
Di ADIJAYA GROUP ...
Livia sangat senang sebab perusahaannya berhasil menjalin kerjasama dengan WINNER PRAKARSA. Ditambah lagi, para penjahat yang mereka sewa telah berhasil meringkus Diandra.
Namun, disatu sisi dirinya tidak menyadari jika Winner Prakarsa merupakan perusahaan milik papa Jonathan. Pria itu meminta izin pada Papanya untuk menggantikan peran beliau sebagai pimpinan perusahaan tersebut sementara
Jonathan memang sedang mengalihkan perhatian Livia dan Dedy supaya mereka lebih fokus di perusahaan tanpa tahu Diandra yang sedang membuat kesepakatan dengan Lilian.
Jonathanpun tidak mempermasalahkan jika harus bekerjasama dengan Adijaya Group sebab jika nantinya perusahaan tersebut jatuh di tangan Diandra, ia akan tetap bisa dekat dengan wanita itu lewat kerjasama ini.
Ia juga ingin melihat sendiri lokasi pertambangan karena menurut desas desus yang beredar banyak karyawan yang mengeluh tentang minimnya safety untuk para pegawai tambang ditambah lagi gaji karyawan masih dibawah standar.
Ternyata hal itu memang benar, untuk perusahaan sebesar Adijaya Group nyatanya sebagian besar masih menggunakan alat manual sehingga masih kurang memperhatikan keselamatan para pegawai tambang disana. Kebetulan ketika Jonathan kesana tengah terjadi demo kecil yang mengenai masalah intern perusahaan.
Jonathan segera melaporkan hasil penyelidikannya pada sang atasan.
" Kerja bagus, Jo. Terimakasih kau selalu membantuku dalam segala hal. Oh ya, nanti malam jangan lupa datang di acara pertunanganku dan Raka ya. " pinta Diandra dari balik telepon.
Jonathan menggenggam erat ponselnya, hatinya semakin sesak membayangkan jika Diandra bersanding dengan pria lain.
" Maaf, Di. Tapi Papa memintaku untuk pulang hari ini. Dia sangat merindukan makan malam denganku. " tolaknya halus.
Tentu ia tak akan sanggup, mendengarnya saja hatinya sudah bergemuruh, apalagi jika menyaksikannya secara langsung.
Diandra sedikit kecewa sebab selain asisten pribadi, Jonathan merupakan sahabat dekatnya. Namun, ia memaklumi kerinduan Papa Jonathan lantaran pria itu lebih sering pulang ke apartemennya.
" Baiklah, aku mengerti. Tapi kau harus berjanji untuk datang ke pesta pernikahanku. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. " Diandra langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ingin sekali Jonathan menyahut, tetapi panggilan keburu dimatikan Diandra.
" Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Sedangkan hatiku begitu rapuh karenanya. " gumamnya berputus asa.
***
__ADS_1
Sepulang dari kantor, Livia dan Dedy langsung pulang. Mereka ingin membagikan kabar gembira tersebut pada Lilian agar gadis itu bisa sedikit terhibur.
Namun, alangkah terkejut keduanya saat kepala pelayan menyampaikan bahwa Lilian tidak ada di kamarnya.
Seluruh pelayan dan penjaga dikerahkan untuk mencari keberadaan Lilian di sekitar mansion. Akan tetapi, Lilian tetap saja tak ditemukan.
" Kemana anak itu? Dia selalu saja bertindak semaunya sendiri. "
Livia benar-benar khawatir, apalagi Lilian sedang frustasi saat ini. Wanita itu terduduk lesu merutuki kebodohan putrinya. Entah mengapa perasaannya sungguh tak enak kali ini.
Tiba-tiba salah seorang pelayan datang menemuinya dengan tergesa-gesa.
" Nyonya, maaf. Sepertinya Nona Lilian kabur dari rumah ini lewat pagar belakang. Kami menemukan tangga di dekat sana. " lapor salah satu pelayan.
Livia langsung berdiri dari tempatnya, ia meminta para penjaga untuk memastikan lewat cctv taman belakang. Ternyata benar, Lilian kabur dengan lewat tembok belakang mansion.
Dedy segera mengerahkan anak buahnya untuk mencari Lilian. Sedangkan ia dan Livia akan mencari Lilian ke tempat para sahabat gadis tersebut.
" Mereka telah mengirimkan videonya. Tinggal kita kirim video ini ke publik, setelah itu nama baik Diandra akan hancur tak bersisa. " Dedy menyerahkan ponselnya pada Livia.
Awalnya Livia enggan menonton. Tetapi karena penasaran dengan wajah kehancuran Diandra, ragu-ragu ia memutar video tersebut.
DEG..DEG...DEG...
Jantung Livia bergemuruh saat dirinya melihat siapa wanita yang ada di video tersebut. Airmatanya menganak pinak ketika melihat Lilian mengerang kesakitan karena dilecehnya ketiga pria bejat di video tersebut.
Ponsel tersebut terjatuh seketika, Livia menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Li-lian. " ungkapnya sesenggukan.
Dedy yang hampir menyalakan starter segera mematikannya kembali lantaran melihat Livia menangis secara tiba-tiba dan menjatuhkan ponsel miliknya.
" Livia katakan ada apa! " ia ikut gelisah mendengar tangisan pilu wanita itu.
__ADS_1
" Li-lian, Lilian kita.." ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hanya sorot matanya saja menunjuk ke arah ponsel.
Dedy segera mengambil ponselnya, iapun merasakan firasat buruk tentang itu. Saat memutar video, netra Dedy langsung memerah,
" Biadab!! " geramnya berlumur amarah.
Ia segera menelpon ketiga pria tersebut.
" Dimana kalian? " tanyanya singkat.
Ketiga pria itupun segera memberitahukan posisi mereka saat ini. Mereka ingin supaya upah yang dijanjikan segera diberikan.
Tak butuh waktu lama, Dedy mengebut dan akhirnya tiba ditempat yang dimaksud.
" Dimana gadis itu? " tanyanya memendam amarahnya.
" Itu dia. "
Nampak seorang wanita duduk di pojok ruangan dengan pakaian yang sudah tak layak. Wanita itu terdengar menangis sembari menelungkupkan wajahnya.
Dedy sungguh terluka melihatnya, ia tak menyangka Lilian bernasib setragis itu.
" Tuan, mana upah kami! " pinta salah seorang pria saat Dedy hendak mendekati Lilian.
" Upah? Heh.." Dedy mengeluarkan smirk yang nampak menyeramkan.
Ia mengambil sesuatu yang berada di balik jasnya. Dan...
Dor...Dor...Dor...
Tiga tembakan tepat mengenai kepala ketiga pria tersebut, mereka mati seketika ditempat.
Bersambung...
__ADS_1