Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
27


__ADS_3

“Apa? Siapa yang kau sebut l0nte?!” nona V meresponsnya dengan cepat. “Aku ini masih peraw- ... w-woah! Tidak jadi!”.


Wajahnya memerah dan melambai-lambaikan tangannya seperti berusaha menarik kembali kata- katanya. Dasar gadis bod*h.


Idiot.


Nona Rose mengatakan sesuatu seperti berusaha menutupi rasa panik gadis l0nte itu.


“Sebenarnya itu bukan sesuatu dimana kau harus merasa malu. Di umur seperti itu masih peraw– “


“W-Woah tunggu dulu! Apa yang hendak kau katakan?! Kenyataannya, memang memalukan masih seperti itu ketika sudah kelas 2 SMA! Nona Rose, dimana rasa feminisme milikmu itu?!”


“.... Kurasa itu adalah hal yang tidak berguna untuk dilebih-lebihkan.”


Woah, aku tidak tahu ada apa, tapi nona Rose baru saja meningkatkan kadar kedinginan dirinya menjadi seratus derajat lebih dingin dari sebelumnya.

__ADS_1


“Meski begitu, kata ‘feminisme’ itu hanya terdengar sebagai ‘l0nte’ bagiku,” tambahku.


“Kau mengatakan itu lagi! Menyebut seseorang dengan ‘l0nte’ itu sudah keterlaluan! Vivid, kau menjijikan sekali!” nona Rose menggerutu dan melihatku dengan tatapan mata yang menyedihkan.


“Aku menyebutmu l0nte, tidak ada hubungannya diriku yang menjijikkan. Dan jangan panggil aku Vivid.”


Bukankah itu sama saja memanggilku Banci Kaleng? .... Oh, dia pasti sengaja mengejekku dengan mengatakan itu. Itu pasti semacam nama ejekan yang para siswa kelas kami miliki untuk menyebut diriku.


Bukankah hal itu sendiri terdengar kejam? Aku bahkan mulai terlihat hendak menangis ketika mendengar itu.


Oleh karena itulah, aku mengatakan sesuatu di depan orangnya langsung dengan keras dan jelas. Karena jika mereka tidak mendengarnya langsung dariku, aku tidak bisa memberikan critical damage kepada mereka!


“Dasar l0nte!”


“K-Kau ini! Sangat mengganggu! Serius, ini menjijikkan tahu! Kau mending mati saja sana!”

__ADS_1


Mendengarkan kata-kata itu, bahkan diriku yang sudah bersikap dengan lembut kepadanya merasa terganggu seperti sebuah pisau cukur yang kau pakai dan membuat kami semua terdiam.


Banyak sekali kata-kata di dunia ini yang tidak seharusnya diucapkan dalam pembicaraan tadi. Secara umum, ini menyangkut kata-kata yang berhubungan dengan hidup manusia, walaupun aku juga tidak peduli. Jika kau tidak mau bertanggung jawab atas kata-kata yang menyuruh orang lain untuk mati, maka kau tidak berhak mengatakan itu. Dengan maksud untuk menegurnya, tidak lama kemudian aku mengatakan sesuatu dengan memberikan sedikit tekanan emosi di dalamnya.


“Kau harusnya tidak mengatakan sesuatu seperti ‘mati saja’ atau ‘aku akan membunuhmu’ dengan begitu mudahnya, atau juga mengatakan ‘aku akan membuatmu memakan tanah’.”


“U-uh, Ma-maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Tunggu dulu?! Kau baru saja mengatakan itu! Kau jelas-jelas bilang ‘aku akan membunuhmu’!”


Dia mungkin tidak sadar, tapi nona V ini benar-benar bod*h. Tapi yang megejutkan, dia ini tampak seperti jenis gadis yang dengan mudahnya meminta maaf.


Dia tampaknya sedikit berbeda dari yang kuduga jika melihat tampilannya. Awalnya aku yakin kalau dia seperti para gadis di grupnya, dan tidak lupa para pria yang ada di Ekskul Voli yang sering nongkrong dengannya. Kupikir kepala gadis ini berisi hal-hal semacam s*x, narkoba, dan berbuat hal-hal nakal. Seperti yang ada di novel karya Bambang Herlambang.


Nona V mengembuskan nafas yang kecil seperti menyadari, bahwa menjadi hiperaktif pada saat ini membuatnya lelah.


“.... Hei, ummm, kudengar ini dari Buk Hilda, katanya ekskul ini bisa memenuhi request para siswa?” nona V memecah kesunyian.

__ADS_1


Akhirnya ... yang ditunggu-tunggu datang juga.


__ADS_2