Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
ANCAMAN UNTUK DELIA


__ADS_3

Pagi ini Diandra meminta Jonathan untuk datang ke mansion sebelum berangkat ke perusahaan. Pria itupun bergegas menemui atasannya, ia juga ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu.


Diandra terlihat menunggunya di teras mansion, wanita itu telah rapi dengan setelan kerjanya.


Keduanya duduk saling berhadapan, dengan suasana yang masih sedikit canggung. Hingga Jonathan berinisiatif untuk membuka pembicaraan


" Nona? Aku harap kau memaafkanku atas kejadian kemarin. Aku hanya mencemaskan keadaan anda saja. " ungkap Jonathan.


Diandra tersenyum simpul, ia tahu maksud lelaki itu sebenarnya baik.


" Terima kasih. Kau sudah peduli padaku. Akupun minta maaf, mungkin ucapanku terlalu kasar padamu. " balas Diandra.


Bagaimanapun Jonathan selama ini telah banyak membantunya. Jonathan juga merupakan salah satu sahabatnya sebelum bekerja du perusahaan Papanya.


Tanpa berbasa-basi, Diandra meminta Jonathan untuk mengantarkan sebuah amplop coklat kepada keluarga Syailendra.


" Tolong kau berikan amplop ini kepada Nyonya Delia. Sampaikan padanya, aku memberikan waktu tiga hari baginya untuk mengambil keputusan." pinta Diandra.


Ia enggan memberikan amplop tersebut sendiri, lantaran dirinya tahu bagaimana reaksi Delia nantinya.


Jonathan enggan bertanya lebih jauh, sedikit banyak ia tahu apa isi dari amplop tersebut. Iapun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh sang atasan.


" Apa boleh buat. Aku tetap harus melakukan hal ini meskipun nanti dia semakin berpikir buruk tentangku. " benak Diandra pasrah.

__ADS_1


***


Jonathan telah tiba di mansion keluarga Syailendra. Ia memberikan amplop pemberian Diandra pada Delia dan menyampaikan apa yang dikatakan atasannya.


Delia penasaran dengan isi amplop tersebut. Perlahan ia membaca dan memperhatikan beberapa foto yang sukses membuat jantungnya begitu nyeri.


" Raka, kau....! "


Delia terkulai lemas, bulir air mata seketika meluncur membasahi pipinya. Ia merasa begitu kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh putranya. Didikan yang telah ia tanamkan sejak dini seolah tak berbekas dalam memori Raka.


Itu merupakan beberapa foto yang berhasil diambil oleh Diandra ketika di mansion dan di hotel waktu itu. Dari foto tersebut, sepintas terlihat keintiman antara Diandra dan Raka.


Disana tersalip sebuah surat,


Nyonya Delia yang terhormat,


Bukankah menurut anda kami cukup dekat bukan? Bahkan mungkin, sangat dekat...


Mungkin saya egois, tetapi hubungan yang tanpa sengaja tumbuh telah menguasai nafsu dalam diri kami


Saya wanita dari keluarga terhormat


Sayapun tidak ingin terjadi sesuatu yang merugikan keluarga di kemudian hari..

__ADS_1


Saya harap anda merestui hubungan ini hingga ke jenjang pernikahan


Saya berikan waktu hingga tiga hari kedepan


Jika anda setuju, besar rasa terimakasih saya atas kebesaran hati Nyonya..


Jika tidak,


Mohon maaf jika kita harus menanggung aib ini bersama-sama


Tertanda


Diandra Anastasya


Delia meremas dan menyobek foto tersebut hingga berkeping-keping. Ia tak menyangka jika wanita yang ia pikir baik sebelumnya, ternyata lebih licik dari seekor ular.


Ia sungguh benci berada di posisi seperti ini.


Disatu sisi, ia pernah merasakan menjadi seorang Lilian yang dikhianati oleh calon suaminya. Ia tak ingin wanita itu merasakan kemalangan yang sama sepertinya, apalagi penyebabnya adalah putranya sendiri.


Namun, disisi lain banyak hal yang harus ia pertaruhkan sekarang. Jika ia menolak, Diandra pasti dengan mudah menyebarkan foto itu lewat media sehingga membuat nama baik keluarganya jadi tercoreng.


Belum lagi perlawanan dari putranya sendiri. Ia tahu seberapa besar keinginan Raka untuk bisa bersanding dengan Diandra.

__ADS_1


Bahkan, sampai detik ini dirinya sadar jika Raka belum bisa menerima Lilian sepenuhnya meski mereka telah bertunangan.


" Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Wanita itu benar-benar pandai menjalankan siasat liciknya! " geramnya dalam hati.


__ADS_2