Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah

Pembunuh Bayaran Lanjut Sekolah
Isabella Rosenberg : Teman?


__ADS_3

Dunia ini begitu sempurna. Namun, kenapa banyak sekali sampah yang berserakan di dalamnya? Bukankah dunia ini sama saja seperti kantong sampah?


Kisah yang bermula karena diselamatkan oleh seseorang akan berakhir dengan bahagia.


Namun, apa yang terjadi dengan kisah kami?


Aku tidak diselamatkan olehnya, begitupula dia.


Kami hanyalah orang yang terhubung dalam suatu insiden.


Dia bukan teman, tapi dia lebih tulus daripada apa yang disebut teman.


Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah bagian dari pengalaman cinta pertamaku. Cinta pertama itu tidak ada. Gadis seperti diriku ini, memang tak pantas untuk mendapatkannya.


Jauh ....


Lebih jauh lagi ....


Aku melihat kenangan itu. Dimana asal mula dari semua ini. Ini adalah kisah yang sangat tak menyenangkan antara 2 orang yang tidak saling kenal namun satu diantara mereka, menyimpan sebuah rahasia dari ketidaksengajaaan di malam itu.


9 tahun yang lalu ....


♦♦♦


(Isabella Rosenberg POV)


Di halaman belakang kediaman keluarga besar Rosenberg.


Langit malam yang dipenuhi bintang nan jauh di angkasa sana, aku berjalan di bawahnya dengan perasaan yang sedih.


Namaku, Isabella Rosenberg. Aku berasal dari keluarga Rosenberg yang termasuk dalam kategori "7 Keluarga Besar" dalam tatanan negeri ini. Sebagai anak ke-3 dari Fillan Rosenberg, aku selalu mendapatkan perlakuan tak adil dari anak-anaknya yang lain karena faktor usia dan siapa ibu kandungku.

__ADS_1


Aku terlahir dari pasangan seorang bangsawan dan gadis malam. Selama 9 tahun ini, mereka selalu memanggilku dengan sebutan "Anak Haram". Lebih buruknya lagi, aku selalu mendapatkan perlakuan keras dari anak-anak Ayah yang lain.


Kulitku yang penuh dengan memar biru ini sudah tak nyaman untuk dilihat. Tubuhku yang terus merasakan nyeri setiap menerima siksaan dari saudaraku, meronta-ronta kesakitan. Namun, saat sudah terbiasa seperti ini, aku hanya melakukan apapun yang kumau sepuasnya hingga malaikat maut menjemput jiwa busuk ini.


Aku ini "Anak Haram", bukan?


Jadi, tidak ada salahnya mengatakan bahwa jiwaku sudah busuk.


Setelah beberapa kali mengamati halaman belakang rumah, aku mendengar suara orang yang sedang meraung kesakitan.


"Ughhh .... "


Perlahan aku mendekati suara itu.


"Auughhh ...."


Tidak jauh dari sana, terlihat ada seorang anak pria sedikit lebih tinggi dariku dan umur kami bisa saja sama.  Tapi ada hal ganjil yang tidak akan pernah bisa diterima oleh akal sehat. Di tangan kirinya, terdapat sebuah pisau dapur dan di bawah injakan kakinya ....


"A-ayaahhh!!!" teriakku.


Langsung saja aku berlari mengejar mereka namun hal yang seharusnya adalah mimpi, terjadi padaku.


Tap tap tap


Anak itu berlari dengan sangat cepat tanpa suara dan memukul perutku. Membuatku pingsan dengan perlahan namun lembut. Tak lupa juga saat kulihat wajahnya, sangat disayangkan wajah itu tertutupi oleh topeng dengan bentuk kepala singa putih.


"Auugghh."


"Maaf, aku akan tinggalkan kamu disini dan urusanku dengannya belum selesai. Jadi, tunggu saja di sini," begitulah ucapnya sebelum kesadaranku mulai perlahan menghilang.


♦♦♦

__ADS_1


Penglihatanku yang masih gelap, tubuh yang masih lemah. Namun, kepalaku merasakan tempat yang cukup nyaman. Dan juga elusan lembut dari tangan itu, membuatku merasa nyaman.


Tanpa membuka mataku, aku memberanikan diri bertanya kepada anak itu.


"Apa kita seumuran?"


Dia sama sekali tidak menjawab namun masih mengelus kepalaku.


" .... "


"Lalu kenapa?"


Air mata mulai mengalir dari mata hingga ke pipiku.


Bukannya memberikan jawaban, dia malah balik bertanya.


".... Apa kamu punya teman?"


"Tidak," jawabku singkat.


"Carilah teman dan orang-orang yang baik, kamu adalah orang yang baik."


"Kenapa kamu membiarkanku hidup?"


Genggaman tanganku terasa sangat erat dan ingin melancarkan satu pukulan ke wajah baj*ngan itu.


"Karena kita sama."


Sama?


Aku dan dia?

__ADS_1


Dengan pembunuh itu?


Jantungku mulai berdetak tak karuan. Detakannya semakin cepat saat elusan dari tangan itu terus berlanjut. Perlahan genggamanku menjadi lemah dan aku tenggelam ke dalam lautan tidur di bawah langit yang penuh dengan berbagai macam bintang.


__ADS_2