
Kami kembali lagi ke toko dan disambut ramah oleh Si Kembar Idiot dengan berbagai macam kekonyolan mereka salah satunya adalah seperti ini.
"Selamat ulang tahun, Risha!!!" sambut Meida dengan ceria di deoan pintu.
"Selamat ulang tahun, otak otot," Melida juga mengikuti Si Idiot berisik itu dengan memaksakan diri untuk bicara dengan nada dinginnya.
"Eh? Apa ini?" tanyaku bingung karena sebenarnya mereka juga tidak tahu kapan hari ulang tahunku.
"Kami selalu menjadikan hari dimana kau bergabung adalah hari ulang tahunmu," jawab David yang berjalan ke sisi meja kasir dan disambut hangat oleh seorang kakek tua.
Mereka terlihat sangat akrab, daripada mengurus itu ... untuk sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya untuk menghindari tingkah konyol dari Si Kembar Idiot saat ini juga. Mereka menarikku ke sisi meja untuk 4 orang di pinggir ruangan yang sudah tersedia kue, daripada itu ... aku lebih takut kalau di dalamnya mengandung racun hingga dapat membunuhku secara perlahan. Begini-begini aku juga takut mati dengan hal yang menyakitkan, bisa dibilang aku lebih memilih untuk dipenggal daripada gantung diri.
" "Potong kuenya, potong kepalanya ... potong kepalanya sekarang— juga!" " ucap mereka bersamaan dengan nada ceria dan dingin masing-masing lalu mengayunkan sebuah pisau yang biasanya digunakan untuk memotong daging.
Aku segera menunduk lalu melompat ke belakang kursi dan bersiap untuk serangan selanjutnya.
"Hey! Apa-apaan ini?! K-kalian mau membunuhku ya?!!" teriakku, kesal kepada mereka berdua yang hampir saja memenggal kepalaku.
"Tadi kalian kemana?" tanya Mei sambil memegang pisau besar itu dengan ekspresi sadis dan siap membunuhku kapan saja.
"Apa kalian melakukan hal aneh—seperti .... " sambung Mel dan sebelum dia selesai aku segera menyela.
"I—itu bukan seperti yang kalian pikirkan!!!" jawabku segera sambil memegangi kursi yang bisa menahan beberapa serangan dari mereka.
"Lalu ... " Mei berlari dengan cepat ke arahku sambil mengayunkan pisaunya dan berteriak, "Ex—calibuuurrrrr!!!" teriaknya sambil menyerangku dengan segenap tenaga yang dia miliki.
B*ngsat! Cewek ini sudah gila! Otaknya sudah miring dan jurus apa itu??? Serius, kau menirunya darimana sih?? Dasar cewek gila!!!
Aku segera melemparkan kursi tadi lalu mundur beberapa langkah sambil bersiap dengan serangan selanjutnya.
"Apa kau sudah main-main dengan pedang sucinya???" tanya Mel dingin sambil tersenyum sadis malahan lebih dari milik Mei dengan berlatar belakang suara film horor disertai darah.
Pedang suci apanya??? Dasar cewek-cewek cantik tapi gila!!!
Begitulah yang ingin aku teriakan kepada mereka berdua, tapi jika aku lakukan maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka berdua akan membunuhku dengan sangat sadis, bisa saja mayatku akan dicincang secara rapi dan halus lalu dijual ke toko daging—ewww, itu sangat menjijikan.
Serangan kombinasi Si Kembar Idiot itu terus menghampiriku dan setiap gerakan mereka, membuatku mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya aku tepat berada di ujung tembok.
Tak tahan melihat ini, David segera memberikan perintah kepada Si Kembar Idiot itu.
"Hentikan! Kami cuma mengunjungi panti asuhan itu," ujar David untuk mengakhiri pertikaian di antara kami bertiga.
" "T–tapi .... " "
Sebelum mereka bicara, David segera menyela.
"Daripada memikirkan hal yang penting itu—"
__ADS_1
" "ITU PENTING!!!" " mereka langsung menyela ucapan David tanpa ampun.
Mendengar respons itu, David jadi terkejut dan tak dapat berkata.
Ahh ... ayolah Kakek, hidup cucukmu ini ada di tanganmu! Biarkan aku hidup lebih lama lagi!!!
Tidak sesuai dengan yang David harapkan, pria tua yang ada di meja kasir segera mengambil alih suasana.
"Hentikan, tolong prioritaskan misi kalian dibandingkan dengan masalah pribadimu. Terlebih lagi, bukankah tidak mungkin bagi seorang David melakukan hal itu?" ucap Kakek Tua itu sambil memberikan rekanan penting pada penghujung ucapannya.
