Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
DIANDRA MULAI MENYADARI PERASAANNYA


__ADS_3

Hampir pukul sepuluh malam, Raka dan Diandra akhirnya tiba juga di Panti Nirmala. Ibu Panti yang mendengar deru mobil berhenti dihalaman rumah segera memastikan siapa yang datang.


Raka benar-benar menyesalkan tindakannya tadi. Ia tahu, Diandra pasti marah kepadanya. Buktinya, wanita itu sama sekali tak mau berbicara ataupun melihat kepadanya.


Raka menahan tangan Diandra saat wanita itu hendak turun.


" Di,, Aku minta maaf atas kelancanganku tadi. Kuharap kau tidak berpikir buruk tentangku. Aku benar-benar serius denganmu dan aku berjanji akan menikahimu secepatnya. " tegas Raka.


Diandra tidak sepenuhnya menyalahkan Raka dalam hal ini, ia merasa malu pada dirinya sendiri karena memberikan kesempatan pada Raka.


" Ini- Bukan salahmu sepenuhnya. Tolong lupakan apa yang baru saja terjadi. " rasanya ia tak berani menampakkan wajahnya di depan Raka.


Keduanyapun turun ketika melihat ibu Panti telah berada di teras. Beliau terkejut melihat kedatangan Raka dan Diandra malam-malam begini, apalagi baju mereka basah terkena air hujan.


" Nona, Tuan? Kenapa pakaian kalian basah begini? Tumben datang malam-malam, apa ada sesuatu yang penting? " ungkap ibu panti sedikit cemas.


Pertanyaan ibu panti sukses membuat keduanya gelagapan,


tapi Raka segera membuat alasan paling tepat agar ibu panti tidak curiga.


" Mobilku tadi mengalami kempes ban saat hendak kemari. Jadi kami terpaksa menunggu mobil lain yang lewat untuk meminta bantuan. Iya kan, Di? "


" I-iya Bu. " jawab Diandra gugup.


" Oh begitu. Memang daerah sini masih sepi, Nona. Tidak seperti di kota, bengkel ada dimana-mana. Oh ya, Mari silahkan masuk."


Ibu panti membawa keduanya masuk dan memberikan pakaian ganti untuk mereka. Meskipun berasal dari keluarga konglomerat, tetapi hal itu tidak membuat Diandra dan Raka jijik menggunakan pakaian bekas orang lain.


Ibu panti menunjukkan kamar untuk mereka masing-masing. Beliau menunjukkan kamar untuk Diandra baru setelahnya, menunjukkan kamar Raka.


Saat mengantar pemuda tersebut, ibu Panti langsung menggodanya.


" Tuan, sepertinya anda sukses menjerat hati Nona Diandra. Dari tatapan kalian ibu bisa melihat jika kalian tertarik satu sama lain. " goda Ibu Panti.


Wajah Raka memerah seketika,


" Ibu bisa saja. Tolong doakan saja yang terbaik untuk kami. Secepatnya aku akan menikahi Diandra. " ungkap Raka.


Ibu Panti begitu terkejut mendengarnya, nampak binar-binar kebahagiaan di wajahnya mendengar kabar tersebut.


" Syukurlah, Tuan. Saya doakan semoga semua berjalan lancar. Saya senang akhirnya Tuan bisa bersatu dengan wanita yang anda cari-cari selama ini. Saya titip Nona Diandra, jagalah dia dengan baik. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa sekarang." nasehat ibu panti.


" Tentu saja, Bu. Aku pasti akan menjaganya dengan baik. " ungkap Raka penuh keyakinan.

__ADS_1


Iapun segera masuk ke kamarnya dan menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang berukuran kecil, sungguh berbeda dengan tempat tidur nyaman yang ia gunakan selama ini.


Malam ini, dua insan tersebut sangat sulit untuk memejamkan matanya. Bukan karena kurang nyaman, tetapi karena memikirkan satu sama lain.


Terutama Diandra, hatinya selalu saja berdebar-debar saat bayangan Raka terlintas dalam pikirannya. Kini hatinya mulai melembut, ia mulai menyadari jika dirinyapun memiliki perasaan terhadap Raka.


" Ya Tuhan. Apa ini hadiah terindah darimu? Disaat aku mulai menjebaknya, aku justru ikut terjerat dalam cintanya. Aku harap setelah dendam ini terbalaskan, aku bisa berbahagia dengan orang yang kucinta. "


***


Pagi menjelang, Raka dan Diandra kini tengah sibuk bermain dengan anak-anak panti. Yah, meskipun keduanya masih menjaga jarak, tetapi sesekali mereka saling mencuri pandang.


Terbersit sebuah ide di kepala Raka, ia berharap setelah ini Diandra tidak akan marah lagi padanya.


Ia berbisik pada salah satu anak panti agar mengajak Diandra pergi ke pekarangan belakang.


" Kakak,, tolong antar aku kesana!" anak itu menarik tangan Diandra dan mengajaknya pergi ke pekarangan belakang.


