Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
MALAM PERTUNANGAN RAKA DAN DIANDRA


__ADS_3

Malam ini Diandra terlihat begitu cantik dalam balutan gaun berwarna biru dengan panjang selutut dan mengekspose sebagian bahu mulusnya. Ia memakai Liontin pemberian Nyonya Sheina untuk mempermanis penampilannya.


" Ma, Pa. Aku harap kalian ikut bahagia disana. Putrimu ini sebentar lagi akan bertunangan. " gumamnya sembari memejamkan mata menahan tangis. Ia teringat orang tuanya yang telah tiada.


Miris rasanya bagi Diandra saat ia harus menghadapi kenyataan bahwa dihari berbahagianya, dirinya hanyalah sebatang kara. Jika saja Papa Burhan sembuh, ingin sekali rasanya ia berbagi kebahagiaan dengan Papanya.


Mobil membawa Diandra menuju hotel tempat terselenggaranya acara. Raka dan seluruh anggota keluarganya telah menunggu Diandra ditempat itu.


Terutama Raka, binar kebahagiaan nampak jelas di wajah tampan pria tersebut kala melihat Diandra telah tiba disana. Ia langsung mendekati sang pujaan hati dan menuntunnya ketengah-tengah acara.


Semua tamu undangan menyambut dengan riuh tepuk tangan untuk pasangan yang berbahagia ini.


Nyonya Delia, meskipun dirinya tak menyukai Diandra, namun ia merasa senang sebab hanya Diandra yang mampu membuat putranya terlihat begitu bahagia.


Beliau dengan suka rela memberikan cincin turun temurun dari keluarga Syailendra untuk Raka berikan pada kekasihnya.


Beberapa wartawan dan kolega Raka maupun Diandra juga hadir disana. Mereka mengabadikan moment pertunangan Raka melalui jepretan kamera dan membagikannya ke medsos dengan judul " Pasangan Calon Pengantin Paling Serasi Tahun ini. "


Acara berlangsung sangat meriah, setelah pertunangan berakhir dilanjut acara makan malam dan juga pesta dansa.


Seluruh lampu ruangan menjadi gelap dan berganti cahaya remang-remang ketika pesta dansa akan dimulai.


Sorot lampu utama tertuju pada Raka yang mengulurkan tangannya kepada Diandra.


" Mari berdansa denganku. " pintanya pada sang kekasih tanpa melepaskan senyuman di wajah tampannya.


Diandra membalas senyuman Raka, bersama pria itu entah mengapa membuat jantungnya terus saja berdebar-debar. Ia menyambut uluran tangan Raka, tetapi Raka justru menarik Diandra hingga jatuh dalam pelukannya.


" Kau usil sekali. " ungkap Diandra dengan wajah bersemu merah sambil menyembunyikan wajahnya dibahu Raka.


Tubuh Diandra bereaksi ketika tangan Raka memeluk pinggang rampingnya.


" Kenapa kau tegang seperti itu? Aku hanya memeluk pinggangmu. " goda Raka ditengah-tengah dansa. Kedua sejoli tersebut terlihat semakin dekat, sesekali keduanya saling melempar senyum kebahagiaan.


Ditengah-tengah pesta dansa, Raka membisikkan sesuatu ke telinga Diandra.


" Aku ingin berdansa denganmu, tapi bukan disini. Maukah kau ikut denganku? " tanyanya pada wanita yang ada dihadapannya.

__ADS_1


" Kemana? "


Bukannya menjawab, Raka justru mengajak Diandra berlari menuju ke lantai paling atas gedung. Wanita itu terkejut saat mendapati sebuah helikopter telah terparkir disana.


Raka menuntun wanitanya memasuki helikopter pribadinya.


" Jalan. "


Helikopter mulai lepas landas membawa keduanya terbang memecah suasana malam ini.


Diandra terpukau akan indahnya suasana perkotaan di malam hari.


Mungkin dirinya sering menaiki pesawat, tetapi menaiki helikopter seperti sekarang memberikan sensasi yang tersendiri baginya.


