
Dengan waktu perjalan yang cukup lama— mungkin bisa dibilang 46 menitan— kami sampai di sebuah lorong gelap. David dan Mei yang berada di depan terus berjalan tanpa takut tersandung apapun, sedangkan aku yang berada di belakang mereka masih berusaha untuk tetap siaga. Dalam kegelapan seperti ini biasanya sangatlah sulit bagi orang biasa agar tidak menabrak apapun, tapi yang aku lihat di sini cukup berbeda karena mereka sangat santai berjalan seakan-akan hal ini sudah menjadi sebuah rutinitas.
Jika bisa dideskripsikan menggunakan kata, lorong ini mungkin hanya memiliki lebar 6 m karena hanya bisa dua orang yang dapat berpapasan. Terlebih lagi, di sini hanya kami yang lewat dan tak sedikitpun aku dengar langkah kaki selain milik anggota grup ini. Kami terus berjalan dalam kegelapan hingga akhirnya kami sampai pada jalan buntu namun seperti yang dapat kebanyakan orang bayangkan, terdapat satu jalan rahasia pada sela jalan buntu tersebut dan lagi kau harus bisa melenturkan tubuh agar dapat lewat.
Saat kami semua sudah lewat celah tersebut, seseorang bertubuh kekar dengan kepala botak yang sangat menyebalkan sudah berada di depan layaknya hal ini memang terprediksi. David maju selangkah dan sebelum dia menyelesaikan langkah keduanya, sebuah pisau tertancap di dekat tempatnya berdiri. Meskipun sudah mendapatkan serangan kejutan, dia tak gentar menghadapi serangan mental itu namun masih berdiam di tempatnya.
"Hei bocah gila, apa kali ini kalian ingin memanen?" tanya pria botak itu sambil memandang rendah kami.
"Ya, bisa langsung saja kasih detilnya? Aku muak melihat kepala botakmu itu, Br*ngsek!" ucap David lalu maju menerjang ke depan tanpa ragu, mencoba untuk membunuh target yang ada di depan.
Saat jarak mereka dekat, David segera melayangkan satu pukulan pada bagian vital kaki Botak, dan Si Botak itu menerimanya dengan senyum yang lebar tanpa jatuh sedikitpun oleh tendangan keras itu. Si Botak satu pukulan keras pada bagian ulu hati David namun serangan itu dibalas dengan sedikit gerakan menipis tinju dan sedikit ada kesempatan menyerang balik, David melancarkan tendangan melompat kayaknya teknik Jeet Kune Do milik seorang pembela diri terkenal ke arah kepala Botak. Si Botak menerima tendangan itu hingga tersungkur ke tanah, padahal gerakan itu tidak sekuat tadi namun mungkin saja ada beberapa trik kecil yang dia pakai.
"Kuh! Kau tambah hebat juga ya, Bocah!" ucap Si Botak sambil menyingkirkan darah yang sedikit keluar dari mulutnya dan berdiri kembali seakan tak terjadi apapun.
"Jadi, apa tugasnya?" tanya David dingin tanpa mempedulikan yang tadi.
"Pertama, bisa kau jelaskan siapa itu?" Si Botak menunjuk ke arahku dengan emosi yang tak senang pada wajahnya.
__ADS_1
"Dia anggota tambahan grupku, ada masalah?" jawab David tak gentar meskipun sebenarnya aku gak tahu apa-apa tentang pembicaraan ini.
"Ada," Si Botak berlari menerjang ke arahku namun dihadang oleh Si Kembar dengan kombinasi serangan yang cukup unik.
Mereka bertiga menguasai teknik Jeet Kune Do dengan sangat baik namun terlihat cukup alami karena aku yakin, ketiga orang itu tak pernah memiliki seorang tutor agar dapat menguasai teknik tersebut. Dunia sangat luas, banyak orang berbakat tanpa harus belajar dan mereka yang belajar, adalah mereka yang tak memiliki kelebihan dan mencoba untuk mengejar langkah yang sudah ditapaki oleh orang-orang berbakat. Di lain sisi, terkadang kau juga dapat melihat bahwa terkadang perbedaan itu sangatlah tak adil bagi mereka yang berusaha keras namun gagal setelah berjuang.
