Pembalasan Putri Yang Terbuang

Pembalasan Putri Yang Terbuang
PENYELIDIKAN RAKA


__ADS_3

" Tuan Muda. Detektif yang saya sewa datang kemari untuk melaporkan hasil penyelidikannya. " Asisten Felix melapor.


" Persilahkan dia masuk, Paman. "


" Baik, Tuan. "


Asisten Felix memanggil detektif sewaannya untuk masuk ke ruangan Raka.


Laporan detektif tersebut sebenarnya sudah tidak terlalu dibutuhkan oleh Raka. Tadinya ia menyewa detektif itu untuk mencari keberadaan Diandra sebab ada kemungkinan Jonathan mengetahuinya.


Tak berselang lama, seorang lelaki berjas hitam masuk ke ruangan Raka. Lelaki itu memberi hormat lalu duduk di hadapan Raka.


" Silahkan kau laporkan hasil penyelidikanmu. " perintah Raka.


" Ternyata asisten pribadi Nona Diandra merupakan putra tunggal dari pemilik PT Winner Prakarsa. Perusahaan terbesar di negara ini yang memproduksi barang-barang berbahan stainless steel. Selama penyelidikan, saya lihat dia selalu pulang ke mansion orangtuanya. "


Raka terperangah mendengarnya. Rasanya sungguh aneh, penerus perusahaan besar seperti Winner Prakarsa rela menjadi seorang asisten pribadi Diandra.


" Apa dia menyukai Diandra? " benaknya curiga. Menurutnya dari perilaku dan cara pandang Jonathan, lelaki itu memiliki ketertarikan tersendiri pada istrinya.


Namun Raka segera menepis pikiran negatifnya itu. Yang jelas Diandra adalah miliknya sekarang. Raka kembali fokus pada detektif sewaanya.

__ADS_1


Sang detektif mengungkap cukup banyak fakta mengenai kehidupan pribadi Jonathan dan keluarganya. Mengenai ibu Jonathan yang telah kabur bersama selingkuhannya dan kepribadian Jonathan yang suka berganti-ganti pasangan meskipun akhir-akhir ini pria tersebut hanya fokus mengurus pekerjaan.


" Maaf, Tuan. Saya belum menemukan keberadaan Nona Diandra sebab Jonathan sendiri belum terlihat bertemu dengan beliau. Namun, ada sebuah kejanggalan yang saya temukan akhir-akhir ini. "


" Apa itu? " Raka cukup penasaran karenanya.


" Setiap pagi ada seorang perawat yang datang ke mansion beliau. Entah siapa yang sakit, sebab yang saya tahu mansion tersebut hanya dihuni oleh Jonathan dan Papanya. Sedangkan Papanya sendiri masih sehat dan tengah memimpin perusahaan. Ketika saya mencari informasi, para pekerja disana mengatakan bahwa kerabat Jonathanlah yang sedang sakit. Saya akan terus mencari tahu, siapa tahu saja Nona Diandra yang berada disana. " lanjutnya melapor.


" Kau tidak perlu melanjutkan penyelidikanmu tentang pria itu. Aku sudah menemukan keberadaan Diandra sekarang. Kali ini aku ingin kau mengawasi Livia Adijaya berikut asistennya. Aku ingin tahu dimana mereka menyekap Tuan Burhanudin Adijaya, Papa Diandra." perintah Raka berikutnya.


" Baik, Tuan. "


Detektif itupun akhirnya keluar dari ruangan kerja Raka untuk melaksanakan misi berikutnya.


Mengingat Diandra membuatnya tersenyum seorang diri. Masih kental dalam ingatannya saat ia membuat wanita itu berada dalam kungkungannya. Ekspresi Diandra serta suara ******* wanita itu benar- benar membuatnya gila dan mabuk dalam gairah.


Sayangnya kini mereka belum bisa bersama-sama. Raka masih harus bekerja keras untuk membantu istrinya menemukan keberadaan Pak Burhan dan juga membantunya membongkar kejahatan Livia Adijaya.


***


Diandra masih terbaring di kamarnya. Tubuhnya terasa remuk redam akibat pertempurannya semalam bersama Raka. Untung saja Livia dan Lilian entah mengapa tak begitu menghiraukannya sekarang, jadi dirinya bisa beristirahat siang ini.

__ADS_1


Wanita itu berdiri didepan cermin, dirinya sampai geleng-geleng kepala melihat apa yang telah dilakukan Raka pada tubuhnya.


" Astaga, aku sudah seperti macan tutul sekarang." gerutunya sembari mengoleskan krim pada bekas stempel yang dibuat Raka.


Tok..Tok...Tok...


Suara ketukan pintu mengagetkan Diandra. Ia segera memakai kembali jas pemberian Raka untuk menutupi tanda merah di tubuhnya. Wanita itu melangkah keluar untuk membuka pintu.


" Bibi? "


Bi Lastri menengok ke segala penjuru. Setelah dirasa aman, beliau mengajak Diandra masuk ke dalam kamar.


Keduanya duduk ditepi ranjang. Bi Lastri menyerahkan sebuah kantong kresek berisi sebuah kotak kecil.


" Nona, ini benda yang anda pesan waktu itu. Semoga Bibi tidak salah membeli. "


Diandra membuka kotak tersebut, netranya berbinar saat mendapati benda tersebut merupakan cctv kecil yang dipesannya beberapa waktu yang lalu.


" Iya, Bi. Ini memang benar benda yang aku pesan tempo hari. Terimakasih ya Bi. Semoga dengan alat ini aku bisa mendapatkan bukti kejahatan sekaligus bukti perselingkungan Livia dan asistennya. " tekad Diandra penuh keyakinan.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf up sedikit hari ini, othor benar-benar sibuk hari ini. Jangan lupa tetap dukung karya ini ya. Tinggalkan jejak like koment rate n vote seikhlasnya disini. Makasih sebelumnya😍


__ADS_2