Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
RENCANA LICIK JONATHAN DAN LIVIA


__ADS_3

Malam ini Livia datang ke Paris Hotel bersama Dedy. Sebuah tanda tanya besar meliputi pikirannya. Ia benar-benar dibuat penasaran tentang siapakah sosok yang memintanya untuk datang ke hotel tersebut.


Tadi siang, seseorang mengirim pesan padanya untuk datang ke Paris Hotel. Orang tersebut mengancam akan membocorkan seluruh kejahatan Livia jika sampai dirinya tidak datang.


Bukan hanya itu, seorang misterius tersebut juga tahu mengenai seluk beluk keluarga Adijaya padahal hal itu merupakan masalah pribadi keluarganya.


Tepat jam delapan malam Livia telah tiba di ruangan VVIP yang telah disepakati keduanya. Ruangan tersebut masih kosong, hanya beberapa menu makanan dan minuman telah disediakan disana.


Dedy memasang wajah curiga, lelaki itu mengamati sekitar. Dirinya khawatir semua ini hanyalah jebakan, mengingat jika musuh mereka bertambah banyak sekarang.


" Kau yakin ini semua bukan jebakan? " Dedy menatap waspada ke seluruh penjuru ruangan.


" Cckk.. Akupun tidak tahu. Yang jelas dia punya bukti-bukti kejahatan kita dan mengancam akan menyebarkan video Lilian. Kita tidak punya pilihan lain saat ini. " Livia sedikit berputus asa. Belum selesai masalah putrinya yang tengah mengalami depresi, kini ditambah masalah baru yang harus ia hadapi.


Hampir setengah jam mereka menunggu hingga terdengar pintu ruangan VVIP terbuka. Livia dan Dedy begitu tercengang menyaksikan siapa yang datang.


" Tuan Jonathan Ardiansyah? " gumam Livia tak menyangka.


Dedy mengeratkan gerahamnya karena kesal,


" Jadi rupanya kau yang telah menjebak kami? Dasar bedebah! Ternyata ini tujuanmu bekerjasama dengan perusahaan kami! Brengsek! "


Dedy seketika mengeluarkan pistol dari saku jasnya, tetapi Jonathan tak kalah gesitnya. Kini keduanya saling mengarahkan senjata masing-masing.


" Aku tahu kau itu iblis berwujud manusia! Kau pikir aku bodoh, hah! Jikapun aku mati, maka video dan bukti kejahatan kalian akan tetap tersebar. Dan kalian akan membusuk dipenjara! " gertak Jonathan.


Livia mencoba menenangkan Dedy dan meminta sang asisten untuk menurunkan senjatanya. Posisi mereka sekarang benar-benar terdesak. Mau tidak mau, mereka harus mengikuti perintah Jonathan.


Jonathan menyeringai sinis, iapun menurunkan senjata dan kembali duduk di kursi.


" Sekarang katakan apa maumu? " Livia sudah tak ingin berbasa-basi.


Jonathan menatap tajam pada keduanya secara bergantian.

__ADS_1


" Aku ingin kalian membantuku menggagalkan pernikahan Diandra."


Livia dan Dedy tercengang dibuatnya. Ia tak menyangka jika pria dihadapannya menyukai Diandra. Tentu saja dengan senang hati mereka setuju sebab itupun yang mereka inginkan.


" Baiklah. Jika itu tujuanmu, maka kau bekerjasama dengan orang yang tepat. " Livia menyeringai licik. Dirinya seolah mendapat angin segar untuk kembali bangkit berdiri.


" Tapi tunggu? Bagaimana kau bisa tahu tentang masalah keluarga Adijaya? Siapa kau sebenarnya? " Livia semakin penasaran.


Jonathan akhirnya menceritakan tentang siapa dirinya. Livia dan Dedy tak menyangka jika anak pimpinan WINNER PRAKARSA ini merupakan asisten pribadi Diandra.


Dan satu fakta lagi yang mengejutkan keduanya yakni pengakuan Jonathan bahwa Diandra sebenarnya adalah yang menyamar sebagai Asih putri Tuan Burhan Adijaya.


" Aku mau kalian mengikuti semua rencanaku. Jika semua berhasil, aku akan membantu kalian mendapatkan harta keluarga Adijaya. " bujuk Jonathan setelah menyampaikan apa yang ia rencanakan.