" Sekarang kau lihat ke bawah. "


Raka menunjuk kearah rooftop hotelnya. Beberapa karyawan menyalakan kembang api dari bawah sehingga percikan cahayanya nampak begitu dekat dengan mereka sekarang.


Bunyi letusan kembang api semakin memeriahkan suasana malam ini. Dianda sangat terpukau, dirinya seakan melihat langit bertabur cahaya malam ini.


" Wah,, indah sekali. Kau sengaja menyiapkan semua ini untukku? " Diandra tanpa sadar menggenggam tangan Raka, tetapi fokusnya tetap tertuju pada percikan kembang api yang berkilauan.


Jantung Raka berpacu saat Diandra tiba-tiba menggenggam tangannya. Pria itu semakin terpesona melihat wajah Diandra yang semakin memukau terkena cahaya kembang api.


Bibir Diandra yang mungil, tetapi nampak penuh dan kenyal begitu menggodanya. Ia teringat ciuman panas mereka saat di rumah pohon waktu itu.


Pria itu mulai mendekatkan wajahnya dan mencuri ciuman di bibir Diandra.


" Cup.."


" Ahhh... "


Diandra terkejut, wajahnya kembali merona karena malu.


" Apa mencuri ciuman menjadi hobi barumu? Kau memang nakal sekali, apa kau tak malu jika pilot didepan melihat kita? " protes Diandra.


" Aku tak akan peduli dengan apapun selama itu bersama dirimu." tegas Raka.

__ADS_1


Tanpa diduga, Helikopter membawa keduanya turun di sebuah tepi pantai yang nampak begitu bersih dan tenang. Helikopter tersebut lalu pergi setelahnya.


" Ini dimana? Kenapa kau mengajakku kesini? Eum...kau tidak akan berbuat macam-macam kan? " Diandra menatap Raka penuh selidik.


Raka terkekeh mendengarnya,


" Memangnya kenapa kalau aku macam-macam? Tidak ada siapa-siapa disini. Bukankah kita juga akan menikah minggu depan?" goda Raka.


" Tapi aku percaya padamu. Kau tak akan berbuat buruk kepadaku. " ungkap Diandra yakin.


Raka melepas sepatunya. Begitupun Diandra, ia melepas highheels yang sedari tadi membuat kakinya pegal.


Keduanya berlari menyusuri sepanjang garis pantai dan berhenti disebuah tempat yang memang telah Raka persiapkan sebelumnya.


Sebuah taman berhias bunga yang disertai kerlap kerlip lampu. Disana terdapat sebuah piringan hitam clasic. Raka menyetel sebuah lagu romantis untuk menghangatkan suasana malam ini.


" Aku ingin berdansa denganmu disini. Dengan deburan ombak sebagai musiknya dan hembusan angin laut sebagai pengiring iramanya."


Ia mengulurkan tangannya kembali pada Diandra. Tentu saja, Diandra menerimanya, ia mulai terhanyut dengan suasana syahdu nan romantis malam ini.


Keduanya saling memeluk dan menari bersama. Diandra meletakkan kakinya diatas telapak kaki Raka.


Mereka begitu menikmati suasana ini. Perlahan Raka membuka kancing jasnya lalu mengunci Diandra didalam sana.


" Aku tidak ingin kau kedinginan. "


Kedua netra itu saling menatap penuh damba.


" Aku akan selalu hangat saat bersamamu. " balas Diandra.


Posisi mereka begitu intim sekarang, keduanya semakin tenggelam dalam suasana. Raka mulai memagut bibir Diandra, memberikan sentuhan yang begitu lembut di bibir kenyal yang menjadi candunya.


Diandrapun menikmati ciuman lembut yang disuguhkan oleh pemilik hatinya. Mereka saling mengulum, bertukar saliva dan mengaitkan lidah di dalam sana.


Sungguh tak terbayang betapa hasrat menggelora dalam diri Raka. Namun, pemuda itu selalu berkomitmen bahwa ia akan menjaga kesucian Diandra hingga ikatan pernikahan tiba.


Diandra terlalu berharga, selayaknya barang berharga yang harus selalu ia jaga termasuk dari musuh terberatnya yakni nafsunya sendiri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2