
“Jadi biar kutebak, bahkan kelas memasak merupakan sebuah trauma bagimu?”
Entah mengapa aku dipanggil ke ruang guru meski aku sudah menyerahkan laporan tentang masakan sebagai hukuman karena bolos kelas memasak.
Ini membuatku mengalami semacam deja vu.
Kenapa menggangguku dengan masalah seperti ini, Buk Hilda?
“Buk Hilda, bukankah Anda ini guru ekonomi saja awalnya?”
“Aku juga menjabat sebagai guru konseling. Pak Harris meminta bantuanku untuk menangani masalah konseling siswa.”
Akupun melihat ke salah satu sudut ruangan dan melihat Pak Harris sedang menyirami tanaman hias dengan wajah gembira. Buk Hilda menatapnya sebentar dan kembali lagi ke arahku.
“Pertama, aku ingin mendengar alasanmu bolos kelas memasak. Ceritakan secara ringkas!"
“Well, saya hanya tidak begitu mengerti mengapa saya harus berpartisipasi di kelas memasak bersama dengan siswa yang lain.”
“Jawabanmu itu sangat tidak masuk akal bagiku. Tuan Kall, apa sebegitu menyakitkannya memasak bersama orang lain? Ataukah karena tidak ada satupun orang yang mengajakmu ke grup mereka?”
__ADS_1
Buk Hilda menatapku seperti mengkhawatirkan sesuatu.
“Tidak, tentu tidak. Apa yang sedang Anda bicarakan? Bukankah ini tentang pelatihan memasak? Dengan kata lain, pelatihan itu tidak ada gunanya jika tidak ada kaitannya dengan kegiatan memasak di kehidupan nyata. Ibuku saja memasak sendirian. Dengan kata lain, memasak adalah sebuah kegiatan yang harus dikerjakan sendirian! Secara tidak langsung, melatih siswa untuk memasak secara berkelompok adalah sesuatu yang salah!”
“Apa yang barusan kau katakan dan apa yang sedang kubahas ini adalah sesuatu yang berbeda.”
“Buk Hilda! Apakah Anda hendak mengatakan kalau yang dilakukan Ibuku itu salah?! Saya rasa itu tidak bisa dimaafkan! Saya rasa tidak ada artinya jika kita membahas ini lebih lanjut! Saya permisi dulu!”
Akupun berpamitan dan membalikkan badanku, berusaha meninggalkan tempat ini.
“Hei! Jangan mencoba untuk membuatku terlihat seperti orang jahat ketika ini harusnya menjadi adegan dimana aku yang marah!”
Buk Hilda mendesah kesal, menggulung laporanku, dan memukul-mukulkan benda itu ke telapak tangannya.
“Oke, laporanmu di bagian ‘Bagaimana membuat nasi goreng yang enak’ kurasa tidak masalah. Masalahnya muncul setelah itu. ‘1.Buang kulit bawang. Lalu iris kecil-kecil. Persis seperti bagaimana manusia rendahan yang dengan mudahnya dipengaruhi tingkat ekonomi orang lain, irisan tipis bawang itu dengan mudahnya merusak rasa’. Siapa yang menyuruhmu mencampurkan sarkasme di laporan? Apa maksudmu derajat orang yang miskin itu hina?”
“Buk Hilda, tolong jangan memasang ekspresi kesal kalau itu adalah kata-kata yang bagus. Saya merasa malu dilihat Buk Hilda dari tadi.”
“Meski aku tidak ingin membaca ini, kurasa kau sudah tahu apa yang akan kukatakan setelah ini. Kau harus menulis ulang dan memberikannya lagi kepadaku!”
__ADS_1
Buk Hilda terlihat terkejut dengan kata-kataku, lalu dia menaruh rokok di bibirnya.
“Kau sendiri bisa masak?”
Dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan sambil memberikan kembali laporanku.
Well, sebenarnya ini pertanyaan yang cukup mengganggu. Siswa SMA jaman sekarang harusnya bisa memasak, setidaknya memasak indomie goreng.
“Ya. Dengan mempertimbangkan rencana masa depanku, tentunya aku bisa memasak.”
“Apa kau akan berencana untuk hidup mandiri setelah lulus SMA?”
“Bukan, bukan begitu, Buk Hilda.”
“Hmm?”
Buk Hilda memasang ekspresi penuh tanda tanya dan mengatakan ‘memangnya kenapa?’.
“Karena memasak itu adalah skill yang harus dimiliki oleh suami rumahan.”
__ADS_1
Setelah mendengarkan jawabanku, dia hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya, dua hingga tiga kali.