Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
BERMALAM DI VILA RAKA


__ADS_3

" Bre**sek! Disaat putriku sedang menderita, mereka justru tengah bersenang-senang! " umpat Livia frustasi.


Tanpa sengaja ia melihat pemberitaan pertunangan Raka dan Diandra di media sosial.


Hati Livia seolah terbakar, ingin rasanya ia mengobrak-abrik acara tersebut. Tapi, apalah daya. Ia harus fokus merawat Lilian yang mengalami trauma berat akibat kejadian yang menimpanya kemarin.


Sewaktu Dedy menyelamatkan dan membawa Lilian pulang. Gadis itu berteriak serta menangis histeris. Ia menggosok-gosok badan yang katanya menjijikkan hingga mengeluarkan ruam-ruam merah.


Tak sampai disitu saja, ia bahkan beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya. Livia segera menghubungi dokter, lalu dokter memberikan suntikan penenang pada Lilian.


Sejahat apapun seorang ibu, dirinya tak kan rela jika anaknya menderita. Hati Livia semakin tersayat melihat putrinya yang hanya terdiam dengan pandangan kosong. Hanya airmata yang terus saja bergulir membasahi pipi Lilian.


" Maafkan Mama, sayang. Ini semua gara-gara j****g itu. Mama berjanji pasti akan menghancurkannya demi dirimu. " tanpa sadar Livia ikut menangis dan memeluk erat putrinya.


Dedy menatap penuh iba pada keduanya. Meskipun Lilian menganggap dirinya hanya seorang asisten sang Mama. Akan tetapi, Dedy sangat menyayangi Lilian sebab Lilian adalah putri kandungnya. Ingin rasanya ia memeluk kedua wanita yang ia sayangi saat ini.


Tiba-tiba salah satu anak buahnya datang dan memberikan laporan pada sang atasan.


" Tuan, kami telah menangkap sopir taksi yang membawa pergi Nona Lilian waktu itu. Dia mengatakan bahwa Nona memintanya untuk mengantarkan ke TVC Group. " jelasnya pada sang atasan.


" Tidak salah lagi, ternyata dugaanku benar. Wanita licik itu pasti yang telah menjebak Lilian. Kurang ajar! Dia belum tau akan berhadapan dengan siapa! " ucapnya berapi-api.


Dedy tidak akan tinggal diam, dia bertekad untuk membalas Diandra.


***


Sang mentari mulai terbit dari peraduannya. Namun, dua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu masih begitu nyaman menikmati tidurnya.


Diandra mulai mengerjapkan matanya saat cahaya mentari mulai menyilaukan pandangannya. Wanita itu hendak beranjak, tetapi tangan kekar yang ada dibelakangnya seolah enggan untuk melepaskan tubuh tersebut.


" Jangan kemana-mana. Aku masih ingin memelukmu seperti ini. " gumam Raka masih enggan membuka mata.


Raka menarik Diandra kembali. Posisi mereka saling memunggungi saat ini. Pria itu memeluk erat pinggang Diandra dan meletakkan kepalanya ditengkuk leher wanita itu. Diandra sudah seperti guling hidup untuknya.

__ADS_1


Semalam mereka bersama dipantai hingga larut sehingga Raka memutuskan untuk tinggal sementara di pulau pribadi milik keluarganya.


Raka mengajak Diandra untuk menginap di villanya karena kebetulan besok adalah hari libur.


Dramapun akhirnya dimulai, Raka mempersilahkan Diandra untuk tidur di kamar utama.


Diandra begitu senang, sebab dari jendela kamar utama kita bisa melihat keindahan pantai sejauh mata memandang. Ditambah sinar rembulan yang memantul di lautan, membuat pemandangan nampak semakin memukau.


Diandra berlari kecil menuju balkon kamar. Ia merentangkan kedua tangannya dan membiarkan angin laut menembus tubuhnya. Dinginnya udara yang menusuk seketika berubah menjadi kehangatan kala sebuah tangan kekar mendekap erat tubuhnya dari belakang.


" Kau menyukainya? "


Raka sedikit membungkuk dan meletakkan kepalanya di ceruk leher sang kekasih. Mencium aroma tubuh Diandra merupakan kenikmatan tersendiri bagi pria yang sudah tak tahan ingin melepas status lajangnya.


