Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
37


__ADS_3

(POV nona Rose)


Sementara tuan Idiot bin Narsis itu maju sendiri, kami semua sempat bergidik dan tak dapat maju mengikutinya. Wajar saja karena semua orang tahu bahwa dia sangat marah akan hal ini namun sayangnya, ia tak berpikir panjang dan meninggalkan kami pergi sendirian. Aku melangkah maju di depan semua orang dan memberikan mereka sedikit pidato.


Tap tap tap


"Dengarkan aku! H-2CM adalah makhluk yang memiliki durabilitas fisik sama seperti kita, manusia biasa! Kalian jangan takut karena mereka bukanlah Zombie! Jika kalian takut mati, maka sudah dipastikan kalian akan mati saat ini juga! Genggam senjata kalian erat-erat dan tembak mereka seakan kalian melawan manusia biasa!!!"


Mendengar pidato singkatku yang cukup lantang dan sombong, mereka semua menjadi terinspirasi dan bersorak semangat. Wajah yang awalnya merasa ragu akhirnya hilang bagaikan pasir ditiup angin. Kini, mereka sudah menjadi seperti prajurit yang sebenarnya.


"Pidato yang bagus," puji nona V.


"Biasa saja," balasku dingin.


"Apa sekarang kita akan menyerang?" tanya Buk Hilda sambil mempertemukan kedua tinju tangannya.


"Tidak, masih belum."


Setelah menjawabnya, nona V memberikan masker kepada kami berdua.


"Ini, tolong kenakan."


Kami berdua mengambil lalu memasangnya. Masker ini adalah salah satu produk terbaik dari militer negara ini namun aku sedikit penasaran, untuk apa sebenarnya kami mengenakan ini. Bahkan, di sini tidak ada gas beracun dan sejenisnya.


"Untuk apa kita memakai ini?" tanyaku.

__ADS_1


Tanpa menjawab, nona V hanya menunjuk ke arah depan. Muncullah sebuah gas berwarna hitam dan disertai dering alat komunikasi milik nona V. Tanpa pikir panjang, nona V segera mengangkatnya.


"Apa sudah siap?" tanya nona V semangat.


"Ya, semuanya sudah siap," jawab seorang pria yang ada di alat komunikasi itu.


Nona V segera mematikan alat komunikasinya dengan senyum lega. Melihat senyum itu, aku segera berjalan cepat mendekati nona V dan memegang kerah bajunya dengan erat. Aku menatap matanya dengan tajam dan dingin.


"Kau, apa yang kau rencanakan?"


"He-hei nona Rose tenang—"


Sebelum Buk Hilda sempat memberi penjelasan kepadaku, tiba-tiba dia pingsan dan—


Brukkkk!!!


"Apa ini?" tanyaku.


"Bukankah seperti yang kamu lihat?" nona V masih tersenyum lega sambil mengangkat kedua bahunya.


Ah, ternyata semua ini adalah jebakan.


Meskipun sulit untuk percaya yang sudah terjadi tepat di depanku, aku mencoba untuk memastikannya kembali.


"Apa kamu ingin membunuh kami di sini?" tanyaku datar.

__ADS_1


"Setengahnya benar dan ... " nona V berlari ke arahku sambil mengarahkan sebuah pukulan dan berkata, "Setengahnya lagi, salah!!!"


Saat aku sudah memasang kuda-kuda bertahan untuk menghadapi pukulannya, mendadak nona V mengubah pola serangannya dari pukulan menjadi tendangan dari arah samping.


Bruukkk!!!


Sekali lagi aku kena tepat pada bagian samping perut. Tak ku sangka, tendangan dari nona V akan sekeras itu. Padahal dia hanya berlengkapkan pakaian dengan kain yang biasa sama seperti kami semua yang ada di sini.


"Kenapa?" tanyaku lemah.


"Mudah saja, aku gak suka denganmu. Aku ingin menyingkirkan kalian berdua, bukankah itu wajar?"


"Tapi, kenapa dia juga?"


Bruukkk!!!


Sekali lagi nona V menendang wajahku hingga aku terguling beberapa kali.


"Jawabannya hanya satu, aku punya kontrak dengan seseorang dan orang itu memintaku untuk membawakan David kemari."


"Breng ... se-eeekkk-kkkk .... "


Tanpa mempedulikan rengekkanku, nona V menjambak rambut kami— aku dan Buk Hilda— tanpa peduli itu sangatlah menyakitkan. Entah kemana dia akan membawa kami pergi, aku yakin tempat itu pastilah Neraka di dunia ini. Jika tebakanku benar, mungkin saja gadis ini akan membunuh kami secara perlahan sambil menikmati pemandangan itu layaknya seorang psikopat sadis.


"Ingatlah ... peran kalian ... sangatlah penting .... " Telingaku hanya dapat sedikit menangkap suara nona V.

__ADS_1


Perlahan, kesadaranku mulai pudar.


Tuan Kall, aku harap kau menyadari jebakan ini. Bila aku masih punya kesempatan, aku akan membantumu keluar. Sampai kesempatan itu tiba, aku mohon bertahanlah.


__ADS_2