Mendengar itu, mereka berhenti dan kembali menjadi waras.
"Y–yeah, itu benar," Mei menurunkan senjatanya terlebih dahulu baru diikuti oleh Mel.
Suasana di dalam toko kue ini kembali menjadi normal. Hal yang lebih aneh lagi, di sini hanya ada kami berlima jika dihitung bersama Kakek Tua itu. Bahkan, aku bisa merasakan bahwa saat ini posisi kami benar-benar jelas, dimana Si Kakek adalah supervisor dan David adalah pemimpin grup.
Kakek tua itu maju dan mulai memperkenalkan dirinya kepadaku.
"Perkanalkan, namaku Harold Brano," ucap Harold sambil membungkukkan sedikit postur tubuhnya sebagai tanda salam.
Brano? Dia bilang Brano bukan?? Brano yang itu?
Mungkin kau tidak tahu, tapi Brano di masaku dikenal sebagai nama keluarga tertinggi dan mereka punya keunggulan di bidang militer negara. Siapapun yang berani mengsuik anggota keluarga mereka, mungkin saja dia akan hilang dalam beberapa malam dan akan ditemukan keesokan harinya dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Sepertinya dia salah satu leluhur kepala keluarga saat itu, jadi aku tak boleh berbuat kesalahan dan mempengaruhi relasi David dengannya.
"Perkanalkan juga, namaku Risha dan baru saja bergabung kemarin," aku langsung menundukkan sedikit postur tubuhku untuk menerima itikad baiknya.
"Baik, kita akan mulai rapat sebelum kalian mengejar target, sebelumnya apa ada yang ingin bertanya?" layaknya seorang pemandu rapat yang handal, Harold membukanya dengan elegan tanpa celah sedikitpun.
David mengangkat tangan.
"Silahkan," Harold mempersilahkan David untuk bertanya.
Karena sudah mendapatkan izin bicara, David berdiri lalu bertanya, "Seperti apa target kali ini?" tanya David.
Jika bisa aku asumsikan, dia sudah membaca semua informasi itu namun meminta inti dari semuanya saja agar lebih mudah dimengerti. Sekilas saat aku melihat informasi tadi, aku hanya melihat data seorang pejabat yang korup. Selebihnya adalah rincian kegiatan yang dia lakukan selama beberapa minggu ini dan beberapa orang yang sering bertemu dengan pejabat korup itu.
Kalau tebakanku ini tepat, kami adalah seorang pembunuh bayaran yang memiliki misi untuk membunuh beberapa benalu untuk negara ini. Terlebih lagi, pantas saja keluarga Brano kuat dalam bidang militer karena leluhurnya saja sudah mengadakan gerakan rahasia seperti ini, apalagi dia juga tak gentar untuk membuat orang lain mengotori lengan mereka demi ambisi yang dia miliki. Dan lagi, sepertinya dia memiliki jasa yang sangat besar terhadap grup ini, makanya Si Kembar Idiot itu mau saja menuruti dan mempercayai ucapan Harold.
"Target kalian adalah Loki Cruise, seorang menteri keuangan di negara ini. Dia itu adalah pejabat korup yang sering melakukan pertukaran dengan beberapa grup mafia dari Hongkong," jelas Harold sambil memperlihatkan beberapa informasi yang sangat rinci tentang perbuatan Loki.
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya David langsung pada intinya tanpa meminta informasi lebih lanjut mengenai target.
"Bunuh dia saat menghadiri acara ulang tahun keluarga Rosenberg," Harold melemparkan sebuah pisau pada agenda yang tertempel di dinding toko.
Pisau itu tertancap pada tanggal 19 Juli.
"Kalian punya waktu seminggu untuk mengakhiri hidup target, bagaimana menurutmu David?" tanya Harold pada David seakan dia sedang memberikan sebuah tekanan kepada pemimpin grup.
__ADS_1
"Cukup tembak saja dia dari jarak jauh," jawab David entengnya tanpa harus berpikir keras.
"Ya, kau benar jika penjagaan pesta Rosenberg tidaklah ketat. Hanya saja, acara itu akan dilaksanakan pada kediaman keluarga Rosenberg dan kalian harus menghindari turunnya kepercayaan masyarakat terhadap mereka," jelas Harold dengan ekspresi cukup letih karena melihat David yang cukup cepat memberikan jawaban tanpa pikir panjang.
Memang benar target kami hanyalah satu orang, bukan satu keluarga. Jadi kami tidak bisa sembarangan bertindak, apalagi ini melibatkan dua keluarga besar. Dalam artian lain, kami tidak boleh menyinggung keluarga manapun yang ada di pesta dan semua ini harus dilakukan dengan cepat.
