
Namaku, David. Aku hidup sebagai yatim piatu dan dibesarkan oleh sebuah organisasi rahasia. Dari bayi hingga aku berumur 6 tahun, mereka akan memperlakukanku seperti anak yang butuh perhatian orang tua.
Saat aku berumur 7 tahun, di situlah semua penderitaan yang sebenarnya bermula.
- David
♦♦♦
(Sudut Pandang Kedua, teman sekamar David)
Di sanggar Pelatihan Tarung Intensif milik organisasi.
Seperti biasa, kami menjalankan latihan yang cukup ketat. Di sini kami diajari bagaimana caranya untuk bertahan hidup dalam keadaan yang ekstrem. Semua orang, termasuk diriku dan David mengikuti "Latihan Neraka" ini.
Di depan kami, terdapat seorang instruktor— tuan Gilbert— yang bertugas untuk melakukan pelatihan kepada setiap anak yang hadir dalam kelasnya. Setiap jam kelasnya, ia akan meneriaki kami agar selalu mengingat setiap aturan yang dia ajarkan. Tentu saja tidak semua orang bisa mengingatnya dengan sangat mudah, termasuk diriku.
Semua orang saat ini sedang lari kelilingan lapangan dengan panjang keliling 1000 meter ini selama 3 jam penuh. Dari berbagai sudut lapangan, terdapat beberapa anggota medis yang sudah siap siaga untuk keadaan darurat. Sedangkan tuan Gilbert di tengah sambil meneriaki anak-anak yang sedang berlari.
"Anak-anak sialan, sebutkan peraturan pertama!" teriaknya.
__ADS_1
Segera kami semua berteriak sambil berlari.
" "Pertama, jangan pernah mempercayai orang lain!" " sahut kami serempak.
Tanpa memikirkan apa kami sudah kelelahan atau tidak, tuan Gilbert masih melanjutkan.
"Kedua!!!"
" "Pikiran yang jernih adalah kunci utama kesuksesan!!!" "
"Terakhir!!!"
" "Bunuh target tanpa ampun!!!" "
Tuan Gilbert masih melanjutkan pelajarannya sambil berteriak dengan nada yang sangat tegas dan lantang.
"Itu benar! Kalian adalah harapan kami! Menjadi pembunuh .... "
Kebanyakan dari kami yang sedang berlari, tidak pernah mendengarkan ucapannya secara menyeluruh dan terus berlari saja. Siapa yang peduli dengan apa yang dia ucapkan selama kami aman, begitulah yang dipikirkan anak-anak seperti kami. Tidak ada yang tahu kapan gelap itu akan menjadi terang, begitu pula nasib kami, tidak ada yang tahu kapan kami akan merasakan apa itu kebebasan.
__ADS_1
Seseorang yang berada di sebelahku— David—, mengeluh sambil memasang wajah yang konyol seakan mengejek tuan Gilbert.
"Hey, pembunuh juga butuh istirahat juga kali!" ujar David yang kesal namun wajahnya tak terlihat lelah sama sekali.
"Hentikan, nanti kamu ditegur lho, Vid!" tegur anak yang ada di sisi lain sebelahnya.
"Biarin, yang penting kita sueenaaanggg!" David mempercepat larinya dan meninggalkan kami.
"Huuh ... dasar monster," ucap anak yang tadi menegurnya.
Kurasa dia ada benarnya juga, belakangan ini performa David mulai berkembang dengan sangat cepat dari kebanyakan orang. Selain itu, dia juga anak yang ceria dan mudah bergaul dengan semua orang. Namun, dibalik keceriaannya itu, aku bisa melihat sesuatu yang sangat dalam.
Jika aku mengambil kalimat yang sering aku baca di buku perpustakaan.
Janganlah melihat ke dalam jurang, suatu saat kau akan dilahap habis olehnya.
Awalnya aku meragukan itu namun setelah melihat tatapan matanya, aku sadar bahwa itulah yang disebut jurang. Di mana tempat itu adalah hal tergelap dari dalam sisi seseorang dan hanya bisa kau dapatkan saat melihatnya secara langsung. Aku tidak tahu apa yang telah diderita anak itu, tapi aku yakin dia adalah anak yang sangat kesepian setelah beberapa kali mengamatinya.
David, aku harap kamu tidak akan tertelan oleh jurangmu sendiri.
__ADS_1
Karena di dalam jurangmu, terdapat banyak sekali kegelapan yang sangat pekat.
Dan kegelapan itu akan mengurungmu selamanya.