Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
26


__ADS_3

“Sepertinya, kau tahu banyak sekali nama orang di sini. Apa kau mengingat nama tiap siswa di sekolah ini?” tanyaku.


“Tidak juga. Buktinya aku tidak kenal kamu.”


“Begitu ya.”


“Itu bukan sesuatu yang harus menghantui pikiranmu. Faktanya, itu adalah kesalahanku. Aku tidak menyadari kehadiranmu dan terlebih lagi, kedua mataku tiba-tiba secara otomatis memalingkan pandangannya darimu. Yang harus disalahkan adalah pikiranku yang lemah tersebut.”


“Bukankah itu harusnya menjadi kata-kata yang menghiburku? Kenapa terdengar menjadi sebuah kata-kata yang menyesakkan dada daripada menghiburku? Pada akhirnya, disimpulkan kalau itu adalah salahku.”


“Aku tidak sedang mencoba menghiburmu. Aku hanya mencoba untuk mengatakan sarkasme, ” ucap nona Rose, tidak mempedulikan komplainku dan mengibaskan rambut panjangnya yang ada di bahunya.


“Sepertinya, ekskul ini terlihat menyenangkan.” nona V mengatakan itu sambil melihat ke arah nona Rose dan diriku dengan mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.


Gadis ini ....


Apa di pikirannya hanya ada hal-hal menyenangkan saja?


“Ucapan kami ini sebenarnya tidaklah menyenangkan. Di lain pihak, kesalahpahamanmu itu malah terlihat tidak menyenangkan." Nona Rose menatapnya dengan dingin.


Seperti sedang mencari kata-kata yang tepat, dia terlihat malu-malu dan melambai-lambaikan tangannya untuk menyangkal hal tersebut.

__ADS_1


“Ugh, bukan begitu, bagaimana ya? Aku hanya berpikir kalau kalian itu terlihat bersikap seperti biasanya! Seperti maksudku, David ini jelas sangat berbeda ketika dia di kelas. Dia ternyata suka berbicara dan hal-hal lainnya.”


“Aku bukannya suka berbicara. Mengatakan itu rasanya agak .... ”


Apa aku memang terlihat seperti orang yang kurang memiliki skill untuk berkomunikasi?


“Oh benar juga. Nona V juga berasal dari kelas yang sama dengan tuan Kall, bukan?”


Nona V segera membenarkan kata-kata dari nona Rose.


"Apa tuan Kall pernah berteman dengan teman-teman sekelasnya?"


"Ku-kurasa ... ti-tidak per—ah! Mungkin ada beberapa kali!" jawab nona V sambil berekspresi polos.


Sialan.


Hal yang paling pahit adalah ketika kau tidak tahu apa yang orang lain bicarakan, tiba-tiba orang itu merasa sudah menang banyak darimu. Karena tidak ingin merasa dikasihani oleh nona V, aku membantu sedikit pernyataannya dengan kejujuran yang didramatisir. Aku berpura-pura batuk terlebih dahulu sebelum memulainya.


"Jadi, ucapan nona V itu benar, bukannya aku tidak bertmeman dengan siswa yang ada di kelas kami, hanya saja aku jarang berkomunikasi dengan mereka. Meskipun begitu, aku masih memiliki teman di kelas lain."


Meskipun tidak seharusnya aku menyebut dia itu teman, sih ....

__ADS_1


Mereka berdua— nona Rose dan nona V— tercengang setelah mendengar ucapanku.


Tidak, tidak. Hei nona V! Aku ini sedang membantu kamu lho! Jangan membuat dirimu sendiri yang jatuh ke dalam jurang! Serius ini!


Nona V melihatku dengan tatapan yang menyedihkan.


“Well, bukankah itu sudah menjawab mengapa David tidak punya satupun teman di kelas? Maksudku, meskipun berwajah umm ... tam—lumayan, kau ini terlihat aneh dan menakutkan," ucap nona V.


Oh benar, aku ingat tatapan menyedihkan yang sejenis dengan gadis ini. Tentunya, ada grup gadis di kelasku yang juga melihatku seperti sampah. Dia pasti member grup yang sering berkumpul dengan pria yang berasal dari Ekskul Voli.


Apa-apaan ini?! Bukankah berarti dia adalah salah satu musuhku? Ternyata, aku hanya membuang-buang waktu dengan bersikap baik kepadanya.


“.... Dasar l0nte!” aku tiba-tiba mengatakan itu.


♦♦♦


Halo, dengan Zippim disini.


Maaf jika novel ini kurang menarik. Tapi, saya senang sekali karena masih ada pembaca yang berminat untuk mengikuti alurnya. Terima kasih banyak karena sudah mengikuti cerita ini hingga sekarang!


Salam hangat,

__ADS_1


Author Zippim


__ADS_2