Diandra yang sedang sibuk bermain dengan anak yang lainpun terpaksa meninggalkan mereka.


" Sebentar ya anak-anak. Nanti kita main lagi. " pamitnya.


Saat tiba di pekarangan belakang, betapa terkejut Diandra karena justru tangannya kini kembali ditarik oleh seseorang.


Keduanya kembali bertemu pandang hingga Diandra memilih menunduk karena malu.


Tetapi, seikat bunga yang masih segar tampak sekali baru dipetik mengalihkan perhatiannya. Disana tertulis kata " Sorry ".


" Maaf, mungkin ini bukan apa-apa. Tapi jujur, ini tulus dari hatiku. Aku benar-benar minta maaf padamu atas kejadian waktu itu. Tolong jangan menghindar dariku, hatiku sesak jika harus berjauhan darimu. "


Kata-kata Raka sungguh mengena dihati Diandra. Wanita itu mensejajarkan wajahnya dengan Raka, tidak terlihat kebohongan dari sorot mata lelaki itu.


Namun, tangan mungil dibelakangnya kembali menariknya mereka lupa ada anak kecil di antara mereka.


" Kakak, Maafkan kak Raka. Kak Raka itu orang baik, sayang pada kita semua. " ungkapnya polos.


Diandra tersenyum dan mensejajarkan dirinya pada anak itu.


" Baiklah. Tapi sampaikan pada Kaka Raka ya, Jangan suka nakal nanti kucubit pipinya baru tau rasa. " ucap Diandra sambil mempraktekkan gaya mencubitnya.


Raka terkekeh mendengarnya, setidaknya ia tahu jika Diandra telah memaafkannya.


" Ayo. "

__ADS_1


Pria itu mengulurkan tangannya, dengan malu-malu Diandra menangkap tangan tersebut. Merekapun akhirnya kembali ke depan dan bermain bersama anak-anak lainnya kembali.


***


Sore menjelang, Raka dan Diandra berencana untuk kembali ke kota. Saat Diandra membereskan kamarnya, tiba-tiba ibu panti masuk kesana.


" Ibu? "


Wanita itu duduk disebelah Diandra,


" Nona, maaf mengganggumu. Ibu hanya ingin tahu, apakah Nona sudah memberitahu Tuan Raka tentang keluarga Nona yang sebenarnya? " tanya beliau ragu.


Diandra tersenyum simpul,


" Belum Bu. Aku bahkan belum membongkar kejahatan keluarga itu. Sebenarnya aku menggunakan Raka sebagai salah satu alat balas dendamku. " jawab Diandra jujur.


Ibu Panti terperanjat mendengarnya,


" Apa? Apa itu artinya Nona tidak benar-benar menyukai Tuan Raka? Nona, Dia orang yang baik dan tulus kepada anda. "


Diandrapun kembali tersenyum,


" Iya, Bu. Aku tahu akan hal itu. Oleh sebab itu, hatiku mulai melembut karenanya. Aku..aku jatuh cinta padanya, Bu. " wajah Diandra merona karena malu.


Ibu panti begitu lega mendengarnya, ia sangat mendukung jika Raka dan Diandra bersatu.


" Nona, ibu harap Nona jaga diri baik-baik. Keluarga itu pastilah keluarga yang berbahaya. Sebenarnya, ibu takut jika terjadi apa-apa dengan Nona, terlebih mereka rela melakukan hal buruk terhadap orang lain. Saran ibu, lebih baik ceritakan saja pada Tuan Raka. Beliau pasti mau membantu Nona dalam hal ini. " saran ibu panti.


" Aku akan menceritakan, tapi tidak sekarang Bu. Aku masih ingin menyelesaikan masalahku sendiri. Sejauh ini aku belum menemukan bukti jika merekalah yang telah membunuh ibuku. Kasus itu sudah sangat lama dan pihak berwajib menyatakan kasus ibuku merupakan kasus tabrak lari. " ungkap Diandra berputus asa.


" Karena daerah ini merupakan daerah perkampungan, sangat sulit mencari bukti karena tidak adanya CCTV jalan. " jelas Diandra.


Pikiran Ibu panti menerawang menuju memori 13 tahun silam. Saat Nyonya Sheina memintanya untuk pergi dan menyelamatkan putrinya.


Dari sana ia tahu bahwa Nyonya Sheina sedang dalam bahaya, tetapi karena beliau memaksa iapun terpaksa pergi. Namun, tak berselang lama terdengar kabar jika terdapat korban tabrak lari dengan keadaan tak bernyawa.


Waktu itu ia merasa sangat bersalah, iapun berjanji akan memberikan Diandra pada orang yang tepat. Hingga akhirnya keluarga kaya raya mengadopsinya, mereka terlihat sangat menyayangi Diandra.


Air mata ibu panti tiba-tiba saja meleleh, ia menarik Diandra ke dalam pelukannya.


" Maafkan ibu, Nona. "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2