Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 68


__ADS_3

Diandra tak ingin membuang waktu lebih lama. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa memasang CCTV pemberian Bi Lastri di kamar Livia.


Seperti biasa, Livia dan Dedy akan berangkat ke kantor sekitar pukul setengah delapan pagi. Dan Lilian baru beranjak dari kamarnya sekitar pukul sembilan pagi.


Diandra bergegas menaiki tangga menuju kamar atas saat lantai bawah terlihat sepi.


Suasana diatas nampak hening, awalnya ia berniat memutar tuas pintu. Namun, dirinya langsung bersembunyi karena seseorang sepertinya tengah memutarnya dari dalam.


Ternyata Yati baru saja selesai membersihkan kamar majikannya. Wanita itu keluar sembari membawa sprei dan selimut tebal yang hendak ia cuci. Iapun segera turun setelah menyelesaikan tugasnya.


Akhirnya Diandra bisa bernafas lega, ia segera menyelinap ke kamar Livia untuk meletakkan CCTV tersebut ditempat yang dirasa aman.


Dengan susah payah Diandra menyelipkan CCTV tersebut didalam lukisan besar yang berhadapan langsung dengan ranjang Livia.


" Akhirnya selesai juga. " ungkapnya sembari turun dari bangku tempatnya memanjat.


" Dari sini pasti akan terlihat semua aktifitas yang mereka kerjakan. Tunggu saja Livia! Kebusukanmu sebentar lagi pasti terbongkar. " gumam Diandra bersemangat.


Wanita itu segera keluar dari kamar Livia. Namun, sialnya saat ia baru keluar terdengar pintu kamar Lilian terbuka dan saat ini terdengar langkah seseorang berjalan mendekat ke arahnya.


Diandra benar-benar gugup sekarang, untuk kabur pastinya itu takkan mungkin.


" Sial! Bagaimana ini? "

__ADS_1


Dirinya menengok sekitar, matanya menangkap sebuah sapu yang terletak di belakang guci besar di ujung lorong. Bergegas ia meraihnya sebelum Lilian sampai kesana.


" Hei! Siapa yang menyuruhmu berada disini! " bentak Lilian saat mengetahui keberadaan Diandra.


Diandra yang tadinya sibuk menyapu lantai, seketika berpaling kearah sumber suara. Wajah Lilian nampak kesal serta penuh intimidasi.


" Aku memang sedang melakukan tugasku untuk menyapu seluruh ruangan di mansion ini. Kau saja yang selalu bangun kesiangan dan tak pernah melihatku. " sindir Diandra.


Lilian semakin kesal melihat Diandra seolah meremehkannya. Jika bukan perintah Mamanya agar tak melukai fisik Diandra, tentu saja dirinya ingin sekali menampar wanita itu.


Diandrapun merasa heran, baik Livia maupun Lilian biasanya tak pernah tinggal diam. Namun, semenjak kedatangannya waktu itu, keduanya seolah menahan diri.


" Aku tak perlu melihatmu sebab itu sama sekali tak penting bagiku. Yang terpenting sekarang, Raka sudah mulai dekat lagi denganku. Siang ini dia akan menjemputku untuk makan siang. Dan kau, hanya bisa gigit jari sebentar lagi. " sindir balik Lilian.


Dalam hati Diandra bahagia, ia percaya Raka mendekati Lilian hanya untuk mencari tahu keberadaan Papanya. Tapi sekarang, dirinya memilih berpura-pura kesal dan berlari meninggalkan Lilian dengan mimik kekecewaan.


" Itu belum seberapa. Aku akan membuatmu lebih sakit hati ketika Raka benar-benar menikahiku nanti. " gumamnya penuh percaya diri.


***


Di Cafe Cemara...


Livia dan Dedy terlihat menunggu kedatangan seseorang. Keduanya saling melempar tatapan ketika melihat Jonathan telah hadir ditengah-tengah mereka. Keduanya menjadi tegang akibat tatapan tajam Jonathan seolah hendak mengadili.

__ADS_1


" Bagaimana kelanjutan hubungan putrimu dengan Raka Syailendra? Apa dia masih bisa diandalkan untuk menjerat pria itu? "


Sejujurnya Jonathan sendiri merasa was-was, ia tahu anak buah Raka Syailendra ada dimana-mana dan sedang mengawasinya. Semakin cepat lelaki itu melupakan Diandra, maka hal itu akan sangat bagus untuk kelanjutan hubungannya dengan Diandra.


" Tenang saja. Putriku bilang Raka kembali menjalin hubungan dengannya bahkan kemarin dia sempat menginap di apartemen Raka. Apalagi, Nyonya Delia sangat setuju jika Raka menjadikan Lilian sebagai pengantin penggantinya. Kau juga jangan khawatir, ponsel Diandra ada di tangan kami. Dia tidak mungkin bisa menghubungi pria itu. " Livia meyakinkan.


Jonathan menyeringai senang,


" Baguslah kalau begitu. Setelah masalah ini beres, kalian aku jamin bisa hidup tenang. " janjinya pada Livia.


Namun, bukan itu yang Livia harapkan, iapun mengingatkan janji Jonathan yang lainnya.


" Tapi ingat! Kau harus membantuku untuk mendapatkan seluruh harta keluarga Adijaya." tegasnya mengingatkan.


Jonathan tersenyum sinis,


" Heh! Untuk masalah itu bukanlah hal yang sulit bagiku. Jika kau menjalankan peranmu dengan baik, aku tak akan melupakannya. "


Dalam hati Jonathan, ia merasa jijik pada dua manusia gila harta di depannya. Setelah ia mendapatkan Diandra, tentu saja dirinya akan mendukung wanita itu sepenuhnya. Bahkan untuk menjebloskan Livia ke jurang yang terdalam.


Keduanya saling sepakat, selain itu merekapun membahas mengenai kerjasama perusahaan kedua belah pihak.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengawasi mereka dari kejauhan.

__ADS_1


" Ternyata Jonathan mengenal baik Livia. Aku harus mencari tahu tentang hal ini dan menyampaikan pada Bos. "


Bersambung....


__ADS_2