
Dia mengatakan kalau tidak ada anggota lain selain kami berdua. Tapi meski hanya beranggotakan dua orang saja, aktivitas ekskul masih berlangsung.
Mungkin, ada anggota bayangan? Dan ada plot twist di ceritanya kalau ternyata ada anggota bayangan di ekskul ini. Dan pada akhirnya, cerita kehidupan tenang di sekolah milikku akan berkembang menjadi Gadis Bayangan Yang Cantik dan diriku.
“Perkumpulan penelitian makhluk gaib!”
“Sudah kuberitahu tadi kalau ini adalah sebuah ekskul .... ”
“Oh, berarti Ekskul Penelitian Makhluk Gaib!”
“Salah ... Itu konyol sekali. Hantu itu tidak ada.”
Dia mengatakan itu tanpa mengatakan hal yang manis seperti ‘Ka-karena tahu tidak, me-mereka itu tidak ada! A-aku tidak mengatakan itu karena aku takut atau semacamnya!’. Dia malah mengatakan itu dengan tatapan yang tajam. Tatapan sejenis yang mengatakan ‘orang idiot mati saja!’.
“Aku menyerah deh. Aku tidak ada petunjuk lagi.”
Suasana di ruangan ini kembali sunyi seakan ditelan angin pantai tanpa suara.
__ADS_1
♦♦♦
“Tuan Kall. Sudah berapa lama semenjak terakhir kalinya kau berbicara ke seorang gadis?”
Dia langsung saja menanyakan pertanyaan yang tidak relevan itu. Ternyata gadis ini berani juga.
Aku sangat yakin dengan informasi yang ada di kepalaku. Aku ingat pernah mengobrol dan gadis- gadis di tempat persembunyian komunitas pembunuh bayaran. Menurut memori otakku, terakhir kalinya aku berbicara kepada seorang gadis adalah beberapa bulan yang lalu sebelum aku lanjut sekolah.
Gadis: “Hari ini kamu sudah membunuh berapa orang, Tuan?”
Gadis: “Anda memang Malaikat Maut pujaan kami, Tuan David!” gadis itu langsung memujiku seakan diliputi rasa takut yang mendalam.
Selesai.
Percakapannya sejenis dengan itu. Kecuali fakta kalau dia ternyata tidak berbicara kepadaku, tapi kepada pria yang duduk di seberangku. Manusia memang suka mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan. Bahkan sampai saat ini, ketika ingat kejadian itu di tengah malam, aku rasanya ingin menutup kepalaku dengan selimut dan berteriak sekencang-kencangnya.
Tepat ketika aku mulai lega karena memori itu sudah hilang lagi dari kepalaku, nona Rose memberitahu sesuatu.
__ADS_1
“Mereka yang mampu termotivasi untuk memberikan sesuatu dengan caranya sendiri. Banyak yang mengatakan kalau itu adalah pekerjaan sukarela yang cukup bar-bar dan unik. Memberikan bantuan untuk mengembangkan suatu negara, mengorganisir makanan bagi tunawisma, memberikan kesempatan kepada pria tidak populer untuk berbicara kepada seseorang gadis. Memberikan bantuan dengan melakukan apapun sesukanya kepada mereka yang membutuhkan. Itulah yang dilakukan ekskul ini.”
Entah mengapa, nona Rose mengatakan itu sambil berdiri. Dia melihatku dengan rendah.
“Aku mengundangmu ke ekskul ini. Selamat bergabung dengan Ekskul Melakukan Apapun.”
Meski suaranya tidak seperti orang yang mengundang, tapi caranya mengatakan itu memang menarik. Mungkin itulah yang membuat mataku seperti hendak meneteskan air mata.
Tapi dia tetap menaburi garam di lukaku, membuatku semakin depresi.
“Menurut Buk Hilda, ini adalah tugas bagi mereka yang superior untuk menyelamatkan mereka yang eksistensinya menyedihkan. Aku akan memastikan untuk memenuhi apa yang dia requestkan kepadaku dengan penuh tanggung jawab. Aku akan memperbaiki sikapmu yang bermasalah itu. Setidaknya, tunjukkanlah rasa terima kasihmu.”
Mungkin dia meniru ‘Bangsawan Teredukasi’. Sebuah ungkapan berbahasa Perancis yang berisi sebuah gerakan moral para bangsawan untuk menunjukkan sikap mereka yang terhormat dan bermoral. Nona Rose berdiri disana sambil menyilangkan lengannya, memang menunjukkan sebuah image kaum bangsawan. Bahkan, terasa wajar kalau memanggilnya kelas elit, kalau melihat nilai akademis dan tampilannya.
“Gadis sialan .... ”
Kau sudah membangunkan seorang singa yang sedang tertidur nyenyak.
__ADS_1