"One hit, one kill huh .... " Tanpa sadar aku menggerutu sendiri.
"Ya, itu benar dan yang sebenarnya harus kita lakukan adalah membuat sebuah pengalihan lalu memancing target dan melenyapkannya saat itu juga," balas Mei dengan sangat percaya diri.
"Mei benar, karena ini adalah pesta yang cukup menarik perhatian beberapa orang penting di negara, maka salah satu cara yang tepat adalah membuat sebuah pengalihan," lanjut Harold setuju dengan pendapat Mei.
"Bukankah pengalihannya adalah acara itu sendiri? Apalagi kekurangannya?" tanya David seakan ingin melewatkan bagian pentingnya.
"Justru itulah kekurangannya, acara yang dia hadiri itu adalah milik salah satu keluarga terpandang dan kau—"
Sebelum Harold menyelesaikan kalimatnya, David menyela.
"Bukankah karena mereka sama-sama keluarga terpandang maka tak akan ada yang berani melakukan aktivitas yang mencurigakan? Apalagi mereka juga tak ingin mendapatkan imej buruk di depan masyarakat, bukankah itu berarti ada beberapa celah yang dapat kita manfaatkan?" tanya David semangat dalam berdiskusi namun ia tak tahu bahwa atmosfer ruangan ini malah jadi panas.
"Lalu, dimana celahnya tuan David?" tanya Harold menyerah dengan keras kepalanya David.
"Celahnya ada pada mereka tidak akan melakukan sesuatu yang mencurigakan dan mengendurkan penjagaannya," jawab David dengan nada yang mengejek pada penjelasannya kepada Harold seakan dia sudah memenangkan sesuatu.
Apa yang dikatakan David memang benar, tapi pasti bukan itu poin yang ditandai oleh Harold. Maksudku, dia juga tahu mereka akan mengendurkan penjagaan dan tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Akan tetapi, mungkin saja itu adalah sebuah jebakan.
Kau tidak akan tahu kapan akan masuk kedalam perangkap, kecuali kau sudah memasukinya terlebih dahulu. Kemungkinan besar yang paling buruk adalah mereka bekerjasama untuk menjebak musuh yang akan datang. Dan apabila kami menerima misi ini dan tanpa pikir panjang masuk kedalam perangkapnya, maka kami tak akan pernah bisa keluar dari sana hidup-hidup.
Di sisi ini, ada umpan yang sangat sedap. Tapi di sisi lain, ada binatang buas yang menunggu. Salah sedikit, maka kematianlah yang akan menunggu kami.
"Jadi, bagaimana keputusannya?" tanya Mel tanpa peduli dengan perdebatan mereka sebelumnya.
"Kita ambil jalan tengahnya saja, bagi menjadi dua tim. Satu untuk memeriahkan pestanya agar mereka tak sadar bahwa kelinci sudah masuk perangkap, satunya lagi untuk melenyapkan target," begitulah kesimpulan yang Mei dapatkan dari semuanya.
Dia benar, tapi—
"Bukankah akan sangat berbahaya bagi tim yang tampil di pesta?" aku menyanggah pendapat Mei dengan argumen probalitas keselamatan.
"Jangan naif," balas Mel dingin.
"Itu benar, kita akan bertahan hidup asalkan saling percaya satu sama lain, oleh karena itu ... " Mei memperdekat jarakku dengan David lalu berkata, "Kalian akan ambil bagian dalam membunuh target dan kami berdua sebagai pengalihan, jadi nyawa kami ada di tangan kalian berdua," ucap Mei sambil tersenyum dan membentuk jarinya menjadi V kepadaku.
D-dia ....
Aku meminta bantuan dengan menatap Mel, tapi dia tidak ingin menolongku. David juga setuju karena itu adalah pembagian yang paling efisien dan apabila kami gagal, probalitas mereka berdua selamat lebih besar dibandingkan jika kami berdua yang jadi pengalihan. Apa boleh buat kalau begini, jadi aku menyerah dengan posisiku.
"Baiklah aku ikuti rencana kalian," aku menyerah dan akan kubalas mereka dengan performa kerjaku nanti.
__ADS_1
Semua orang di ruangan itu sudah mencapai kesepakatan bersama dan Harold akan menyiapkan seluruh persiapan yang akan kami gunakan nantinya. Kondisi bangunan sudah kembali menjadi semula dan pegawai hingga pengunjung yang awalnya tidak ada mulai berdatangan ke toko. David memandu kami untuk keluar dan pulang kerumah setelah melakukan skenario pembayaran kepada Harold di meja kasirnya.