" Heeummm...Aku sangat menyukainya. Tak kusangka calon suamiku ini ternyata seorang Crazy Rich ya? " goda Diandra sembari terkekeh saat mengucapkannya.


" Kau jangan menyanjungku seperti itu. Kau pikir aku tidak tahu seberapa kaya keluarga Mulawarman? Cabang perusahaanmu saja sudah mengakar keseluruh negeri bahkan ke beberapa negara tetangga. " sangkal Raka.


" Eum,, jika aku hanyalah orang biasa apa kau akan tetap mencintaiku?" tanyanya sembari memainkan anak kancing Raka.


Hal itu sukses membuat Raka berdebar karenanya, Diandra seakan sengaja melempar umpan untuk dilahapnya.


" Kau sedang menggodaku Nona manis? Asal kau tahu, aku mencintaimu bahkan sebelum aku tahu asal usul keluargamu. Justru karena kekayaanmu, aku jadi takut harus bersaing untuk bisa mendapatkanmu. Kau wanita yang nyaris sempurna dan memiliki segalanya. Pasti banyak pria yang mengincarmu dan bahkan mungkin yang lebih dariku. "


Raka tiba-tiba memeluk Diandra begitu erat, rasa khawatir kehilangan wanita itu mulai menjalari sanubarinya.


" Berjanjilah, jangan pernah meninggalkanku apalagi tergoda pada yang lainnya. " rajuk Raka.


Diandra terkekeh kembali,


" Aku tak menyangka pria tampan dan gagah sepertimu bisa bersikap semanja ini. " celetuk Diandra.


Raka memicingkan matanya melihat Diandra menertawainya. Tanpa aba-aba, ia menggendong wanita itu menuju ke atas ranjang.

__ADS_1


Deg...Deg...Deg...


Dada Diandra berdebar tak karuan saat Raka mulai menurunkannya diatas ranjang.


" Kita belum me-nikah. Sebaiknya kau tidur di kamarmu. " ungkap Diandra gugup.


Raka menaikkan sebelah alisnya,


" Kamarku? Apa kau lupa jika disini adalah kamarku? " godanya pada Diandra.


" Tapi kau bilang agar aku tidur disini tadi? Yasudah kalau begitu aku akan tidur diluar. " Diandra mencoba bangkit, ia takut tak mampu mengontrol diri saat bersama Raka.


Namun, Raka ternyata menahan tubuhnya dalam kungkungannya.


" Jangan, kumohon tetaplah disini. Aku ingin tidur bersamamu. Aku berjanji tidak akan macam-macam." Raka menatap penuh damba.


Diandra berpikir sejenak,


" Tidak-tidak. Mana ada laki-laki dan perempuan bersama lalu mereka tidak berbuat apa-apa. " tolak Diandra.


" Ayolah, Di. Malam ini saja, sebentar lagi juga sudah pagi. Lagipula kita menikah tinggal hitungan hari. Kalau kau mau tidur di luar, aku juga ikut denganmu. Disana ranjangnya lebih sempit jadi akan lebih mudah untukku memelukmu. " rajuk Raka.


Diandra menghela nafas kasar, sepertinya percuma menghindar. Raka pasti tetap mengekorinya. Apalagi sekarang ia berada di wilayah kekuasaan pria tersebut.


Diandra akhirnya mengalah,


" Baiklah. Tapi aku mau kita tidur berjauhan. Kau diujung sana dan aku diujung sini. " tawarnya pada Raka.


Merekapun akhirnya membuat garis pemisah menggunakan guling setelah mengalami perdebatan panjang. Diandra sudah tak mampu menahan kantuknya, ia terlelap begitu saja setelahnya.


Raka memang menunggu moment seperti ini, ia menarik Diandra mendekat kepadanya lalu memeluk erat wanita itu.


" Kau jangan khawatir, meskipun aku sangat ingin tapi aku tak akan melewati batasku. Tapi tidak jika kau telah menjadi milikku. " Rakapun ikut tertidur sambil memeluk guling hidup yang ia damba-dambakan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2