
Diandra langsung masuk ke dalam kamar pribadinya, ia nampak gugup dengan raut wajah yang memerah.
Wanita itu berdiri didepan cermin seraya berbicara seorang diri.
" Ouwhhh... Di ? Dari kata-katanya tadi, dia seolah menganggapmu wanita penggoda. Apa dia merasa dirinya yang paling suci? Dasar buaya darat." gerutunya sebal.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dirinya benar-benar malu barusan. Entah hal gila apa yang ada di otaknya hingga ia bisa mencetuskan ide seperti itu.
Diandra sendiri sebenarnya sangat gugup ketika membantu Raka melepas jaketnya tadi.
Meskipun masih menggunakan kaos atasan, tetapi otot tubuh Raka tergambar jelas lantaran bentuknya yang pas badan. Untuk pertama kalinya ia melihat tubuh bidang nan kekar milik seorang laki-laki dari jarak yang begitu dekat.
" Astaga, Di! Apa yang baru saja kau pikirkan? Apa kau juga mulai tergoda oleh buaya itu? " ia segera menghapus segala imajinasi yang seolah tergambar di atas kepalanya.
" Huh. Paling tidak rencana awalku berjalan dengan mulus. Tinggal selangkah lagi, sepertinya rencanaku akan berhasil. " seringainya senang.
***
Pagi hari menyingsing, Raka yang tak bisa tidur semalaman akibat rasa bersalah segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia ingin meminta maaf atas perkataannya semalam pada Diandra.
Raka keluar dari kamarnya, ia berharap bisa bertemu dengan Diandra dan berpamitan pergi sekarang. Bagaimanapun ia juga harus bekerja karena ada meeting penting hari ini. Raka telah menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya disana.
__ADS_1
Kebetulan saat ia keluar, Diandrapun baru saja keluar dari kamarnya. Wanita itu langsung memalingkan wajah ketika tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu.
Raka mendekati Diandra setelahnya dan menatap wanita itu setulus hati.
" Nona, saya minta maaf atas perkataan saya semalam. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. " sesalnya.
Entah mengapa Diandra jadi gugup karenanya, sikapnya yang selalu tegas seolah luluh di hadapan pria ini.
" Ti-tidak apa-apa. Anda benar Tuan, maaf membuat anda menjadi kurang nyaman." ia menunduk hormat.
Suasana sedikit kaku, keduanya bingung untuk memulai percakapan. Hingga beberapa saat setelahnya, Raka pamit undur diri karena harus ke kantornya pagi ini.
Diandra mengantar pria tersebut hingga ke halaman mansion. Nampak sopir Raka pun telah berada disana.
" Nona, terimakasih telah menjamuku di rumah anda. Jika berkenan, saya ingin sekali bisa bekerjasama dengan perusahaan anda. Eum,, bolehkah saya meminta nomor pribadi anda? "
Raka tak ingin menyiakan kesempatan, paling tidak dirinya bisa memiliki alasan untuk bisa dekat dengan wanita ini.
Ia menyodorkan ponsel dan meminta Diandra menuliskan nomornya disana.
Dengan senang hati, Diandrapun memberikan nomornya. Ini juga bisa memperlancar misinya mendapatkan pria tersebut.
__ADS_1
" Ini, Tuan. Akan senang sekali jika saya bisa bekerjasama dengan anda kedepannya. " balasnya ramah.
Saat keduanya tengah mengobrol, tiba-tiba saja sebuah mobil memasuki halaman rumah Diandra.
Fokus keduanya teralihkan pada seseorang yang turun dan berlari tergesa-gesa kearah keduanya.
Jonathan dengan pakaiannya yang masih lusuh segera mendatangi atasannya. Lelaki itu berhenti sejenak saat melihat seorang pria yang berada di sisi Diandra.
Kedua pria itu saling bersitatap, entah mengapa ada rasa sesak di dada Jonathan ketika melihat Diandra bersama pria lain. Memang, selama ini Diandra jarang dekat dengan lelaki.
Namun, ia kembali tersadar akan tujuannya kesana. Ia menatap cemas pada Diandra.
" Nona, apa yang terjadi? Maaf, aku benar-benar tidak tahu jika kau menghubungiku. Ada yang menonaktifkan ponselku dan memberi obat tidur di minumanku. " jelas Jonathan.
Diandra yang melihat raut kecemasan di wajah Jonathan segera menenangkan. Kali ini ia memaafkan kesalahan yang baru pertama kali dilakukan Jonathan.
" Kau tidak perlu cemas, aku baik-baik-baik saja. Untung ada Tuan Raka yang menyelamatkanku. Nanti aku akan menceritakannya padamu. " jelas Diandra pada Jonathan.
Sebenarnya Raka sendiri merasa kesal melihat kedekatan Diandra dengan asisten pribadinya itu. Ia merasa jika Jonathan ada hati pada atasannya.
Namun, sekarang dirinya harus segera pergi ke kantor. Dengan berat hati, iapun pamit undur diri dari kediaman Diandra.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak like, koment, rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