Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BAB 81


__ADS_3

Suasana ruangan semakin mencekam saat Livia yang sedang gelap mata menekankan pistol di pelipis Diandra.


" Berhenti disitu atau peluru ini akan menembus kepalanya! " gertak wanita itu ketika melihat Raka hendak melangkah mendekatinya.


Raka tak berani bergeming mendengar ancaman dari Livia, ia hanya mampu mengeratkan rahang karena amarah yang bercokol dihatinya.


" Jika sampai kau berani menyakiti istriku maka aku tidak akan segan-segan menembak pria ini kembali! " Raka mengarahkan senjatanya pada Dedy yang sudah sekarat.


" Turunkan senjatamu cepat! " Livia nampak panik, dirinya takut Dedy tidak akan tertolong lagi.


" Kalian berdua bawa Dedy ke dalam mobil! Dan kau? Bantu aku mengikat wanita ini. " perintah Livia pada anak buahnya yang ada disana.


Raka mencoba untuk menahan diri saat Livia dan anak buahnya berjalan melewatinya sembari menodongkan senjata pada Diandra. Tanpa dirinya sadari wanita itu menendangnya hingga hampir terjengkang.


" Shittt! " umpatnya kesal, untung saja dirinya tidak terjatuh.


" Itu untuk putriku yang selama ini kau tipu! " geram Livia secepatnya berjalan keluar.


Jonathan dan yang lainpun tidak berani mengambil tindakan, apalagi keselamatan Diandra yang jadi taruhannya.


Saat sampai dimobil, air mata Livia semakin tak terbendung saat melihat Dedy terbaring di bangku belakang dengan kondisi yang begitu lemah, darah segar nampak membasahi kemeja putih lelaki paruh baya itu.


Ia langsung melempar tubuh Diandra hingga terhempas cukup keras ke tanah.


" Aaahhhh..."


Netra Raka membola seketika, begitupun Jonathan. Keduanya serempak menolong Diandra.


" Kau tidak apa-apa, Di? "


Kedua pria tampan itu saling bersitatap saat keduanya melempar pertanyaan yang sama.


Diandra meringis kesakitan saat merasakan perih akibat gesekan tubuhnya dengan kerikil kecil diatas tanah.


" Hei kalian! Cepat tolong aku dan kejar wanita itu! " bentaknya kesal.


Keduanya dengan sigap menolong Diandra, tetapi Raka langsung menghunuskan tatapan tajam saat Jonathan berniat ikut menolong Diandra.


Pak Burhanpun langsung keluar untuk memastikan keadaan putrinya.


" Kau harus segera mendapat perawatan. Urusan Livia biar aku yang mengurus. Kita telah memasang GPS di mobilnya. " ungkap Raka setelah memastikan keselamatan istrinya. Ia mengecup puncak kepala Diandra lalu beralih menatap Papa mertuanya.


" Pa, Tolong titip istriku. Aku akan mengejar wanita iblis itu. Dia harus mendapat pelajaran. " pintanya pada Pak Burhan.

__ADS_1


Baru saja Pak Burhan akan menjawab, ucapannya telah disela oleh Jonathan.


" Aku ikut denganmu. "


Pria itu begitu bersemangat, dirinya juga ingin memberi pelajaran pada Livia yang telah menipunya waktu itu.


" Kau tidak perlu ikut. Tolong antar Papa dan istriku ke rumah sakit. Tapi ingat? Jangan berani berbuat macam-macam! " ancam Raka segera berlalu.


Ia akan menyetir mobilnya sendiri dan beberapa anak buahnya akan mengikuti dari belakang.


" Tolong, berhati-hatilah dan cepatlah kembali."


Langkah Raka terhenti sesaat mendengar ucapan istrinya barusan. Lelaki itu berbalik dan menatap istrinya yang terlihat begitu cemas.


" Tenanglah. Aku pasti akan segera kembali. "


Raka melengkungkan senyumnya, hatinya sungguh bahagia mengetahui Diandra begitu peduli padanya. Iapun bertekad untuk segera menyelesaikan misinya ini agar bisa segera bertemu dengan istrinya tercinta.


***


Livia tak henti-hentinya menangis, ia tak sanggup melihat Dedy kesakitan seperti sekarang. Apalagi darah segar masih mengalir dari punggung Dedy hingga membasahi pakaian Livia yang saat ini memangku kepalanya.


