalaman kerja merasa kesulitan mencari pekerjaan untuk hidup sehari-hari . Ditambah kandungannya yang semakin membesar membuat beberapa warga sekitar bergunjing tentangnya.


" Hari ini aku diusir dari kontrakan karena menunggak uang sewa. Apalagi para tetangga banyak yang menghinaku karena melahirkan anak tanpa ada Papanya. " cerita Lilian sambil terisak.


" Kau tenang saja. Sekarang kita kembali ke mansion Papa Burhan. Aku yakin beliau pasti mau menerimamu dengan baik. " Diandra mencoba menenangkan.


Awalnya Lilian menolak, ia merasa tak pantas tinggal disana lagi. Akan tetapi, setelah Diandra beberapa kali membujuknya. Wanita itu akhirnya menyerah lalu ikut pergi bersama Diandra.


Diandra menatap baby dalam gendongan Lilian, dirinya trenyuh mengingat bayi tak berdosa itu tidak memiliki seorang ayah.


" Kasihan sekali nasibnya. Aku lebih beruntung karena memiliki orang tua angkat yang begitu menyayangiku. " gumamnya dalam hati sembari mengusap lembut baby di gendongan Lilian.


" Diandra? Maaf, aku belum sempat mengucapkan selamat atas kehamilanmu. Sepertinya kau sudah mau melahirkan? "


Ucapan Lilian membuat Diandra tersadar dari lamunannya.


" Oh iya, terima kasih. Kemungkinan seminggu lagi aku akan melahirkan. Lebih baik kita segera pulang sebelum petang menjelang. " Diandra yakin suami tercintanya akan mengomel jika dia belum juga kembali.


Keempatnya berjalan menuju mobil. Diandra merasakan sesuatu yang tidak nyaman diperutnya.


" Aaarrghh... "


Ia memegangi perutnya yang terasa melilit hingga ia tak mampu menahan rasa sakit itu.


" Kakak ipar kau kenapa? "


Aora membantu Diandra yang kesakitan. Ia bingung sebab Kakak iparnya itu seharusnya belum melahirkan.


" Ayo cepat bawa Diandra, sepertinya dia akan melahirkan! " ungkap Lilian panik.


" Tapi? "

__ADS_1


Tanpa banyak membuang waktu merekapun segera membawa Diandra kerumah sakit. Lilian meminta Aora untuk menghubungi Raka dan mengabarkan keadaan istrinya.


Maaf telat up ya.. Author benar-benar sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini. Tetap dukung novel ini hingga tamat ya..Makasih sebelumnya🙏


__ADS_2