
“Um, saya ini tidak akan kabur atau semacamnya, tidak apa-apa jika saya pergi sendirian. Maksud saya, Buk Hilda tahu kalau saya selalu sendirian. Jadi saya pasti baik-baik saja sendirian. Atau lebih tepatnya, jika saya tidak datang sendirian, saya tidak bisa menjaga agar diri saya tetap tenang.”
“Jangan mengatakan hal-hal menyedihkan seperti itu. Aku ingin kita pergi bersama.”
Buk Hilda mendesah kecil dan tersenyum kepadaku. Ini sangat berbeda dengan tatapan mata yang yang biasanya terlihat sedang merendahkanku. Perbedaan ini mulai mengusikku.
“Membiarkanmu kabur sudah cukup untuk membuatku menyeringai karena emosi. Jadi meski aku tidak mau, aku tetap akan menyeretmu kesana untuk mengobati pikiranku yang stress.”
“Itu adalah alasan terburuk yang pernah saya dengar!”
“Bagaimana ya? Meskipun kegiatan semacam ini menggangguku, aku masih mau menemanimu agar bisa memperbaikimu. Ini adalah sesuatu yang bisa kau sebut dengan sebuah hubungan cinta yang indah antara guru dan muridnya.”
“Apa seperti ini yang disebut cinta? Kalau ini dinamakan cinta maka saya tidak membutuhkannya.”
“Alasan tadi menunjukkan kalau dirimu ini sedang bimbang, benar tidak? ... Saking bingungnya sehingga semua titik di tubuhmu itu terbalik? Apa kau akan membuat Devil Cross Hellios atau sejenisnya?”
Anda tampaknya memang penggemar berat sebuah komik ....
“Kalau kau tidak banyak mengeluh, maka kau akan terlihat lebih manis. Tidak ada yang menyenangkan jika melihat dunia ini dari sudut pandangmu.”
“Well, dunia ini memang tidak semuanya tersinari oleh cahaya matahari dan kebahagiaan. Jika komunitas sosial hanya terbentuk dari orang-orang yang melihat dunia ini seperti sebuah hal-hal yang menggembirakan saja, Hollywood tidak akan membuat film yang bisa membuat orang menangis, bukan? Akan selalu ada orang-orang yang bisa menemukan sebuah kebahagiaan dalam tragedi.”
“Berceramah seperti itu memanglah keahlianmu. Meski memang cukup lumrah bagi anak muda bersikap antipati, tapi levelmu ini sudah dikategorikan penyakit berbahaya. Mungkin sudah hampir mencapai batas minimum psikopat”
Buk Hilda terlihat tersenyum bahagia sambil mengkonfirmasi apa penyakitku ini.
“Hei, bukankah itu terlalu kasar? Memperlakukan saya seperti saya memiliki penyakit? Maksud saya, ada apa dengan batas minimum ini?”
“Apa kamu suka komik dan film kartun?”
Seperti tidak mempedulikan pertanyaanku, dia mengganti topiknya.
“Well, saya tidak membencinya atau sejenis itu.”
__ADS_1
“Jadi kenapa kau menyukainya?”
“Itu karena ... menggambarkan usia saya yang masih menyukai hal-hal seperti itu. Itu juga merupakan bagian dari budaya populer yang dibanggakan oleh beberapa negara. Bukankah akan terasa aneh jika saya tidak mengagumi fakta itu? Karena pasar domestiknya menjadi lebih besar, kita juga tidak bisa menyepelekan dampak ekonominya.”
“Begitu ya. Bagaimana dengan literatur-literatur umum? Sherlock Holmes dan sejenisnya.”
“Well sejujurnya saya sudah membaca mereka, saya suka buku-buku yang mereka publish sebelum mereka menjadi terkenal.”
“Apa perusahaan penerbit favoritmu?”
“Crocodile Toon dan Net Toon. Well, sebenarnya saya tidak tahu apakah Anda akan mengkategorikan terbitan Net Toon sebagai Ligh Novel atau tidak. Kenapa Buk Hilda menanyakan hal-hal ini?”
“Well. Kau ini sudah memenuhi ekspektasiku ... bukan dalam hal yang bagus. Sebuah contoh sempurna dari orang yang sudah mencapai batas minimum.”
“Seperti kata saya tadi, apa sih batas minimum itu?”
