
(David Kall POV)
Di sini, di tempat paling dalam, aku menemukannya.
Sosok yang seharusnya tidak ada. Dia menatapku seakan tak kenal. Tapi, jauh di lubuk hati, aku sangat kenal dengannya.
Gadis itu menatapku sinis.
"Masih hidup?"
"Seharusnya aku juga tanya hal yang sama."
"Kamu gak pernah berubah ya, Vid."
Dia tersenyum dan mengeluarkan sebuah pisau di tangan kanan dan kirinya, terdapat sebuah pistol Glock Type-r sesuatu yang sering kali ia pakai dulu saat kami bersama. Aku hanya terdiam sambil memperhatikan sesuatu yang seharusnya tak akan pernah terjadi. Gadis itu berjalan santai ke arahku.
"Vid, sudah berapa banyak orang yang kamu bunuh sejak saat itu?"
"Tidak ada."
"Yakin? Bagaimana dengan si tua bangka Gilbert?" tanya gadis itu sambil terkikih seakan yang ia katakan adalah sebuah lelucon.
"Ha-ha-ha. Gilbert sudah lama mati di tanganku, dia yang saat ini hanyalah sebuah tiruan."
"Kalau begitu, apa aku ini juga tiruan?" air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
__ADS_1
"Ya, kau itu cuma tiruan."
Mendengar jawabanku, dia tertunduk. Aku sudah mempersiapkan kuda-kuda terbaikku dan masih menunggu tanda pergerakan aneh darinya. Hanya saja ada yang aneh, dia tidak melakukan apapun.
Sebuah bisikan kecil sampai ke telingaku.
"Padahal Mel sudah susah payah mengorbankan nyawa demi kamu."
"Huh?! Apa maksudmu?!"
"Kamu tanya aja sama Mel di alam kubur sana!!!"
Dor!
Gadis itu menembakkan pistolnya ke arahku, segera saja aku menghindarinya dan berlari menuju gadis itu dengan sangat cepat. Ketika jarak kami mulai mendekat, ia mengubah cara bertarungnya menggunakan pisau di tangan kanan. Berbagai macam pola serangan ia lancarkan namun tak ada satupun yang dapat mengenaiku.
"Tekni Pembunuh : Pukulan CARI DUITTT!!!"
Brukkk!!!
Aku mengarahkan sebuah pukulan keras pada bagian perutnya. Tapi, ada yang aneh. Wajahnya tersenyum dan menatap tajam mataku.
"I-inii .... "
"Iklan teri-teri?"
__ADS_1
Br*ngsek!
Dia sudah mengambil kuda-kuda ng*angkang layaknya iklan teri-teri joget ala kepiting dan memperkuat bagian perut. Akibat hukum newton kedua, gaya pukulan keras yang aku berikan pada perut gadis itu malah berbalik ke lenganku. Crack!— tulang lenganku jadi patah sebagian—, aku segera mundur beberapa langkah.
"Kena!"
Gadis itu menangkap lenganku yang patah dan menariknya. Karena tidak ingin menambah kerugian pada bagian lengan yang patah, aku mengikuti alur yang dia inginkan. Saat aku tertarik, sebuah tendangan judo datang dari samping.
Brukkkk!
Tendangan keras itu menjatuhkan tubuhku. Membuat sendi lenganku yang patah jadi terkilir. Dia tersenyum lembut tanpa mempedulikan kesakitan yang aku rasakan.
"Ughh .... "
"Mau nyerah?"
"Kenapa?" tanyaku lirih.
"Kenapa kamu masih kalah?"
Bukan ....
Gadis itu masih mempertahankan senyumnya. Sementara aku masih terbaring di bawah, dia mulai berjongkok. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga kananku, rambut emas itu mulai sedikit menyentuh wajahku.
"Nona Rose dan Buk Hilda aman, kamu pura-pura pingsan dulu."
__ADS_1
Mengerikan, dia gak pernah berubah dari dulu. Jika ada julukan yang pas, mungkin dia ini benar-benar seekor kucing yang licik. Sambil merasa puas di hati, aku mengikuti alur yang ia inginkan seperti dulu.
Mei, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua dulu?