Wanita itu mengumpat kesal, seluruh rencananya hampir gagal total. Padahal tadinya ia dan Dedy berniat untuk menuju bandara dan kabur keluar negeri bersama-sama setelah mendapatkan harta dan menghabisi Diandra serta Papanya.


Wanita itu juga merutuk kesal lantaran posisi mereka sangat jauh dari rumah sakit. Dirinya ingin supaya Dedy segera mendapatkan perawatan medis.


Disaat pikirannya sedang gelisah, tanpa dirinya sadari Raka dan beberapa anak buahnya mengikuti dari belakang.


" Nyonya, sepertinya mereka berhasil menyusul kita. " ucap sang sopir menyadari kendaraan sport mewah dab beberapa mobil tengah mengikuti mereka.


Livia langsung menoleh,


" Sial! Cepat tambah laju kecepatan. Jangan sampai mereka berhasil menyusul kita. "


Sang sopir mengerti akan instruksi atasannya. Dirinya yang memang merupakan pembalap handal tak perlu diragukan lagi kemampuannya. Dengan begitu cepat, ia melintasi jalanan yang membelah hutan.


Rakapun tak tinggal diam,


" Sepertinya dia ingin bermain-main denganku." pria itu ikut menambah laju mobilnya.


Aksi kejar mengejar itu semakin memacu adrenalin keduanya. Livia semakin panik saat keberadaan Raka semakin dekat dan kondisi Dedy semakin kritis.


" Li-vi-a seperti-nya a-ku tidak ku-at lagi. "

__ADS_1


" Uhuk...Uhuk..."


DEG...


Ucapan Dedy yang tersengal membuat jantung Livia seolah berhenti berdetak. Ia menatap nanar pria itu dengan airmata yang terus mengalir dari sudut matanya.


" Apa yang kau katakan! Bertahanlah! Apa kau tidak ingat dengan mimpi-mimpi kita? Sebentar lagi mimpi itu akan terwujud! " teriak Livia histeris, hatinya begitu tersayat dan belum siap menerima kenyataan.


Tubuh Dedy terasa begitu nyeri seolah daging ingin terlepas dari kulitnya. Pria itu merasakan sesak yang begitu berat. Netranya mendelik merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia merasa waktunya sudah tak banyak lagi.


" Ma-afkan aku Livia. "


JLEB...


Dedy telah menutup matanya membuat Livia semakin ketakutan.


" Bangun Dedy..bangun! " Ia menepuk-nepuk pipi pria tersebut namun tidak ada respon sama sekali.


Jalan nadi dan nafas pria itupun sudah tak terasa, tubuhnya mulai dingin. Livia menangis semakin histeris. Ia mengguncang-guncang tubuh pria itu dan memintanya agar bangun kembali.


Sang sopir yang fokus mengebut hanya mampu melirik dari kaca spion. Ia cukup ironis melihat Livia yang begitu terguncang.


" Sepertinya Tuan Dedy sudah meninggal, Nyonya. Semoga anda bisa ikhlas menerima. " ungkapnya turut berduka.


" Diaaamm!! Aku tidak mau dia mati. Aku tidak mau dia mati. " gumam Livia menyayat hati.


Dirinya tidak bisa hidup tanpa pria itu. Iapun sangat menghargai dan menerima cinta lelaki itu padanya.


Netra Livia berubah nyalang, ia melihat mobil Raka yang berada di belakang mobilnya. Keduanya benar-benar dalam kecepatan tinggi saat ini.


" Jika Dedy telah mati, untuk apa aku hidup? Lebih baik akupun ikut mati dan pria itupun harus membayar perbuatannya. " benaknya meradang.


" Hentikan laju mobil ini sekarang juga. " perintahnya tegas.


Sang sopir terkesiap.


" Tapi Nyonya? Ini sangat berbahaya. Kita semua bisa mati! " tentangnya. Ia rasa pikiran Livia sudah tak masuk akal.


" Aku bilang berhenti ya berhenti atau aku maju kedepan untuk menghentikan mobil ini sendiri! " bentaknya kesal.


Sopir itu tak mau kehilangan nyawanya. Akan tetapi Livia yang sudah gila pasti akan berbuat nekad. Ia sudah tak peduli, pria itu membuka pintu samping mobilnya dan melompat.


Bersambung....

__ADS_1


Ucapa


__ADS_2