Di dalam pikiranku, apa yang membuat orang ini benar-benar menguasai sesuatu yang seharusnya tak mereka sentuh pada usia di zaman yang sekarang? Bukan hanya itu saja, mereka ini sudah di atas batas normal anak-anak pada umumnya. Terutama pria bernama David itu, bukan hanya dari segi fisik maupun teknik, dari tatapan matanya saja aku sudah tahu kalau dia ini cukup spesial dari yang lain. Saat pertama kali bertemu ada sesuatu yang tak bisa ku jelaskan namun sekarang, aku sudah menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan seorang anak lelaki yang dapat menjatuhkan pria dewasa bertubuh besar dengan satu tendangan, Monster—itulah kata yang tepat untuknya.
Berkat kombinasi dari Si Kembar menyebalkan itu, gerakan Si Botak terkunci lalu dari semua tanda, sepertinya mereka sudah mempercayakan serangan terakhir kepadaku.
Kalau begitu ....
Melihat itu, mereka bertiga tercengang akan kejadian yang sudah tepat berada di depan mata.
"Seperti yang diharapkan dari pilihan David," ucap Mei sambil tersenyum dan bertepuk tangan seakan yang dia lihat adalah sebuah pertunjukan menarik.
"Itu sudah wajar dari Si Otak Otot," sambung Melida degan nada datar tanpa ekspresinya namun aku merasakan sakit di hati akibat ekspresi dinginnya itu.
__ADS_1
Sementara Si Kembar berkomentar, David hanya diam mengamati situasi dan berjalan menuju ke arah kami—mungkin lebih tepatnya kepada Si Botak.
"Sekarang grupku bukan beranggotakan tiga orang, tapi empat dan tolong urus sisanya dan aku juga sudah berhasil mencuri flashdisk berisikan informasi panen selanjutnya yang ada di kantongmu," ucap David datar lalu berjalan keluar tanpa peduli apa Si Botak dapat bangun dari tempat ia terjatuh.
Diikuti oleh Si Kembar di belakangnya, pada saat aku akan berjalan, Si Botak memanggilku.
"Tunggu," panggilnya lemah sambil menatapku.
"Ada apa lagi? Mau ngajak mati bersama, Br*ngsek?" tanyaku degan nada mengancam dan sudah mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk melenyapkan Si Botak saat ini juga.
Mendengar itu, ekspresi Si Botak malah terlihat bahagia seakan ingin naik ke surga. T-tunggu, apa mungkin tua bangka ini malah ter*ngsang dengan ucapanku? Gak, gak itu gak mungkin! Kalau memang benar, orang m*sum seperti ini harus segera dilenyapkan dari muka bumi sekarang juga.
"Aku butuh nama untuk mendaftarkanmu sebagai anggota," jawabnya sambil tersenyum bahagia.
"Risha, apa ada yang lain? Kalau tanya yang berbau m*sum kubunuh kau Pak Tua," jawabku seakan kesal karena dulu, ada juga seorang reporter salah satu stasiun televisi yang sangat giat untuk membongkar rahasia tentara bayaran negara.
"Tidak ada—ugh .... " Setelah menjawab, Si Botak langsung pingsan dengan ekspresi seperti jiwanya sudah dipanggil ke ini Neraka terdalam bersama para pendosa.
__ADS_1
Karena sudah tak ada lagi urusan, aku menyusul mereka bertiga yang sudah cukup jauh. Padahal aku yakin mereka berjalan lebih cepat, mungkin saja karena David sadar bahwa aku masih belum bergerak sedikitpun dari sini. Terlebih lagi, waktu yang dihabiskan untuk bicara dengan Si Botak m*sum ini cukup lama— walaupun hanya 1 menit saja—, tapi aku yakin kalau mau, bisa saja mereka sudah berjalan jauh meninggalkan aku di sini.
Setelah urusan di tempat ini selesai, kami pergi keluar dan kembali lagi berjalan di bawah sinar matahari yang sangat cerah.