Livia dan Dedy akhirnya menyetujui rencana Jonathan. Akan tetapi, mereka tetap waspada pada pria tersebut. Mereka harus bisa mengambil bukti kejahatannya, setelah itu barulah mereka berpikir untuk menyingkirkan jonathan.


***


Diandra begitu cantik bak putri negeri dongeng dengan balutan gaun pengantin putih bertabur swarovski yang menjuntai hingga ke lantai.


Hatinya sungguh berdebar-debar hari ini. Tinggal menunggu hitungan jam, dirinya akan resmi menjadi istri dari Raka Syailendra, pria yang berhasil memikat hatinya.


" Ma, Pa. Semoga kalian ikut menyaksikan kebahagiaanku ini dari surga. Putrimu ini! Putrimu ini sebentar lagi akan menemukan kebahagiaannya. " ungkap Diandra menitikkan airmatanya.


Beberapa hari terakhir Diandra selalu teringat akan orangtuanya. Mungkin hal itu disebabkan karena biasanya seorang pengantin wanita akan ditemani oleh orang tuanya sebelum mereka melepas putrinya kepada pria yang akan menjadi suaminya kelak.


Diandra segera menghapus airmatanya saat kepala pelayan menyampaikan bahwa sopir yang akan mengantarnya menuju gedung resepsi telah siap.


Ketika ia hendak pergi, langkah kakinya tertahan oleh dering ponsel yang berbunyi cukup lama. Awalnya ia berniat mengabaikan, tetapi ponselnya kembali berdering hingga beberapa kali.


Dengan terpaksa Diandra mengangkat panggilan itu terlebih dahulu. Dirinya tertegun ketika melihat panggilan tersebut berasal dari Bi Lastri, bergegas Diandra mengangkatnya.


" Nona, Nona. Anda harus segera kemari. Tuan Burhan menghilang Nona. Nyonya Livia dan Asisten Dedy membawanya pergi. " ungkap Bi Lastri dengan nafas memburu.

__ADS_1


Deg....Deg...Deg...


Jantung Diandra berpacu lebih kencang, ia memiliki firasat buruk akan hal ini. Namun, bagaimana ini? Dirinya juga harus segera menuju gedung resepsi.


Ketika Diandra hendak menjawab, tiba-tiba terdengar Bi Lastri yang berteriak dari seberang telepon. Seseorang sepertinya telah merampas ponsel Bi Lastri.


" Hai Nona Diandra Anastasya atau aku harus memanggilmu Asih? Jika kau masih ingin nyawa Papamu selamat, cepat datanglah kesini sekarang juga! " gertak Livia.


Diandra tercengang saat Livia memanggilnya dengan nama Asih. Itu artinya wanita itu telah mengetahui tentang penyamarannya.


" Livia, dasar kau wanita iblis. Jangan pernah sakiti Papaku atau kau akan menyesal nanti! " ancam Diandra penuh amarah.


Namun, Livia justru menyeringai penuh kemenangan. Ia telah memegang kunci kelemahan Diandra.


" Memangnya kau bisa apa? Cepat datanglah kesini dan batalkan pernikahanmu dengan Raka Syailendra. Jika tidak? Aku tak segan-segan menghabisi Papamu saat ini juga. Dan ingat! Jangan sampai hal ini terdengar oleh keluarga Syailendra. Jika kau buka mulut, bersiaplah untuk menyiapkan pemakaman Papamu esok hari! "


Livia langsung menutup panggilannya, dirinya yakin Diandra pasti akan menuruti kemauannya kali ini.


Sedangkan Diandra, wanita itu masih mematung ditempatnya. Kebahagiaan yang hampir ia gapai, kini seolah menjauh dari genggamannya.


Wanita itu berlari keluar dengan berlinang airmata. Seluruh pelayan dan pengawal begitu terkejut melihat majikannya yang nampak terburu-buru.


Diandra segera masuk ke dalam mobilnya.


" Pak, kita menuju kediaman keluarga Adijaya sekarang." perintahnya.


" Tapi, Nona. Bukankah kita harus segera menuju gedung resepsi? " sang supir mengingatkan.


Tidak ada jawaban dari atasannya. Namun, tanpa sengaja sang sopir melihat tatapan tajam dengan nanar airmata yang ditujukan kepadanya.


" Baik, Nona. "


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2