“Ya, begitulah. Sebuah pola pikir yang dimiliki siswa SMA. Mereka pikir jika bersikap sinis adalah keren, dan selalu memandang hal-hal populer di internet seperti ‘Bekerja berarti kalah dengan sistem’. Ketika membicarakan penulis novel populer, mereka akan mengatakan ‘aku lebih menyukai karya-karya mereka sebelum mereka populer’. Mereka mengejek semua usaha tiap orang dan memuji sesuatu yang tidak jelas. Dan yang terpenting, mereka mengejek para kutu buku meski mereka sendiri merupakan kutu buku. Mereka berbicara seperti mereka memahami semuanya, lalu mereka mengatakan sesuatu yang bisa membuat pemikiran orang lain menjadi bingung. Sederhananya, mereka adalah kaum yang tidak disukai.”
“Tidak disukai ... aduh sial! Itu menggambarkan saya dengan tepat sehingga saya tidak bisa menyangkalnya!”
“Siswa zaman now, huh?”
Secara spontan aku tersenyum kecut ketika mengatakannya. Sebuah hal yang klise untuk dikatakan. Aku merasa jengkel, lalu aku memikirkan sesuatu untuk membalasnya. Tapi, Buk Hilda sepertinya bisa menyadari maksudku dan menatapku dengan tajam, akupun menaikkan bahuku.
“Tampaknya kau akan mengatakan sesuatu yang sesuai dengan karakteristik siswa pengidap batas minimum.”
“.... Oh benarkah.”
“Aku tidak ingin kau salah tangkap tapi aku ini benar-benar memujimu. Aku suka orang yang memegang teguh idealismenya. Meski mereka itu berbeda.”
Mendengar Buk Hilda mengatakan ‘suka’ membuatku merasa seperti orang idiot. Aku mulai gelisah untuk membalasnya balik karena kata yang barusan kudengar itu merupakan kata yang sangat langka.
“Berbeda seperti halnya dirimu, bagaimana pendapatmu soal Isabella Rosenberg?”
__ADS_1
“Dia sangat menjengkelkan.”
Aku menjawabnya begitu saja. Saking bencinya hingga aku mengira Buk Hilda mengatakan ‘Kau harusnya menyerah saja menghadapi jalan yang dibeton itu'.
“Begitu ya.”
Buk Hilda mengatakannya dengan senyum yang kecut, lalu dia menambahkan.
“Meski begitu, dia memang siswi sempurna yang unik. Well, mereka yang menderita itu mungkin akan merasa seperti itu. Tapi tetap, dia adalah gadis yang sangat manis.”
Manis dalam hal apa?
Itulah yang ada di pikiranku, sambil menggoyang-goyangkan kepalaku dalam pikiran.
“Dia juga punya semacam ‘penyakit’ itu. Dia gadis yang baik dan berbuat benar. Tapi lingkungan sosial sekitarnya tidaklah baik dan benar. Aku yakin dia menjalani kehidupan yang sangat berat.”
“Kalau mengesampingkan fakta dia bertindak benar dan baik, saya yakin kalau mayoritas sosial sekitar akan setuju dengan Anda.”
Setelah mengatakannya, Buk Hilda melihat ke arahku seperti mengatakan ‘itulah yang kupikirkan tadi’.
“Seperti yang kuharapkan, kalian berdua ini cocok satu sama lain. Aku khawatir dengan fakta bahwa kalian berdua tidak bisa beradaptasi dengan sosial sekitar. Oleh karena itulah aku ingin mengumpulkan kalian berdua di tempat yang sama.”
“Bukankah itu sama saja dengan ruangan isolasi?”
"Yeah, mungkin begitu. Aku suka mengawasi siswa seperti kalian berdua, sangat menyenangkan. Jadi mungkin ... aku ingin kalian berdua bisa menjadi dekat.”
Dia mengatakannya dengan senyum yang bahagia.
Lalu, seperti biasa, dia mengunciku dengan lengannya. Dia mengunciku dengan lengannya di sekitar pinggangnya sehingga aku tidak bisa kemana-mana. Gerakan beladiri campuran ini mungkin diinspirasi dari Yip Men. Meski siku milikku ini membuat bunyi yang cukup gaduh, tapi tetap bisa menyentuh dada Buk Hilda yang besar.
.... Ya ampun. Seperti biasanya, aku berpura-pura kesulitan untuk kabur setelah dia menggunakan gerakan yang sempurna ini. Disisi lain ini menyenangkan, tapi harusnya ini tidak boleh lama-lama karena bisa berbahaya bagi perasaan.
Tidak, sebenarnya aku sudah tidak berminat soal ini.
__ADS_1
Dan sesuatu baru saja terpikirkan olehku, karena dadanya ada dua, kata ‘bust’ harusnya dibuat jamak menjadi ‘busts’.